Sampah Bisa Jadi Rejeki

Mohammad Baedowy

Setiap manusia pasti menghasilkan yang namanya sampah, dengan jumlah penduduk saat ini yang terus meningkat masalah sampah menjadi semakin kompleks. Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk menanggulangi penumpukan sampah, mulai dari penyediaan tempat pembuangan akhir sampah, pengolahan metode sampah yang lebih modern, maupun mengolah sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual.

Namun gerakan pemerintah tersebut hanya dapat mengatasi sedikit jumlah sampah di Indonesia yang mencapai 64 juta ton setiap tahun. Tentu saja kondisi tersebut mengharusnya masyarakat sebagai pelaku pembuat sampah harus sadar dan turut serta dalam menanggulangi masalah sampah.

Tapi tahukah Anda sampah bisa menjadi lahan rejeki yang sangat menjanjikan. Dibeberapa tempat telah dibuka berbagai usaha dengan berbagai bahan dasar dari sampah. Berikut artikel yang berhasil dihimpun Lingkar Papua soal pemanfaatan sampah menjadi bisnis menjanjikan.

Bisnis Pupuk Olahan Sampah

Faizal Alfansury seperti dilansir dari kontan.co.id, sukses mengolah sampah rumah tangga menjadi pupuk organik dan media tanam dengan merek Rimbun. Melalui usaha ini, dia juga mengangkat kondisi ekonomi warga sekitar.

Usaha ini sudah digelutinya sejak tahun 2013 lalu. Berawal dai kekesalannya atas penumpukan sampah di lingkungan perumahannya di daerah Bintaro, Tangerang. Ini terjadi lantaran tukang sampah baru mengambil sampah warga setiap tiga minggu sekali.

Baca Juga:  Ini Trik Pertamina “Paksa” Rakyat Papua Pake’ BBM Non Subsidi

Kesal melihat tumpukan sampah, akhirnya pria kelahiran tahun 1994 ini menjajal mengolah sampah-sampah tersebut. Dengan modal Rp 50 juta, dia menyewa lahan sekitar 1.000 meter persegi di daerah Cilegag, untuk dijadikan lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kini, dalam lima hari dia dapat menghasilkan sekitar 480 kilogram (kg) pupuk organik dan media tanam. Hasil produksinya dijual kepada para distributor dan pebudidaya tanaman dengan harga sekitar Rp 9.000 per pack untuk pupuk organik, dan Rp 12.000-Rp 14.000 untuk media tanam.

Bisnis Daur Ulang Sampah

Mohammad Baedowy (40 tahun) seperti dilansir sipendik.com, sudah 13 tahun menggeluti bisnis daur ulang sampah plastik di bawah label C.V Majestic Buana. Dalam setahun saja uang miliaran rupiah bisa ia kantongi dari bisnis pengolahan sampah yang diekspor ke China ini.

Kesuksesan Baedowy bukanlah tanpa proses yang panjang, Pria kelahiran kota Balikpapan ini memutuskan untuk resign dari pegawai lantaran terjadi krisis ekonomi yang melanda Tanah Air, pada tahun 1998 yang lalu. Selain itu dia ingin mendapatkan kemampuan finansial yang tidak terbatas, serta bisa membantu orang lain dalam menyediakan lapangan kerja.

Salah satu mantan auditor bank terkemuka di Royal Bank of Scotland ini sempat juga mencoba peruntungan usaha menjadi penjual jangkrik hingga cacing. Akan tetapi banyak kegagalan yang ditemui dan ia tidak memperoleh keuntungan dari bisnisnya itu. Hingga akhirnya, ia pun memutuskan untuk memulai usaha yang memiliki resiko yang minim.

Baca Juga:  WALIKOTA MENANGIS, TIDAK INGIN JAYAPURA SEPERTI POSO DAN AMBON

Sebenarnya inspirasi mengenai bisnis daur ulang sampah ia peroleh ketika melihat aktivitas pemulung mengumpulkan sampah. Tanpa malu ia ikut mengumpulkan sampah-sampah botol plastik. Botol-botol plastik tersebut dipilh-pilah berdasarkan warna serta jenisnya kemudian dicacah lalu dijual. Aktivitas tersebut ia jalani tiap hari.

“Saya aktivitas pemulung, dari situlah saya kemudian mempunyai ide untuk membuka usaha daur ulang sampah. Apabila dibandingkan usaha makanan kalau tidak laku kan bisa basi. Usaha buah-buahan kalo gak laku ya busuk, kalo beternak sih resikonya bisa mati. Nah, kalau sampah kan gak ada resikonya, ” ujar dia.

Baedowy ketika awal merisntis bisnis, ia memakai mesin buatan pabrik, dan kemudian hasilnya ia kirimkan ke seorang rekanan untuk memenuhi permintaan ekspornya. Tidal lama kemudian, usaha di bawah c.v Majestic Buana yang ia dirikan terpaksa harus terhenti dikarenakan terdapat kerusakan pada mesin produksi. Papan plakat “Pabrik dijual” terpaksa ia pasang.

Namun berkat dukungan dan semangat istrinya Ajeng Ririn Sari , Ia berhasil untuk bangkit dari keterpurukan. Hanya dengan waktu satu tahun, lulusan sarjana ekonomi ini akhirnya berhasil membuat mesin pencacah walaupun tidak punya keahlian di bidang teknik.Ia pun kembali memulai usaha daur ulang sampah dengan memilah-milah botol plastik berdasarkan jenis dan warnanya, lalu dicacahnya. Hasil dari serpihan-serpihan botol plastik yang dicacah kemudian dikeringkan

Baca Juga:  Sudah Habiskan 800 Miliar, Proyek Jembatan Holtekamp Terancam 'Taduduk' ?

Peraih penghargaan Dji Sam Soe Awards tahun 2009 ini mendesain mesin yang bisa berputar dengan kecepatan yang tinggi hampir mirip dengan mesin cuci. Sesudah serpihan plastik dikeringkan kemudian masuk kembali ke dalam oven, barulah kemudian siap untuk dijual.

Di China produk Baedowy digunakan sebagai bahan baku untu membuat benang polyester. Bahan pembuatannya diperoleh dari limbah botol plastik minuman dengan jenis PET (polyethylene terephthalate). Sedangkan untuk sampah plastik gelas minuman berjenis PP (polypropylene) dipakai sebagai bahan dasar pembuatan tali rafia.

Selain untuk memenuhi permintaan ekspor, dia juga menciptakan produk daur ulang sendiri. Botol-botol plastik oli dia daur ulang menjadi lokop sapu.

“Ternyata Firman Tuhan itu benar. Di balik sebuah kesulitan pasti ada kemudahan. Dari situlah, saya kemudian bisa memproduksi sendiri banyak mesin,” ujarnya.

Dari artikel diatas Anda sudah mendapat penjelasan bahwa sampah bisa menjadi lahan bisnis yang sangat menjanjikan. Untuk itu sudah saatnya mulai berpikir dan berinovasi mengolah sampah menjadi bisnis Anda sendiri, minimal ikuti dua jejak pelaku bisnis sampah diatas.

Berikan Komentar Anda