KAHMI UNTUK RAKYAT !

Oleh : Lamadi de Lamato*

KAHMI adalah organisasi Korps Alumni HMI yang berdiri tahun 1965, atau selang usia 18 thn setelah HMI berdiri yakni thn 1947 melalui Lafran Pane dan kolega.

KAHMI tersebar luas dan berjejaring mapan sampai di tingkat daerah, bagi kita yang berada di Papua, organisasi kumpulan veteran HMI ini sangat dibanggakan, memiliki reputasi di kelompok eksternal yang sangat bagus.

Siapapun kader HMI yang berada di Papua dengan sangat bangga ia bisa menjadi bagian dari Keluarga Besar Ijo Itam ini, disebut Ijo Itam karena logo HMI dan KAHMI berwarna dasar hijau dan hitam.

Sebagai kader HMI setelah purna tugas dari status kader aktif HMI, maka otomatis ia bagian dari alumni, nafas pengkaderan dan ke HMI-an baru benar – benar tuntas setelah kita meninggal, bila anda masih hidup berapapun usiamu dan masih sehat atau sudah lansia anda tetap adalah alumni yang patut di ingat atau di hormati.

Senior HMI yang hebat dan berjasa dalam perjalanan bangsa ini teramat banyak dan sama banyaknya dengan yang tersandung kasus di negara ini, kader HMI yang masih belia dan idealis punya banyak referensi terhadap “stock” para alumninya dan silahkan memilih; mau ikut alumni bermasalah atau ikut mereka yg berkontribusi terhadap negara dengan happy ending sebagai alumni HMI.

Baca Juga:  Tiga Korban Insiden 25 Mei Padang Bulan Masih Rawat Inap di RS Bhayangkara

Realitas kehidupan Papua dari berbagai segi kehidupan sangat menantang adrenalin etos keilmuan dan keberpihakan kita, banyak alumni HMI yang dipercaya menduduki jabatan strategis di level top down yang bisa memainkan peran mensejahterakan rakyat dengan konsep ketok palu dengan mitranya di DPR melalui anggaran pro rakyat.

Sementara alumni HMI yang memilih jalur pengabdian level resolusi konflik di tingkat akar rumput adalah pekerjaan yang berat dan beresiko dan tidak menarik untuk pilihan masa depan apalagi seperti di Papua, tapi karena pilihan pengabdian maka apapun resikonya harus dan tetap jalan.

Disinilah KAHMI sebagai organisasi harus cerdas mengelola peran alumninya yang multi kontur dan sekaligus ikut berpihak kepada kebijakan populis yang merakyat, banyak alumni yang dipermukaan kelihatan wah tapi nasibnya beda – beda tipis dengan yang diperlihatkan pemerintah membangun pasar mama – mama Papua yang megah tapi sesungguhnya berbahaya dalam hal kohesi sosial dan permodalan.

Alumni yang bergerak di jalur swasta banyak juga yang tidak memiliki modal tapi punya alat produksi atau usaha yang realibilitynya bagus, sama dengan mama – mama Papua yang nanti punya tempat jualan yang bagus tapi mereka rawan di mangsa rentenir karena tidak cukup modal.

Baca Juga:  Visi 2030 Arab Saudi, Bioskop Dibolehkan, Ini 10 Perempuan Pertama Yang Dapat Izin Mengemudi

Orasi budaya Thoha Alhamid di Musda KAHMI yang menyinggung usaha mama – mama Papua yang berbahaya bila tidak di dukung oleh modal sangat tepat bila disikapi oleh KAHMI dengan menyoroti perbankan yang mempermainkan KUR di Papua.

Lembaga perbankan di Papua tidak menjalankan amanah KUR yang diperintahkan Presiden Jokowi dalam mendorong usaha – usaha mikro bertumbuh secara simultan dari pusat sampai Papua.

Alumni KAHMI Papua yang memimpin di eksekutif, legislatif, grass root hingga Ketum HIPMI pusat sangat memiliki power dalam membantu mengurai kartel KUR sebagai instrumen membuka jalan bagi mereka yang butuh modal dengan syarat lunak dan bunga ringan.

Mama – mama Papua dan alumni HMI yang bergerak di sektor UKMK akan sangat terbantu bila gebrakan itu bisa dilakukan, banyak pihak sangat berharap KAHMI yang hebat tidak terbatas pada kaderisasi dan mengorbitkan tokoh lokal di eksekutif Bupati, Walikota, Gubernur dan level tinggi lainnya.

KAHMI Papua yang hebat mencetak pemain – pemain politik baik sebagai lobyman dan “broker” yang lintas teritori juga harus mampu mendorong regulasi sehat yang pro pada rakyat kecil yang kerap ditindas.

Baca Juga:  Budaya Asmat, Harta Warisan Yang Terabaikan

KAHMI yang di dominasi kelompok tertentu yang mampu merawat perkawanan sesuku, se almamater dan se cabang dan se komisariat juga harus merawat mereka yang diluar mainstream tersebut sehingga solidaritas tidak milik sekelompok orang saja.

Ketika ada alumni KAHMI yang terkena musibah seharusnya kita tergerak dalam menengok atau memberi apresiasi simpati bukan diam dan bungkam.

KAHMI dapat menjadi kekuatan kohesi bila peran kerakyatan dan solidaritas “dibumikan” dan tidak menjadi bahasa langit dan retorika dipanggung seremonial, islam dalam kamus kader HMI adalah rahmatan lil alamin sungguh indah di dengar tapi praktisnya masih belum universal diterjemahkn.

KAHMI Papua teramat komplit melahirkan tokoh besar di Papua, ada Profesor yang siap membangun ke indonesiaan dengan basis ilmu pengetahuannya, juga ada provokator yang ingin Papua menjadi negara pemekaran baru di dunia dengan aksi dan gerakannya, semua bisa bersama dan akur dalam payung dan ikatan alumni.

Aset KAHMI yang besar ini memperlihatkan bahwa keberadaan kita di Papua akan semakin bermanfaat bila perahu KAHMI Papua terangsang melakukan gerakan yang bukan sekedar reunian atau kangen – kangenan!!! Yakusa…. (Penulis adalah alumni HMI)

Berikan Komentar Anda