Melihat Lebih Dekat Nasib Perempuan dan Tingginya Kasus KDRT di Asmat

foto perempuan asmat
foto perempuan asmat

“HIDUP DENGAN LAKI – LAKI BIKIN SAYA LAPAR SAJA”

Dua kali hidup serumah dengan lelaki dalam rumah tangga meski tanpa surat nikah, dua kali pula ia harus menerima deraan siksa dan tekanan bathin akibat ditelantarkan “sang suami” membuat Bibiana memilih tinggal dengan keluarganya. Karena rumah tangga baginya adalah neraka.

Oleh : Amelia Rizky/Walhamri Wahid 

Sungguh malang nasib Bibiana Siwir dimana luka hati akibat 2 kali gagal berumah tangga membuatnya tidak ingin lagi berhubungan serius dengan laki-laki. Baginya membina rumah tangga hanya akan membuat dirinya semakin menderita.

Perlakuan tidak wajar dan berbagai kekerasan yang dilakukan dua suami tanpa surat nikah membuat dirinya tidak berfikir untuk mengenal laki-laki. Traumatik akibat kekerasan dalam rumah tangga membuat salah seorang anak lelakinya meninggal membuatnya berfikir ribuan  kali untuk melirik dan menyukai lelaki.

“Hidup dengan laki-laki hanya bikin saya lapar saja, lebih baik hidup dengan orang tua saya kenyang terus,”ujarnya Kamis (5/12/2013) siang ketika SULUH PAPUA menyambangi rumahnya di kampung Mbait, Agats, Kabupaten Asmat.

Baca Juga:  Akhirnya Lanny Jaya Punya Dua SPBU Kompak Satu Harga, Jatahnya Premium 30 KL, Solar 10 KL

Bibiana yang tidak mengetahui pasti berapa umurnya menceritakan kisah sedihnya. Didampingi ibunda dan saudara-saudaranya, ia menuturkan bahwa ia sudah dua kali hidup dengan laki-laki.

“sa’ laki pertama dia kelakuan paling tidak baik sekali, cari makan sendiri baru dia kasih tinggal sa’ lapar dirumah dengan anak-anak. Dia tra’ pernah tanggung jawab saya. Sudah ada anak dua dia kasih tinggal saya untuk kawin perempuan lain ,”ungkapnya.

Dua anak yang ditinggalkan oleh suami pertamanya membuat Bibiana harus rela memberikan anak pertamanya yang kini berumur 8 tahun tinggal dengan tantenya yang diangkat menjadi anak sementara anak keduanya tidak dapat melihat indahnya dunia lebih lama.

Tidak selang beberapa tahun, Bibiana kemudian menikah kembali tanpa surat nikah dari Catatan Sipil dengan seorang pria dari kampung lain. Nasib serupa dialaminya sama dengan kehidupan sebelumnya dengan laki pertama.

“Sa’ laki kedua dia sifat sama juga, sering buat sa’ kelaparan. Sa’ yang cari makan untuk kasih makan keluarga sementara dia hanya keluyuran dan cari makan untuk sendiri saja. Dia kasih sa’ anak satu baru dia buat sa’ hidup susah saja. Makanya sa’ Mama dan Bapak panggil pulang tinggal dengan dorang kembali dirumah. Sa’ lebih enak sekarang,”ungkapnya.

Baca Juga:  Lusa, Tiga Gugatan Pilkada Yapen Sidang Awal di Mahkamah Konstitusi

Sementara itu, dari laki keduanya Bibiana mendapatkan seorang anak laki-laki yang kini dipelihara sebagai anak oleh orang tuanya. Pengalaman sedih Bibiana tentang rumah tangganya juga dirasakan beberapa perempuan yang ada dikampung Mbait.

“Di kampung sini banyak perempuan-perempuan yang dia sudah tidak tinggal lagi dengan dorang punya laki. Abisnya dorang laki – laki hanya tau mabok dan tra pernah kasih uang. Lebih baik hidup begini aja lebih enak,”katanya.

Kasatreskrim Polres Asmat Ipda. Tabah mengatakan bahwa tingkat KDRT memang tinggi di Kota Agats. Rata-rata mereka yang menjadi korban KDRT itu tidak memiliki pendidikan berumah tangga yang baik.

Mereka juga kebanyakan tidak menikah secara sah hanya suka sama suka lalu hidup dalam satu rumah. Terjadinya KDRT diakibatkan karena pelaku tersebut mabuk sehingga tindak kekerasan kepada istri mereka akan terjadi.

Baca Juga:  Pilgub Papua, ‘Gawean Demokrasi’ Pecah Belah ?

“Kebanyakan mereka yang mendapat kekerasan dalam rumah tangga datang melapor ke polisi, jika akan ditindak korban kemudian mencabut laporan. Alasannya karena mereka tidak mau hidup sendiri dan juga takut anak-anaknya terlantar,”jelasnya.

Selama ini polisi selalu berusaha menyelesaikan masalah KDRT melalui jalur kekeluargaan dan meminta dengan surat pernyataan agar pelaku KDRT tidak melakukan tindakkan lagi. Jika dilakukan kembali akan dikenakan sangsi hukum sesuai dengan undang-undang KDRT. Namun, banyak diantara mereka yang kembali mengulang berbuatannya lagi memukul istri bahkan ada yang sampai membunuh.

“Masalah KDRT yang sampai ke rana hukum hanya ada 3, tetapi paling banyak hanya sampai di pos penjagaan saja. Penyelesaian masalah KDRT disini ya terselesaikan begitu saja, karena pihak yang melapor kebanyakkan membiarkan aksi-aksi tersebut,”tandasnya.(***)

Berikan Komentar Anda