BREAKING NEWS
Pemkab Keerom dan BPJS Teken MoU, Proteksi Masyarakat
Pangdam Perintahkan Babinsa Lakukan Sosialisasi Pentingnya Imunisasi dan Hidup Sehat
Sebarkan Tim Ke 8 Distrk di Asmat, Danrem 174/ATW Pastikan Penanganan Langsung Dilakukan
Pertamina Regional VIII Alokasikan Rp. 1,8 Miliar Untuk Bantu Asmat
Sub Denpom Ditingkatkan Jadi Denpom, Mabes TNI – AD Akan Bangun Dermaga Denbekang di Gudang Arang Merauke
Tali Asih Kodim 1709/Yawa, Dandim Bantu Material Rehab GKI Kampung Karoipi
Kukuhkan Timsesnya, JOHSUA Ajak Koalisi Papua Cerdas Bangun Papua Dengan Satukan Perbedaan
Kontroversi Tudingan Ijazah Palsu Sang Calon Gubernur
Diduga Ada Kongkalikong Antara Dukcapil dan KPUD, Terkait Jumlah e-KTP di Mamteng Jelang Pilkada 2018
Wabah Campak dan Gizi Buruk di Asmat, Kodam XVII/ Cenderawasih Turunkan 53 Paramedis, 6 Ton Alkes dan Sembako
Pemprov Papua Ngaku Sudah 17 Miliar Dikucurkan Untuk Bayar Hak Ulayat Lokasi Jembatan Holtekamp
Akankah John R. Banua – Marthin Yogobi Jadi Calon Tunggal di Pilkada Jayawijaya 2018 ?
Hilirisasi Tambang Dorong Indonesia-sentris
JWW-HMS Membaca Headline Freeport & Koroway
Ada Perjanjian Rahasia Dibalik Jatah 10% Saham Freeport Untuk Papua ?
Berkas Cagub – Cawagub Papua Sudah di Meja DPRP, Uji Keaslian Orang Papua, MRP Rencana Wawancara Dengan ‘Bahasa Ibu’
Calon Tunggal Yang Tak Tertandingi
JWW Ajak Relawannya Patahkan Prediksi Kerawanan Konflik di Papua Selama Pilgub
Jalani Tes Kesehatan 5 Jam, Wetipo Ingatkan Tim Dokter Jangan Mau di Intervensi
Banjir Air Mata Mengantar Bupati Keerom ke Peraduan Terakhir

Noken Papua, Warisan Budaya Dunia Yang Masih Jadi Penunggu Emper Jalan

Sejak 4 Desember 2012, noken, tas rajutan khas Papua ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Lukas Enembe melalui Instruksi Gubernur Papua Nomor 3 Tahun 2014 per 30 Desember 2014 juga mewajibkan semua PNS di Papua pake’ noken tiap hari Kamis. Benhur Tomy Mano (BTM) Walikota Jayapura, per 28 Oktober 2015 malah mewajibkan PNS di Pemkot pake’ noken di hari Kamis dan Jumat. Sayangnya pejabat kita masih lebih bangga gunakan tas bermerk dengan harga jutaan, ketimbang menggantung noken di pundak mereka yang hingga kini hanya jadi penghias emper jalan.

Oleh : Walhamri Wahid

Tangan – tangan kurus itu terlihat lincah memilin serat kulit kayu beralas bagian bawah pahanya yang terlihat kapalan karena sering dijadikan bantalan untuk memintal serat kayu menjadi benang rajutan untuk bahan dasar pembuatan noken, tas rajutan khas Papua yang sudah mendunia itu.

“mama sudah mau 5 tahun berjualan noken di sini, yang sering beli lebih banyak mahasiswa, pelajar atau tamu – tamu dari luar Papua, jarang PNS apalagi pejabat, kalau benar PNS di Papua ini diwajibkan gunakan noken, mama senang sekali, pasti banyak mama pu’ noken yang laku, tapi faktanya selama ini sebulan bisa laku 2 atau 3 saja sudah lumayan”, kata Ana Nawipa kepada lingkarpapua.com di pinggir jalan tanjakan Ale Ale, Padang Bulan, Jayapura, Rabu, (22/3/2017) pagi.

Tempat jualan Ana Nawipa yang tidak mengetahui pasti berapa umurnya itu bukanlah di sebuah butik berkelas, atau kios handicraft beratap, tempat produksinya sehari – hari hanyalah sebuah dipan dari papan beratap rindangnya pepohonan.

Sedangkan outlet tempat pajang noken jualannya hanyalah beberapa bilah balok 5 x 5 yang di buat ala kadarnya layaknya tiang jemuran dengan paku – paku karat sebagai cantolan noken.

Debu dan asap knalpot adalah menunya sehari – hari sejak pukul 08.00 hingga pukul 17.00 WIT, hingga beberapa nokennya yang berwarna putih atau warna terang lainnya terlihat kumal dan berdebu, mirip kain pel karena terkena panas dan debu berhari – hari bahkan bisa hitungan bulan baru laku.

Baca Juga:  Dongkrak Komoditas Lokal, Habis PNPM Pertanian, Terbitlah PPDM

“mama dulu punya kebun kangkung di jalan baru Abepura, tapi karena pengusaha dong su’ bangun pertokoan semua jadi rawa – rawa di situ di sulap jadi bangunan ruko, makanya mama harus putar otak cari jalan agar bisa sambung hidup dan ongkosi mama punya dua anak yang masih kuliah”, tutur Ana Nawipa yang merupakan janda dari Pitalis Degey (alm) yang telah mangkat 17 tahun silam.

(Baca Juga : Budaya Asmat, Harta Warisan Yang Terabaikan)

Ia mengaku tinggal di Santarosa, Kota Jayapura, setiap pagi ia harus berganti angkot untuk sampai ke tempat jualannya di Tanjakan Ale Ale, Padang Bulan, Abepura. Bila ada penghasilan hari itu, sorenya ia kembali pulang ke rumah peninggalan suaminya yang dulunya adalah PNS Dinas Sosial Provinsi Papua.

“kalau mama ada uang ongkos yah mama pulang, tapi kalau tidak ada noken yang laku, mama biasa nginap di atas, ada keponakan punya rumah yang biasa mama numpang istirahat”, kata Ana Nawipa sambil menunjuk ke bagian belakang lokasi jualannya, ke arah bukit dimana keponakannya, yang juga adalah istri dari Matius Murib, salah satu komisioner Komnas HAM Perwakilan Papua tinggal.

Ia mengaku sudah lima tahun ini menghidupi dua putrinya dari hasil jualan noken, Norlince Degey yang saat ini kuliah semester akhir di Universitas Ottow Geisler Kotaraja, dan Alvince Degey yang juga masih menempuh studi di Universitas Cenderawasih.

“mau usaha apa lagi, kebun kangkung dong su rampas, mau buka kebun juga mama tidak ada lahan, makanya mama jualan noken, dan noken – noken ini semua selain mama yang buat, mama punya anak perempuan dua itu yang buat di rumah sepulang kuliah”, kata Ana Nawipa yang mengaku sedang pusing karena anak pertamanya sedang susun skripsi dan membutuhkan biaya yang besar, tapi sudah seminggu lebih belum ada noken yang laku.

(Baca Juga : Cerita Dibalik Simbol Ukiran Asmat)

Harga noken yang ia tawarkan bervariasi, mulai dari noken ukuran kecil dengan harga Rp. 30.000 hingga Rp. 600.000 dengan beragam motif dan kreasi warna.

Baca Juga:  Hadir Bukan Untuk Jadi Pesaing Gapensi, Fransiskus Mekawa Pimpin Gapeksindo Keerom

“harga juga tergantung bahan, kalau pake benang rajutan pabrik agak murah, paling mahal Rp 300.000, tergantung ukuran, kalau berbahan serat kayu asli, paling murah Rp. 200.000, paling mahal Rp. 800.000 tergantung ukuran juga, untuk noken asli serat kayu itu noken untuk orang kaya, tapi jarang yang di beli, sesekali saja, yang paling laris noken berbahan benang rajutan dengan motif “bintang kejora”, yang sering di beli anak muda”, katanya lagi.

Selama berjualan noken dengan motif “bintang kejora”, ia mengaku tidak pernah di intimidasi atau didatangi aparat.

“itu hanya motif garis biru dengan gambar bintang merah, mama buat karena permintaan dan selera pasar saja, tra’ ada muatan politis dan lain – lain, karena bagi mama, bagaimana bisa dapat uang untuk makan, bayar angkot, dan ongkosi anak dua punya uang kuliah”, katanya lagi.

Ana Nawipa mengaku hingga kini belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari Pemerintah Daerah, baik Provinsi maupun Pemkot, ia juga mengaku tidak mengetahui bagaimana caranya bisa dapat bantuan, bahkan ia takut pergi minta bantuan, apalagi bikin proposal.

(Baca Juga : Misteri Ukiran Asmat)

“bagi mama itu tidak dapat bantuan tra’ papa’, asal pemerintah dorang beli mama pu’ jualan saja itu sudah cukup, karena mama juga takut ke kantor pemerintah apalagi mau kasih masuk proposal minta bantuan, ini semua modal sendiri saja, karena beli benang dan rajut tangan saja, tidak butuh modal besar, asal sabar dan telaten saja”, katanya lagi sambil tertawa.

Untuk menyelesaikan sebuah noken berbahan benang dibutuhkan waktu antara 3 sampai 1 minggu, sedangkan untuk noken berbahan serat kayu asli membutuhkan waktu lebih lama bisa 2 minggu bahkan 1 bulan.

“sambil tunggu jualan disini mama bikin nokennya, kalau yang bahan benang itu biasa anak perempuan buat di rumah, kalau bahan serat kayu memang agak sulit, karena kita harus pi’ cari kulit kayu dulu, anyam dia, jadi benang baru jadi noken”, kata Ana Nawipa sambil memperlihatkan noken separuh jadi yang sedang dalam pengerjaannya.

Noken, sebagai salah satu kekayaan budaya Papua sebenarnya sudah diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia Yang Tak Bergerak oleh UNESCO salah satu badan di PBB yang mengurusi masalah pendidikan, keilmuan dan kebudayaan di Paris pada 4 Desember 2012, dimana proses pengakuan tersebut tidak bisa dilepaskan dari perjuangan sosok Titus Pekey sebagai penggagasn, peneliti di Lembaga Ekologi Papua.

Baca Juga:  Akhirnya BTM Kecantol ‘Pohon Beringin’ ?

Dimana ketika itu Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Wiendu Nuryanti menjanjikan akan menggadeng sejumlah desainer untuk menjadikan noken sebagai bahan ataupun accessories dalam karya – karya fashion sehingga mendongkrak nilai jual noken dan bisa berdampak bagi peningkatan pendapatan pengrajin noken di Papua.

Bahkan di tingkat Provinsi, Gubernur Papua, Lukas Enembe melalui Instruksi Gubernur Papua Nomor 3 Tahun 2014 tertanggal 30 Desember 2014 juga telah mencanangkan wajib menggunakan noken bagi semua PNS di Papua.

Demikian halnya di Pemkot Jayapura, Benhur Tomi Mano (BTM) selaku Walikota Jayapura, 28 Oktober 2015 juga telah mencanangkan wajib noken bagi PNS di lingkungan Pemkot tiap hari Kamis dan Jumat.

Namun semua kegiatan ceremony dan regulasi yang dibuatkan itu hanyalah sebuah lip service belaka, yang terdengar manis di mulut, namun tidak cukup kuat untuk “memaksa” pejabat dan PNS yang ada di Papua menggunakan noken sebagai salah satu atribut keseharian mereka baik dalam tugas di kantor maupun sehari – hari.

Pejabat – pejabat kita maupun keluarganya masih lebih bangga mengenakan tas – tas merk terkenal berbahan kulit buatan luar negeri dengan banderol jutaan rupiah ketimbang mengenakan noken sebagai symbol kebanggaan akan budaya Papua, kalah gengsi katanya.

(Baca Juga : Agats, Kota Pengukir Diatas Bilah Papan)

Noken masih jadi kebanggaan orang pinggiran dan kalangan bawah, padahal bila ribuan PNS di seluruh Papua ini benar – benar diwajibkan mengenakan noken, betapa pendapatan pengrajin noken akan naik secara signifikan, dan mereka tidak akan hanya menjadi penghias emper toko ataupun pemanis di pinggir jalan, bahkan bisa bertengger di etalase butik dan took modern yang mulai marak tumbuh di Papua saat ini. (***)

Berikan Komentar Anda

window.dataLayer = window.dataLayer || []; function gtag(){dataLayer.push(arguments);} gtag('js', new Date()); gtag('config', 'UA-99127098-1');
close