Ini Dia Resep Cespleng Bangkitkan Sepak Bola Papua

Papua memang gudangnya talenta pesepakbola, sayangnya bibit – bibit unggul kita kalah di jam terbang karena tidak adanya kompetisi di tingkat local, untuk mempersiapkan pemain supaya bisa tembus kasta nasional, dikarenakan Asosiasi Provinsi PSSI Papua dibawah komando Benhur Tomi Mano (BTM) dalam 4 tahun terakhir ini seakan terlelap dalam tidur panjang.

Oleh : Walhamri Wahid

Di era tahun 1996 – 1997 bisa dikatakan era keemasan dunia sepak bola Papua, sedikitnya lima pemain dari Papua selalu mengisi skuad timnas di semua level mulai dari U15, U18, U21 bahkan timnas senior.

“era itu ada nama Chris Yarangga, Aples Tecuari, Ronny Wabia, Ritham Madubun, Theo Awom yang harumkan nama Papua, masa – masa itu juga berbagai macam kompetisi di tingkat local bergulir, untuk kelompok umur ada perebutan Piala KNPI, Piala Medco, Piala Pangdam yang libatkan seluruh klub yang ada di Papua, di local Jayapura juga ada Piala Vanggasgu, Piala PLN, Piala Pertamina, sehingga jam terbang pemain bertambah, dan ada kompetisi antar klub maupun antar pemain”, demikian disampaikan Stev Dumbon, wartawan senior Papua, pengamat bola yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua, Jumat (24/3/2017) dalam wawancara via inboks FB dengan lingkarpapua.com.

Ia merasa prihatin melihat kondisi pembinaan sepak bola di Papua yang dalam 4 tahun ini terkesan stagnan, karena Asprov PSSI Papua selaku operator dan penyelenggara kompetisi sepakbola amatir didaerah sebagaimana mandat dari Federasi seakan tidak ada inisiatif untuk menggerakkan kompetisi amatir di tingkat local.

Baca Juga:  Pulang Gereja Langsung ke TKP Untuk Tenangkan Warga, Kapolresta dan Ajudannya di Amuk Massa

“saya harus katakan apa adanya, sudah tidak ada lagi kompetisi local, di era kepemimpinan Benhur Tomy Mano (BTM) sebagai Ketua Asprov PSSI Papua dalam 4 tahun ini kompetisi local dan kelompok umur sebagai ajang mencetak bibit – bibit baru vakum total, kita hanya andalkan kompetisi resmi PSSI seperti Divisi I, II dan III yang berubah jadi Liga Nusantara dan terakhir jadi Liga III yang bergulir setahun sekali saja, jelang kompetisi tim TC 3 – 4 bulan, main 3 kali kalah langsung pulang, tunggu tahun depan lagi, akhirnya pembinaan di tingkat klub mati total”, kata Steve Dumbon.

Dan hasilnya bisa dilihat dari berapa banyak anak – anak Papua yang bisa tembus ke timnas di berbagai level umur yang tidak pernah lebih dari 2 pemain saja yang lolos, padahal yang ikut seleksi ratusan orang.

“di timnas senior Piala AFF tahun 2016, hanya Boaz saloss dan Dominggus Fakdawer, di Timnas U 22 asuhan Luis Milla hanya Oswaldo Haay yang lolos, Timnas U 19 asuhan Indra Syafri hanya ada 1 pemain Papua, padahal yang ikut seleksi ada 200 pemain yang terseleksi di putaran pertama di Makassar hanya 8 orang yang lolos, dan akhirnya menyisakan satu pemain, Jefri Bisa. di Timnas U 16 asuhan Fahri Husaini dari 55 pemain yang di panggil, hanya John barens Piter dan Melvin Rumakiek yang lolos”, jelas Steve panjang lebar.

Menurutnya untuk seleksi Timnas U16, dari semua Provinsi, Papualah yang paling sedikit menyumbangkan pemain, dimana dari 930 pemain yang ikut seleksi dari 27 provinsi, DKI Jakarta meloloskan 15 pemain, Jawa Barat dan Jawa Tengah masing – masing 5 pemain, Kalimantan Timur 4 pemain, Maluku 3 pemain, sedangkan Aceh dan Papua hanya mampu loloskan masing – masing 2 pemain.

Baca Juga:  Pansus Ditolak, KPU 'On The Track'

“Fahri Husaini, pelatih Kepala Timnas U 16 saat seleksi di Stadion Mandala sempat mengatakan, talenta anak Papua sangat luar biasa, tapi saying mereka kalah di jam terbang karena tidak adanya kompetisi, sakit rasanya mendengar kata – kata itu, mereka kalah dengan teman – teman sebayanya didaerah lain yang matang dalam kompetisi”, ujar Steve Dumbon prihatin.

Menurutnya, kondisi seperti ini tidak bisa di biarkan berlarut – larut, harus ada inisiatif Asprov untuk mencoba melakukan terobosan demi kebangkitkan sepak bola Papua.

“solusi yang bisa di buat untuk menjawab kondisi yang ada saat ini, (1) Asprov PSSI harus gealr kompetisi rutin setiap tahun di semua level mulai dari U12, U16, U18, U21, U22 dan senior, (2) harus ada semacam standarisasi metode dan kurikulum pelatihan yang bisa terapkan oleh klub – klub ataupun SSB yang ada di Papua, (3) harus ada peningkatan kualitas pelatih local berlisensi Asia dan dunia, (4) selama kompetisi tadi berlangsung harus ada Tim Talentscoutting dari Asprov PSSI untuk memantau dan menjaring sebanyak mungkin pemain berbakat dari semua jenjang usia agar saat ada tim seleksi dari PSSI datang, Asprov PSSI tinggal sodorkan nama pemain yang sudah matang dalam kompetisi guna mensupply tim – tim di Liga Indonesia di dalam maupun luar Papua”, jelasnya lagi ketika ditanya soal solusi yang bisa di lakukan.

Baca Juga:  Agats, Kota Pengukir Di Atas Bilah Papan

Menurutnya skema pembinaan tersebut selama ini tidak berjalan maksimal dikarenakan “sang Ketua” memiliki kesibukan padat dan tidak ada pendelegasian ke pengurus lainnya untuk menjalankan skema pembinaan.

Ketika di singgung soal maraknya ajang kompetisi sepak bola yang di tunggangi “agenda politik”, Steve Dumbon mengatakan tegas bahwa hal itu tidak dibenarkan, menurutnya kompetisi dadakan seperti itu, apalagi yang bermuatan politis tidak efektif untk mendongkrak pembinaan dunia sepak bola di Papua.

“dalam statuta FIFA, PSSI, maupun statuta Asprov PSSI sudah jelas soal larangan “politisasi olahraga”, jangankan politik, untuk sponsorship saja ada larangannya seperti iklan rokok, alat kontrasepsi, miras dan iklan kampanye partai politik di larang”, tegasnya.

Ia mengakui memang salah satu kendala untuk menggelar kompetisi amatir di tingkat local yang berkesinambungan adalah factor pembiayaan, karena untuk menggelar sebuah event membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“dimana ada kemauan, pasti ada jalan, kalau di masa lalu bisa, kenapa kita di era ini tidak bisa, harus ada tim kreatif yang merancang dan bergerak meyakinkan sponsorship, motor penggeraknya dari Asprov saja”, kata Steve lagi.

Bahkan menurutnya penggunaan dana APBD untuk pembinaan olahraga amatir juga di bolehkan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional yang mewajibkan pemerintah untuk membiayai kegiatan olahraga.

“yang tidak boleh kan penggunaan APBD untuk klub professional seperti Persipura, harus mandiri, tapi pembinaan klub amatir malah wajib bagi pemerintah untuk membinanya”, kata Steve Dumbon mengakhiri sesi wawancara online kemarin. (***)

Berikan Komentar Anda