Modalnya Loyalitas pada Pimpinan, Taat Aturan, dan Kerja Dengan Hati

Drs. Gregorius Tuantana Dosinaen, Sekda Asmat

Bincang – Bincang Dengan Drs. Gregorius Tuantana Dosinaen, Sekda Asmat

Bertahun – tahun mengabdi di pedalaman, prinsipnya dalam bekerja adalah bersungguh – sungguh dan melayani dengan hati. Saking betahnya di pedalaman ia sampai terlambat untuk “mengenal cinta” dan menikah. Kerja keras, loyalitas, dan pengorbanan keluarga hingga karirnya mengalir seperti air, dari bawah hingga di level tertinggi seorang PNS.

Oleh    : Walhamri Wahid

Sosoknya ramah dan terbuka dengan siapapun dan selalu berprinsip untuk melayani, namun kalau bicara soal aturan kadang tidak ada toleransi baginya tapi kalau untuk kepentingan masyarakat tidak ada keraguan pula baginya untuk mengambil kebijakan walaupun itu mendapat tentangan dari banyak pihak.

“kalau untuk masyarakat kenapa kita harus takut mengambil kebijakan meski mendapat tentangan dan tidak disukai orang, kecuali untuk kepentingan pribadi atau kelompok itu baru salah, jadi saya punya prinsip berpegang teguh pada azas dan aturan yang ada, itu saja”, kata Gregorius memulai bincang – bincang di rumah dinasnya yang mungil nan asri di kompleks perumahan Pemda Asmat di Agats.

Gregorius Tuantana Dosinaen, itulah nama lengkap lelaki kelahiran Adonara Flores tahun 1962, namun karena alasan administrasi dan terlalu panjang sehingga yang tercatat di akta kelahiran maupun dokumen – dokumen lainnya hanya tertulis Gregorius Tuantana.

“Tuantana itu bukan saya punya marga, marga saya sebenarnya Dosinaen, karena alasan administrasi sehingga di sesuaikan saja hingg kini”, jelasnya sambil tertawa lebar sambil menghisap rokok putih di tangannya dalam – dalam.

Sepanjang karirnya ia habisnya di pedalaman mulai tahun 1990 ia mengabdi di Kecamatan Atsj, tahun 1997 menjadi Sekwilcam di Kecamatan Akat, pernah juga bertugas di Okaba hingga kembali lagi menjadi Camat Akat Kabupaten Asmat tahun 2003.

Baginya menjalankan tugas sebagai PNS merupakan komitmennya untuk membayar apa yang sudah negara keluarkan untuknya saat menempuh pendidikan sejak masih di APDN sampai menyelesaikan Magister-nya.

“saya ini terlalu lama bertugas di pedalaman mungkin, jadi bisa di bilang saya terlambat jatuh cinta, karena saya menikah tahun 1999, dan karena tugas di pedalaman itu pula istri saya mengalami beberapa kali keguguran”, kata Ayah dari Alaxsandra Dosinaen (7 tahun) anak semata wayangnya yang kini masih duduk di bangku SD kelas II.

Baca Juga:  52 Pengacara Wakili 6 Aktivis Papua Gugat Pasal Makar ke MK

Namun keluarga sangat memahami jiwa pengabdiannya begitu besar sehingga meski harus terpisah dari keluarga berbulan – bulan, semua tetap mendukungnya, dan karena dukungan keluarga itu pula ia kini dipercaya sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Asmat sejak Oktober 2013 kemarin.

“karir saya mengalir saja seperti air, saya tidak pernah berambisi menduduki jabatan yang ada saat ini, karena prinsip saya adalah bekerja dengan benar, sunguh – sungguh, dan loyal kepada pimpinan, dan semua penilaian saya kembalikan kepada Pimpinan”, kata Gregorius Tuantana Dosinaen yang akrab di panggil “Pak Gorrys” dimana sebelum jadi Sekda ia sempat menjabat Kepala Bappeda Kabupaten Asmat kurang lebih 4 tahun lamanya.

Pengetahuan dan kapasitasnya di bidang pemerintahan maupun sosial kemasyarakatan tidak diragukan lagi, tak heran bila semenjak di lantik sebagai Sekda, beberapa ide brilian dan terobosan telah bermain di dalam pikirannya.

“sejak dilantik, hal pertama yang ingin saya benahi adalah soal penempatan aparatur, karena saya melihat ada ketidak seimbangan penempatana pegawai baik di pemerintahan, bidang kesehatan maupun pendidikan”, katanya

Menurutnya selama ini penempatan aparatur khususnya di distrik tidak merata, padahal distrik ini adalah ujung tombak dari pemerintahan daerah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dimana saat ini banyak staff yang ogah bertugas di distrik yang berada di pedalaman, bukan hanya tingkat staff, di level Kadistrik juga menurutnya masih banyak yang tidak betah di tempat tugas.

“akhir tahun ini kita sudah antarkan 8 Kadistrik ke tempat tugas mereka, dan kami warning untuk benar – benar melaksanakan tugas, tinggal dengan rakyat, bukan berkeliaran di ibukota kabupaten”, kata Sekda mengulang apa yang disampaikan oleh Bupati Asmat Yuvensius Biakai, BA, SH saat melantik Kadistrik beberapa waktu lalu, dan itu menjadi tugasnya untuk memantau kinerja para Kadistrik.

Untuk memotivasi staff betah dan mau bertugas di Distrik selain mendapatkan tambahan insentif, tunjangan beban kerja, dan tunjangan lainnya ia sudah menggagas reward kesempatan tugas belajar (tubel) kepada staff yang betah selama 2 tahun bertugas dengan baik di distrik.

Baca Juga:  Perlukah Tafsir Sosial Baru Terhadap Orang Asli Papua (OAP)

“aturannya tugas belajar itu 4 tahun, tapi buat mereka yang mau tinggal di pedalaman dan melayani di Distrik kita kasih pengecualian, 2 tahun bertugas bisa dapat kesempatan tugas belajar di perguruan tinggi yang sudah ditentukan dan menjalin kerja sama dengan Pemda”, katanya menambahkan bahwa yang mendapat SK di Distrik dan tidak melaksanakan tugas sanksinya, tunjangan beban kerjanya tidak akan dibayarkan.

Selain soal aparatur, hal lainnya yang harus segera dibenahi adalah masalah pelayanan publik di sektor pendidikan dan kesehatan, dimana menurutnya selama ini persoalan mendasar tidak berjalan baiknya pendidikan dasar di Asmat bukan karena ketiadaan infrastruktur namun karena distribusi guru yang tidak merata.

“hampir semua kampung kita sudah banguan fasilitas SD, rumah guru, meubelair, tapi banyak guru – guru di Asmat ini melaksanakan tugas bukan sesuai SK tapi berdasarkan Nota Dinas, jadi guru – guru banyak yang enggan bertugas di kampung – kampung dan terpusat semua di ibukota distrik atau kabupaten”, katanya.

Sehingga mulai tahun 2014 terobosan yang akan ia terapkan adalah membekukan semua Nota Dinas, jadi semua guru harus bertugas sesuai dengan SK Bupati, “saat ini jumlah guru SD sekitar 800 orang, jumlah SD ada 117 sekolah, kalau dibagi rata mestinya per sekolah ada 8 guru, karena tidak ingin bertugas di kampung akhirnya mereka ajukan pindah tugas ke ibukota dengan Nota Dinas, ini tidak benar, masa’ SK Bupati di digugurkan dengan Nota Dinas”, tegasnya.

Untuk itu ia sudah memanggil Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Asmat untuk benar – benar menegakkan aturan ini, dimana saat Kepala Sekolah dilantik, maka SK tenaga pengajar juga harus sudah siap, dan harus segera bertugas, tidak ada alasan lain – lain lagi.

Dan sebagai timbal baliknya, Pemda akan memberikan perhatian lebih untuk membantu kesulitan yang dihadapi oleh guru yang bertugas di pedalaman.

“kita sudah bentuk UPTD di tingkat Distrik, sudah disiapkan speedboat dan juga biaya BBM, jadi gaji guru dibayarkan di tempat tugas, mereka tidak perlu ke ibukota lagi dengan alasan urus gaji”, kata Sekda

Baca Juga:  Perbaiki Standar Penanganan Sanitasi Lingkungan dan Kelanjutan TPA Wembi, Bupati Keerom Tanda Tangan MoU PLP

Selain itu ia juga telah memerintahkan Dinas Perhubungan untuk mengatur jadwal kapal – kapal perintis milik Pemda untuk secara rutin menyambangi setiap kampung dan distriki minimal 2 minggu sekali, sehingga keperluan staff yang bertugas di kampung – kampung bisa terlayani.

“tenaga medis juga sama kondisinya, jadi mereka semua ogah bertugas di pedalaman karena alasan tidak ada komunikasi, sekali ke ibukota harus carter speedboat dengan BBM yang mahal, jadi kalau sekali turun kadang kala lama baru kembali ke tempat tugas, makanya kita berusaha carikan solusinya, jadi bukan hanya kita paksa ke tempat tugas tapi kita juga pikirkan jalan keluar untuk atasi kesulitan mereka”, kata Sekda.

Dan satu terobosan lainnya yang akan diterapkan Sekda Asmat di tahun 2014 untuk memastikan semua pegawai melaksanakan tugas di distrik adalah melakukan “Apel Radio” dan juga menggelar Rapat Koordinasi Kadistrik yang akan digelar 3 bulan sekali.

“jadi semua distrik kita sediakan radio SSB, dan setiap pagi kami akan melakukan apel radio untuk mengecek apakah Kadistrik ada di tempat tugas, dan memantau semua aktivitas pelayanan di wilayah tugasnya atau tidak, dan juga kita akan gelar Rakor tiap 3 bulan untuk menilai kinerja Kadistrik”, kata Sekda.

Soal raskin yang selama ini selalu menjadi satu alasan kenapa Kadistrik meninggalkan tempat tugas berbulan – bulan karena mengurus raskin di Merauke juga sudah dicarikan solusinya oleh Pemda Asmat.

“mulai tahun 2014, pengurusan beras raskin di tangani oleh Dinas Perindagkop, jadi kadistrik tinggal ambil beras raskin di Agats saja, dan membaginya ke masyarakat di kampung – kampung, jadi tidak ada lasan lagi buat Kadistrik tinggal berlama – lama di Merauke”, tambah Sekda, nantinya di setiap Distrik akan dibangun gudang beras, dan juga Pemda akan menyediakan biaya untuk pengurusan dan pengangkutannya, sehingga tidak memberatkan masyarakat lagi. (***)

 

 

 

 

Berikan Komentar Anda