KAHMI Papua Mau Jadi Palang Pintu, Palang Merah Atau Palang Salib ?

Tokoh Papua Thaha Alhamid menjadi nara sumber pada diskusi bertajuk "Peran Polri dalam Penanganan Konflik Papua" di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (6/5). Pada kesempatan tersebut juga diluncurkan buku Evaluasi Peran Polri di Papua. Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM) 06-05-2015

Kita boleh jadi apa saja, bekerja sebagai apa pun, tetapi harus menjadi seorang yang hanief, yang cenderung membela kebenaran, bukan cenderung membela yang bayar atau cenderung membela yang menang, sehingga kita bias benar – benar menjadi rahmatan lil Papua.

Oleh : Walhamri Wahid

Ditengah arus pergulatan social budaya yang tengah terjadi di Tanah Papua selama ini, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) diharapkan mampu menempatkan diri dan menunjukkan eksistensi serta kontribusi nyata dalam segala permasalahan social budaya yang bermunculan dan bersentuhan dengan rakyat secara langsung.

“ketika berhadapan dengan potret social budaya yang ada saat ini, adik – adk HMI dan Kohati belajar, semua kembali ke kita mau ambil peran sebagai apa, apakah mau jadi palang pintu, palang merah atau palang salib”, kata Thaha Alhamid, Sekjend Presidium Dewan Papua (PDP) yang juga sesepuh KAHMI Papua dalam Orasi Budayanya yang berjudul : “KAHMI, berkiprah di Tengah Pergulatan Sosial Budaya di Tanah Papua” dalam kegiatan Musyawarah Wilayah (Muswil) Ke- IV KAHMI Papua, Sabtu (25/3/2017) kemarin.

Menurut Thaha Alhamid, peran ‘palang pintu’ adalah kelompok yang menolak segala bentuk pembaharuan atau inovasi baru, sedangkan kelompok ‘palang merah” yang selalu berpikir dan bertindak curative, mengobati setelah ada luka social yang timbul di masyarakat, sedangkan kelompok ‘palang salib’ adalah kelompok yang kerjanya hanya menangisi wajah social budaya di Tanah Papua kala sudah berlumur darah, robek, dan terkoyak oleh konflik social atau kegagalan menghadapi perubahan social budaya yang terjadi.

Baca Juga:  Pigai : Berkat Program Gerbang Mas LUKMEN, Kopi Enauto dan Muanemani Dilirik Investor Asing

Menghadapi situasi sosial budaya, dinamikan ekonomi serta iklim politik di Indonesia dan secara khusus di Tanah Papua, tugas utama Kader HMI adalah membumikan Islam yang rahmatan lil Papua. Islam yang damai, yang toleran, yang tegak lurus tapi senantiasa menghargai eksistensi lain di sekitarnya dan membuka diri untuk berdialog seraya mencari titik temu yang damai dan menghargai hak hidup dan kemanusiaan.

“Merperkuat peran keummatan KAHMI Papua, tdk bisa lepas dari hakekat kehadiran kita di tanah ini, kita adalah khalifah yang bertugas menjadi rahmatan lil Papua. Kader HMI dan para alumni, benar – benar rahmat untuk Tanah Papua”, kata Thaha Alhamid.

(Baca juga : KAHMI UNTUK RAKYAT)

Baca Juga:  Antisipasi Konflik Pilkada 2018, Polda Papua Minta Tambah Pasukan dari Polda Papua Barat

Menurutnya adalah celaka bagi kemanusiaan, apabila kekuasaan ditegakkan tanpa etika, sehingga dimanapun kader dan alumni HMI berkiprah, selalu harus menjunjung tinggi nilai” kebenaran, keadilan serta mengedepakan independensi etis.

“Secara individu, engkau boleh jadi apa saja, bekerja sebagai apa pun, tetapi ada benang merah yang mengikat keberadaan mu, yakni amanah : sebagai khalifah, amanah sebagai rahmatan lil Papua serta terikat pada Nilai Dasar Etis yang biasa kita sebut hanief, cenderung membela kebenaran, bukan cenderung membela yang bayar atau cenderung membela yang menang”, kata Thaha Alhamid lagi.

Selama 5 atau 6 tahun berkecimpung, belajar dan terdidik di HMI, semua kader HMI tentu sangat mengerti dengan Nilai Nilai Dasar Perjuangan HMI, Independensi HMI terutama Independensi Etis, termasuk juga dengan berbagai nilai Azas yang diajarkan oleh ‘Hijau Hitam’.

“Nilai paling azasi adalah, ketika pertama kali Allah SWT berkehendak menciptakan manusia pertama untuk menjadi khalifatullah fil ard (khalifah di muka bumi) : waizqala Rabbuka lil malaikati inii jailuka fil ardhi khalifah….. maka sejak itu pula sejatinya Sang Maha Pencipta telah menegaskan tugas kita baik sebagai umat islam, sebagai alumni HMI, tugas dan amanah kita adalah : jadi khalifah yang bertugas memakmurkan bumi, menjadi rahmatan bagi semesta alam, sesuai dengan tempat dimana kita berkiprah, karena kita di Papua, maka kita harus bias menjadi rahmatan lil Papua, KAHMI harus menjadi rahmat bagi Papua”, tegasnya.

(Baca juga : Achmad Idrus 'Dipaksa' Jadi Ketua KAHMI Papua Kembali)

Baca Juga:  Menengok Masjid Kubah Emas Depok

Menurutnya tugas kader dan alumni HMI menjadi sangat jelas dan sederhana, yakni hiduplah dengan benar, bekerja dan mengadi pada kebenaran, serta bertugas memakmurkan bumi.

“di Tanah papua ini damai menjadi idaman semua insan, idaman kita semua, maka eksistensi kader dan alumni HMI di Tanah Papua ini adalah menjembatani relasi-relasi sosial yang berbeda – beda latar belakang, menjernihkan persepsi sosial budaya yang keliru serta mdendorong terus perilaku hidup sosial yang terbuka, dialogis, toleran dan beretika, ini semua menjadi prasyarat untuk ikut mewujudkan Tanah Papua yang Damai”, kata Thaha Alhamid berharap Muswil Ke- IV KAHMI Papua kali ini bias meghasilkan pemimpin yang mendapat dukungan dari dalam dan menjadi rahmat bagi Tanah Papua ke depan. (walhamri wahid)

Berikan Komentar Anda