THEYS ELUAY, KINI TAK KESEPIAN LAGI !

Sudah tiga hari kegaduhan pasar malam mengganggu keheningan tidur panjang Theys Hiyo Eluay, namun tak ada satupun orang Papua yang teriak lantang dan menolak apalagi meminta agar segera rombongan sirkus yang memboyong arena judi ke “makam keramat” itu segera angkat kaki dan dibubarkan.

Oleh : Walhamri Wahid

Rintihan suara perempuan menyayat pilu keluar dari sebuah bangunan angker yang terlihat menyeramkan di sudut lapangan, sesekali di selingi tawa renyah bak nenek sihir yang buat merinding bulu kuduk siapapun yang mendengarnya. Anehnya terlihat antrian masuk di pintu “rumah hantu” tersebut.

Di bagian tengah lapangan suara motor menderu – deru memekakkan telinga dari dalam sebuah tong besar setinggi 5 meter dengan tangga – tangga yang juga penuh antrian orang menuju ke puncak tong yang dibatasi oleh pagar – pagar, mereka rupanya terkesima dengan atraksi motor dalam tong tersebut.

Tak kalah memekakkan telinga di tengah lapangan keriuhan beberapa arena permainan sesak penuh dengan antrian anak – anak dan orang tua yang seakan haus hiburan saling berebut untuk merasakan “pusingnya” naik kincir raksasa, mandi bola, naik mini scooter, bermain di istana balon, hingga memancing ikan bermagnet juga ada.

Baca Juga:  Jhon Tabo : Saya Tersandera Kasus Sebelas Tahun Lalu Yang Sudah Selesai !

Beberapa lapak – lapak kecil berukuran 2 x 3 juga tak kalah hingarnya, mulai suara music, anak menangis, orang baku tawar harga berbaur jadi satu dengan seruan pedagang yang menawarkan dagangannya, ada baju, CD lagu, permainan anak, sampai penganan kecil.

Di sela – sela lapak – lapak yang berpendar mandi cahaya itu, terlihat meja – meja kayu berukuran mini yang penuh dengan tumpukan pinang dan sirih yang ditunggui mama – mama Papua yang tetap memasang wajah sumringah di timpa pendaran nyala lampu minyak dari botol Kratingdaeng yang meliuk – meliuk mengikuti hembusan angin malam.

Di sudut belakang lapangan, di bawah tenda stand kosong yang sedianya akan dijadikan arena “judi terselubung”, beberapa anak muda terlihat berasyik masyuk dengan pasangannya sambil nongkrong di atas motor ataupun duduk bertengger di kursi panjang dari kayu yang tidak terpakai, tangan – tangan kecil muda mudi itu saling berpegangan sekaan takut terlepas, ada pula yang tanpa malu – malu saling berpelukan atau sekedar bersenderan di punggung pasangannya, menanti kesempatan hanya untuk sekedar saling memberikan sentuhan di tengah berisik dan gelapnya malam.

Baca Juga:  Promo Budaya Perbatasan, Keerom Ikut Ramaikan SNC 2018 di Semarang

Di sudut depan menghadap ke jalan raya di bawah sebuah pendopo kecil beratap biru muda yang di topang empat tiang beton berbalur cat biru putih dengan lantai keramik warna merah maroon, teronggok sebuah kuburan seukuran orang dewasa yang telah ditinggikan dengan coran semen berukuran 1m x 2m, berwarna biru putih, yang di bagian atasnya terpancang sebuah batu nisan berbentuk salib warna hitam dengan tulisan putih, Theys Hiyo Eluay dihiasi sebuah krans bunga usang bertuliskan nama sebuah organisasi pengusaha muslimah diatas kuburan itu.

Dialah, Theys Hiyo Eluay, sosok yang disegani kawan maupun ‘lawan’ semasa hidupnya, dan tetap dihormati seluruh rakyat Papua bak pahlawan meski telah tiada, yang semangat perjuangannya masih terus menginspirasi kaum pergerakan di Papua, yang rela berkorban nyawa dan jiwanya demi “keenakan” seluruh orang yang hidup dan mencari di Tanah Papua saat ini.

Bila jasad di dalam kubur itu dapat berbicara, pastilah ia akan berkata betapa tidur panjangnya selama 3 malam ini terusik, tak ada lagi keheningan dan ketenangan malam, ratusan manusia berlalu lalang melintasi nisannya tanpa menoleh, seakan mereka semua bersuka cita di atas pengorbanannya.

Theys Hiyo Eluay kini tak kesepian, kegaduhan pasar malam yang ditunggangi praktek perjudian berkedok permainan ketangkasan dan adu peruntungan tak lama lagi akan beroperasi di tempat itu.

Baca Juga:  Dalam Dua Hari Terjadi Dua Kasus Pemerkosaan Anak Dibawah Umur di Kota Jayapura

Entah ide siapa memboyong ‘rombongan sirkus’ dan arena judi ke sekitar makam “pahlawan orang Papua” itu, memberi kesan betapa tidak pentingnya perjuangan Theys Eluay selama ini, sehingga tak ada lagi adab dan etika yang bisa kita sisakan untuk menghormati apa yang sudah ia korbankan untuk orang dan Tanah Papua hingga kini.

Theys memang sudah tiada, bagi kita yang buta sejarah melihat kuburan itu tak ada bedanya dengan kuburan lainnya di TPU, meski faktanya “makam keramat” itu selalu menjadi tempat ziarah wajib bagi petinggi negeri ini yang ingin “mencuri hati” orang Papua dengan menggelar ziarah singkat dalam suasana khidmat.

Sudah tiga hari kegaduhan pasar malam mengganggu keheningan tidur panjang Theys Hiyo Eluay, namun tak ada satupun orang Papua yang teriak lantang dan menolak apalagi meminta agar segera rombongan sirkus yang memboyong arena judi ke “makam keramat” itu segera angkat kaki dan dibubarkan, menunjukkan betapa lebih tidak beradabnya kita ketimbang rombongan sirkus dan para pemburu dolar itu.(***)

Berikan Komentar Anda