MISTERI UKIRAN ASMAT

Salah satu kekayaan ukir Asmat

Fumeripits leluhur mereka berasal dari kayu yang dipahat menyerupai manusia, yang dihidupkan oleh seekor burung bertuah. Kemudian ia membangun jeuw (rumah bujang) dan tinggal sendiri, karena kesepian ia membuat banyak patung. Saat ia bernyanyi dan menabuh tifa, patung – patung itu berubah wujud menjadi manusia, cikal bakal orang Asmat. Keturunan Fumeripits inilah yang kemudian jadi wow-ipits atau wow iwir, para pengukir Asmat.

Oleh : Walhamri Wahid

Tiga orang lelaki asyik memainkan mata pahat pada segelondongan kayu besi sebesar paha orang dewasa dengan panjang 4 meter dalam capitan kaki mereka masing – masing. Palu dari kayu sesekali memukul keras ke pangkal pahat sehingga mengeluarkan ketokan yang menggema, namun kadang kala lembut membentuk irama dan ritmik magis di tengah katupan diam mulut mereka yang mencoba membungkam “lagu keroncong” yang mulai didendangkan kampung tengah.

“anak ada rokok ka ? Bagi Bapa’ dulu. Bapa’ belum makan dari pagi ini, dong bayar kami murah, hanya Rp 300 ribu per tiang, baru dong tidak kasih makan lagi”, celoteh salah seorang diantaranya saat disambangi penulis beberapa waktu lalu di tepian dermaga kapal fery di Agats, ibukota Kabupaten Asmat.

Ketiganya mengaku mendapatkan “proyek” membuat 12 tiang utama sebuah bangunan di tepi dermaga yang berada tepat di belakang patung Pastor Yan Smith yang berdiri gagah memandang ke arah Kali Aswet yang berwarna keruh, sekeruh nasib dan kehidupan para pemahat Asmat yang seakan tidak berdaya menghadapi keserakahan kontraktor yang menginginkan keindahan ukiran Asmat menjadi bagian dari kemegahan bangunan mereka, namun tanpa perasaan memberikan “upah” yang melecehkan keterampilan si pembuat keindahan itu.

“satu tiang bisa selesai 2 – 3 hari, paling lama 4 hari, kalau dong tahu hargai seni budaya, mereka harusnya bayar kami 1 juta per tiang, atau paling tidak 500 ribu tanggung makan dengan rokok ka !”, celetuk pemahat lainnya dengan nada tinggi dan sedikit jengkel.

Mengukir bagi orang Asmat bukan sekedar karya seni dan membuat pola – pola di atas potongan kayu semata, tapi bagi mereka mengukir adalah sarana berkomunikasi dan menghormati leluhur mereka.

Berdasarkan legenda Fumeripits, patung dan memahat adalah ritual sakral bagi orang Asmat. Setiap ukiran terkandung citra dan penghargaan terhadap leluhur mereka yang disampaikan lewat simbol dan motif dalam ukiran tersebut.

Arwah setiap orang Asmat yang baru meninggal diyakini sedang melakukan perjalanan jauh menuju safar (surga). Namun sebelum sampai kesana mereka akan melalui tempat persinggahan, alam arwah, yang mereka sebut dampu ow campinmi.

Orang Asmat meyakini tiga konsep alam dalam kehidupan mereka yakni alam dunia (amat ow campinmi), alam tempat persinggahan roh atau alam arwah (dampu ow campinmi), dan alam surga (safar).

Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal dan masih berada di alam dampu ow campinmi akan mengganggu manusia, bentuknya bisa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung Bisj, pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat sagu. Konon patung Bisj adalah bentuk patung yang paling sakral dan untuk membuat patung ini biasanya di dahului dengan pesta dan ritual, bahkan masa dahulu disertai dengan upacara pengayauan.

“dalam benak orang Asmat sejati, yang masih memegang teguh adat istiadat leluhur mereka, di dunia ini hanya orang Asmat sendiri saja, manusia – manusia lain yang ada ini, semuanya dianggap sebagai roh saja”, jelas Alfons Thomas Lenokos salah satu tokoh adat Asmat dari Distrik Atsj yang kini menjabat sebagai Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Asmat.

Menurutnya lewat patung atau ukiran itulah orang Asmat melakukan “perekaman” jejak sejarah mereka. Dalam setiap ukiran memikiki cerita sendiri, bisa kisah perjalanan leluhur mereka, pengalaman keluarga, peristiwa yang berkesan lainnya, atau cerita tentang kehidupan alam dunia (amat ow campinmi), alam arwah (dampu ow campinmi), hingga tujuan akhir dari orang Asmat yakni alam sorga (safar).

“patung itu mereka buat sesuai imajinasi, yang di lihat dalam pikiran mereka, bukan asal memahat saja, didahului semacam ritual sebagai medium komunikasi mereka dengan alam lain, jadi ada kekuatan masing di setiap patung dan ukiran”, kata Alfons mengaku dari beberapa bersaudara hanya dia yang tidak memiliki bakat turunan dari orang tuanya yang juga seorang pengukir itu.

Baca Juga:  Mau Tahu Bahayanya Rokok Elektrik ? Ini Penjelasannya !

Ukiran Asmat secara umum mempunyai empat makna, yakni melambangkan kehadiran roh leluhur, ungkapan perasaan sedih ataupun senang, perlambang kepercayaan, serta keindahan dan kenangan terhadap leluhur.

Bila memperhatikan motif dan thema yang ditampilkan dalam karya mereka, ukiran Asmat digolongkan sebagai aliran etnis naturalis karena menampilkan model makhluk hidup dan kehidupan keseharian seperti manusia, perahu, burung, pohon, ikan, buaya, dll sebagai obyeknya.

Masyarakat Asmat terdiri dari 12 sub etnis atau rumpun yaitu : Bismam, Joerat, Unir Sirau, Simai, Emari Ducur, Kenekap, Unir Epmak, Brazza, Aramatak, Becembub, Yupmakcain, dan Safan.

Jenis ukiran ke-12 rumpun bisa di katakan nyaris serupa dalam bentuknya, yakni patung roh / leluhur (Bisj), Perisai (salawaku), topeng roh, tifa, panel, perahu jiwa (wuramon), namun tiap rumpun memiliki ciri khas dan keunikan sendiri dalam motif, ukuran, hingga kisahnya, dan tiap rumpun memiliki keunggulan pada beberapa bentuk bila dibandingkan rumpun lainnya

Misalnya Unir Sirau (Sawa Erma. dll) terkenal dengan ukiran panel, Joerat (Yamas, dll) patung wuramon (perahu jiwa), sedangkan Safan (Pantai Kasuari, dll) terkenal akan ukitan tifa-nya yang artistik, sedangkan Bismam (Agats,dll) & Becembub (Atsj,dll) terkenal dengan patung Bisj (patung leluhur), dan Brazza terkenal dengan ukiran salawako (perisai).

“sebenarnya bukan hanya 12 rumpun, kalau dikaji lebih mendalam ada 13 – 20 rumpun dalam masyarakat Asmat, seperti Sawi, Kaegar, Auyu, bahkan Koroway itu sebenarnya juga masuk suku besar Asmat”, kata Alfons Lenokos, menurutnya hal itu sudah beberapa kali ia sampaikan dalam forum terbuka, dan beberapa tokoh adat mengakui hanya memang perlu kajian mendalam lebih lanjut.

Menurut Emerikus Sarkol Kurator Museum Kebudayaan & Kemajuan Asmat di Agats, keunikan ukiran Asmat adalah tidak ada kesamaan dari setiap karya yang dihasilkan oleh seorang pengukir, dan proses pembuatannya dilakukan seketika itu juga, tanpa pola – pola yang dibuat terlebih dahulu sebagai patokan, semuanya mengalir seperti air dalam alam pikir dan imajinasi pengukir, sehingga eksklusifitas sebuah karya tidak diragukan lagi.

Kalaupun ada sebuah karya yang serupa di pasaran bisa jadi itu adalah ukiran Asmat palsu yang kini marak “dicontek” oleh para pengrajin di luar Papua yang mengetahui bahwa “nilai” ukiran Asmat tinggi di mata kolektor dunia.

“Bentuk boleh sama, misalnya perisai atau panel, tetapi motifnya pasti beda. Jadi kalau Anda memiliki sebuah ukiran Asmat di rumah, berarti di seluruh dunia hanya itu saja, tidak ada samanya”, tegas Alfons juga.

Dahulu kala ukiran – ukiran itu dilahirkan dalam sebuah ritual upacara atau pesta – pesta rakyat yang memakan waktu lama, namun semenjak pesta dan upacara adat itu di larang oleh Pemerintah dengan berbagai pertimbangan ketika itu, patung – patung yang dihasilkan memang lebih berorientasi ekonomis, tapi mereka masih meyakini bahwa karya mereka meski tidak melalui prosesi dan ritual adat namun tetap memiliki nilai magis sebagai penghormatan kepada leluhur mereka.

Zaman dahulu patung – patung yang mereka buat di simpan baik di dalam rumah, ataupun di rawa – rawa dan diberi nama sesuai nama leluhur mereka dengan pasangannya masing – masing. Jadi tidak diukir sembarangan, karena ia diberi nama makanya patung itu dihargai sampai hancur sendiri.

Dari sisi penggunaan alat kerja, yang dahulu menggunakan kapak batu, tulang binatang, dan kulit kerang untuk mengukir serta taring babi, gigi ikan tertentu dan tiram untuk finishing karya mereka kini menggunakan pahat besi, bor, kertas amplas bahkan sudah mulai ada yang menerapkan sistem tempel, menyambung ataupun lem kayu dan baut. Dari bahannya juga kini mengalami pergeseran, dari kayu lunak yang mudah di pahat dan cepat rusak kini menggunakan bahan kayu merbau yang memiliki daya tahan lebih lama.

Lenokos tidak ingin suatu saat kelak ukiran Asmat kehilangan “kemisteriusan”nya, dan tidak ada bedanya dengan karya pematung kontemporer, sehingga tidak ada kesadaran untuk menghargai seni ukir Asmat sebagai sebuah mahakarya naturalis dari sebuah peradaban manusia yang tinggi menjunjung seni dan budaya.

Kondisi tersebut kini tengah terjadi, paling tidak dari kisah 4 pengukir Asmat yang dihargai Rp. 300 ribu per tiang setinggi 4 meter di awal tulisan ini menjadi buktinya. Ketika “nilai spiritual” luntur dan berganti “nilai ekonomis” yang jauh dari kata menghargai ketinggian budaya sebuah suku bangsa. (***)

Baca Juga:  Bupati Keerom: Saat Bencana, RAPI Lebih Cepat Tanggap Ketimbang SKPD

Berikan Komentar Anda

1 Trackback / Pingback

  1. Agats, Kota Pengukir Di Atas Bilah Papan - lingkarpapua.com

Comments are closed.