Budaya Asmat, Harta Warisan Yang Terabaikan

Ukiran Asmat tidak ubahnya miniatur kekayaan orang Asmat, seni ukiran yang muncul ke permukaan hanya sebagian kecil dari wajah dan kebudayaan orang Asmat yang mengagumkan namun masih terabaikan

Oleh : Walhamri Wahid

 

Selama ini dunia luar hanya mengenal Asmat dengan ukirannya, namun kekayaan dan ketinggian seni dan budaya Asmat bukan hanya ukiran belaka. Ukiran Asmat tidak ubahnya miniatur kekayaan orang Asmat, seni ukiran yang muncul ke permukaan hanya sebagian kecil dari wajah dan kebudayaan orang Asmat.

Berikut ini penulis mencoba menyajikan gambaran umum tentang suku Asmat.

Baju Adat

Baju adat orang Asmat untuk kaum lelakinya tidak ada perbedaan dengan kebanyakan orang Papua, mereka mengenakan koteka dari buah labu yang dikeringkan, sedangkan kaum perempuannya mengenakan rok dari akar – akar yang dikeringkan. Sedangkan bagian aats tubuh mereka baik laki – laki maupun perempuan dibiarkan terbuka.

Orang Asmat juga memiliki keahlian untuk merias diri atau mewarnai tubuh mereka dengan menggunakan bahan – bahan alami, biasanya warna – warna “make-up” mereka di dominasi oleh warna putih, merah dan hitam.

Untuk mendapatkan warna merah, mereka menggunakan tanah merah yang dicampur air, warna putih menggunakan kulit kerang yang dihaluskan kemudian dicampur dengan air.

Alat-alat Produktif 

Orang Asmat sudah mampu membuat jaring yang dianyam dari daun sagu yang biasa mereka pergunakan untuk menjaring ikan di muara sungai. Biasanya jaring tersebut ditambatkan pada waktu air pasang dan kemudian ditarik pada saat air surut.

Selain jaring atau jala, mereka juga memiliki sejumlah peralatan produksi baik untuk pemenuhan kebutuhan hidup maupun perlatan mengukir seperti kapak batu, gigi binatang dan kulit siput. Kapak batu merupakan benda yang sangat berharga bagi orang Asmat sehingga kapak yang hanya bisa didapatkan melalui pertukaran barang itu diberi nama sesuai dengan nama leluhurnya, biasanya nama nenek dari pihak ibu.

Dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat sekarang sudah menggunakan kapak besi dan pahat besi. Kulit siput diganti dengan pisau.

Alat Transportasi dan Perlengkapannya

Masyarakat Asmat mengenal perahu lesung sebagai alat transportasi. Pembuatan perahu dahulunya lebih banyak digunakan untuk penyerangan, dimana dengan menggunakan perahu mereka melakukan aksi provokasi terhadap lawannya sehingga terjadilah peperangan.

Baca Juga:  Awal Tahun Di Kota Jayapura, Sehari Ada Tiga Kasus Curanmor, Ini Solusi Dari AKBP Gustav Urbinas

Namun kini perahu lesung lebih banyak digunakan sebagai sarana transportasi dan alat mencari makan di sungai. Biasanya setiap 5 tahun sekali, mereka membuat perahu baru. Kayu yang digunakan adalah kayu khusus yakni kayu kuning (ti), ketapang, bitanggur atau sejenis kayu susu yang disebut yerak.. Setelah pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu telah siap dibawa ke tempat pembuatan perahu.

Untuk membuat perahu dibutuhkan waktu kurang lebih 5 minggu. Proses dimulai meluruskan dan me ghaluskan batang kayu yang masih kasar. Setelah bagian dalam di gali, dihaluskan dengan kulit siput, demikian juga bagian luarnya.

Selanjutnya bagian bawah perahu dibakar agar perahu ringan dan laju jalannya. Bagian muka perahu disebut cicemen, diukir menyerupai burung atau binatang lainnya perlambang pengayauan kepala atau ukiran manusia yang melambangkan saudara yang telah meninggal.

Perahu kemudian dinamakan sesuai dengan nama saudara yang telah meninggal. Panjang perahu antara 15 – 20 meter. Setelah di ukir perahu di cat putih bagian dalamnya dan di cat putih dan merah di bagian luarnya, selanjutnya dihiasi dengan daun sagu.

Sebelum digunakan, perahu harus diresmikan melalui upacara. Ada 2 macam perahu yang biasa digunakan, yaitu perahu milik keluarga yang tidak terlalu besar dan memuat 2 – 5 orang dengan panjang 4 – 7 meter. Sedangkan perahu clan biasa memuat antara 20 orang dengan panjang 10 – 20 meter.

Dayung terbuat dari kayu yang tahan lama, misalnya kayu besi atau kayu pala hutan. Karena dipakai sambil berdiri, maka dayung orang Asmat sangat panjang ukurannya. Benda ini wajib dimiliki oleh setiap orang Asmat karena daerah tempat tinggal dikelilingi rawa-rawa.

Sistem Mata Pencaharian

Mata pencaharian hidup orang Asmat di daerah pantai adalah meramu sagu, berburu binatang kecil, (yang terbesar adalah babi hutan), dan mencari ikan disungai, danau, maupun pinggir pantai. Mereka juga terkadang menanam buah- buahan dan tumbuhan akar-akaran.

Dahulu, orang Asmat hidup di hutan-hutan, menetap di suatu tempat untuk  beberapa bulan, kemudian pindah mencari tempat baru bila bahan makanan disekitarnya sudah berkurang. Mereka berpindah – pindah, hingga kini pola hidup nomaden masih berlaku di sebagian masyarakat yang hidup di pedesaan.

Baca Juga:  Ada Penyelundupan 2,7 Ton Kulit Kayu Masohi di Batas Negeri

Hari Senin mereka biasa berangkat ke hutan dan kembali ke kampung pada hari Sabtu. Sebagian besar waktu dilewati di hutan dengan mendirikan rumah besar, yang disebut dengan Bivak.

Tempat Berlindung dan Perumahan

Menurut tradisi orang Asmat, dalam sebuah kampung terdapat 2 macam bangunan, yaitu rumah bujang dan rumah keluarga.

Rumah bujang (jew) ditempati oleh pemuda-pemuda yang belum menikah dan tidak boleh dimasuki oleh kaum wanita dan anak-anak. Rumah yang terdiri dari satu ruangan ini dibangun di atas tiang-tiang kayu dengan panjang 30 – 60 meter dan lebar sekitar 10 meter. Rumah ini biasa digunakan untuk merencanakan suatu pesta, perang,dan perdamaian. Pada waktu senggang, rumah ini digunakan untuk menceritakan dongeng-dongeng suci para leluhur. Setiap clan memiliki rumah bujang sendiri.

Sedangkan rumah keluarga, biasanya didiami oleh satu keluarga inti yang terdiri dari seorang Ayah, seorang atau beberapa istri, dan anak-anaknya. Setiap istri memiliki dapur, pintu, dan tangga sendiri. Lima tahun sekali, rumah-rumah tersebut diperbaharui oleh kaum pria.

Perumahan yang dibangun menyerupai rumah panggung, kira-kira satu setengah meter dari atas tanah. Atap rumah terbuat dari anyaman daun sagu, gaba-gaba sagu membentuk dinding rumah,dan lantai tertutupi tikar yang terbuat dari daun sagu juga.

Bahasa

Menurut C.L. Voorhoeve (1965) bahasa orang Asmat masuk dalan kelompok bahasa bagian selatan Papua (language of the southern division), yakni filum bahasa Papua Non – Melanesia.

Senjata

Perisai digunakan oleh orang Asmat untuk melindungi diri dari tombak dan panah musuh dalam peperangan. Pola ukiran pada perisai melambangkan kejantanan. Senjata ini terbuat dari akar besar pohon bakau atau kayu yang lunak dan ringan.

Tombak pada masyarakat Asmat terbuat dari kayu keras seperti kayu besi atau kulit pohon sagu. Ujungya yang tajam dilengkapi dengan penutup yang terbuat dari paruh burung atau kuku burung kasuari.

Perhiasan

Orang Asmat memiliki beberapa jenis perhiasan yang biasa dikenakan sehari-hari. Sesuai kepercayaannya, mereka percantik diri dengan membuat titik – titik putih pada tubuh mereka yang mengidentikkan diri mereka seperti burung.

Baca Juga:  Digugat Mantan Anak Buahnya, Kapolda Papua Barat Kalah di PTUN Jayapura

Untuk hiasan kepala, mereka menggunakan bulu dari burung kasuari atau kuskus. Sekeliling matanya diwarnai merah bagaikan mata burung kakatua hitam bila sedang marah. Hiasan dahi terbuat dari kulit kuskus, lambang dari si pengayau kepala yang perkasa. 

Hiasan-hiasan hidung terbuat dari semacam keong laut, atau kadang-kadang terbuat dari tulang babi dan binatang lainnya. Anting-anting wanita terbuat dari bulu kuskus. Gigi-gigi anjing diuntai untuk dijadikan kalung penghias leher.

Untuk mendapatkan gigi-gigi itu, anjing tersebut tidaklah dibunuh, namun ditunggu hingga anjing tersebut mati. Oleh karena itu, gigi-gigi anjing tersebut dinilai tinggi bagi mereka, dan sering dijadikan sebagai emas kawin (pomerem) bagi keluarga pihak wanita

Seni Musik 

Orang Asmat memiliki alat musik yang biasa digunakan dalam upacara-upacara penting. Yaitu tifa yang terbuat dari selonjor batang kayu yang dilobangi. Bentuknya bulat memanjang mirip seperti gendang. Pahatan tifa berbentuk pola leluhur atau binatang yang dikeramatkan.

Di permukaan tifa terdapat ukiran, menggambarkan lambang yang diambil dari patung Bis. yang menggambarkan rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Pada bagian atas dibungkus dengan kulit kadal dan kulit tersebut diikat dengan rotan yang tahan api.

Tifa biasanya diberi nama sesuai dengan orang yang telah meninggal. Tifa-tifa ini biasa diukir dan dipahat oleh wow-ipits setempat. Tifa ini biasa dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional suku Asmat, yaitu Tari Tobe atau yang disebut dengan Tari Perang.

Seni Tari

Orang-orang Asmat kerap kali melakukan gerakan-gerakan tarian tertentu saat upacara sakral berlangsung. Adanya gerakan-gerakan erotis dan dinamis yang dilakukan oleh kaum laki-laki dan perempuan di depan rumah bujang (Jew) dalam rangka upacara Bis. Tari Tobe sering dimainkan saat ada upacara adat seperti itu.

Tarian ini dilakukan oleh 16 orang penari laki-laki dan 2 orang penari perempuan. Dengan gerakan yang melompat atau meloncat diiringi irama tifa dan lantunan lagu-lagu yang mengentak, membuat tarian ini terlihat sangat bersemangat. Tarian ini memang dimaksudkan untuk mengobarkan semangat para prajurit untuk pergi ke medan perang. (***)

Berikan Komentar Anda