Aividjan, Pasar Ditengah Hutan, Yang Tak Kunjung Jalan

Nampak pasar Aividjan yang belum juga difungsikan walau telah rampung pembangunannya beberapa tahun lalu.

Sudah miliaran dana habis untuk membangun, sudah dua Bupati memimpin, entah mengapa jejeran ruko  dan los kios yang berada di tengah hutan di tepi jalan Trans Irian serta jauh dari permukiman warga itu hingga kini tak juga kunjung di operasikan (jalan-Red).

Oleh    : Alfred Kaempe / Walhamri Wahid

Pintu ruko yang berderet rapi itu tertutup rapat, cat temboknya sudah mulai terlihat kusam, beberapa rumput liar menghiasi beberapa sudut bangunan, bahkan bila kita memandang dari tepi jalan Trans Irian yang saban hari di lalui petinggi – petinggi Pemda Keerom, semak belukar meninggi menghalangi pandangan para pengguna jalan.

“tidak tahu mas kenapa sampai hari ini belum beroperasi nih, padahal sejak jaman Bupati Wally bangunan ini sudah siap digunakan, Bupati Watae sudah setahun naik, belum jalan – jalan juga nih, padahal kalau di operasikan, bisa hidupkan terminal ini juga”, celetuk seorang sopir yang lagi mengantri di Terminal Aividjan, yang lokasinya bersebelahan dengan Pasar Aividjan.

Hal pertama yang mengusik perhatian setiap orang yang lewat adalah, kok ada pasar di tengah hutan, jauh dari permukiman yah ???, kira – kira ada nggak yang mau datang berbelanja di situ ???. Ada nggak yah pedagang yang mau menggelar dagangannya di lokasi itu bila tidak ada pembeli ???

Tapi faktanya, pasar sudah di bangun lengkap dengan terminalnya, pekerjaan rumah terbesar Pemda Keerom adalah bagaimana menghidupkan “pasar di tengah hutan” tersebut sehingga bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat Keerom.

Baca Juga:  Main Malam, Pindah Home Base, Gol Tunggal Rizky Pora Tahan Perseru di Zona Degradasi

Pasar sentral milik masyarakat Keerom yang terletak di Jalan Trans Irian, tepatnya diantara Arso II dan Arso Swakarsa ini, terlantar begitu saja.

Bagian depan bangunan pasar telah ditumbuhi rumput yang sangat tinggi dan los-los pasar yang dibangun terlihat tidak terurus,  Hanya ada aktifitas terminal yang telah berjalan beberapa tahun yang lalu.

Dari beberapa penuturan masyarakat yang ditemui Lingkar Papua, kondisi pasar tersebut telah berlangsung lama tanpa ada aktifitas apapun. Malah malam hari sering digunakan oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab untuk dijadikan tempat minum maupun hubungan asusila.

“Kalau yang ada tiap hari cuma terminal saja. Jadi kalau mau ke Kota Jayapura semuanya naik dari sini, kalau pasar sebelah ya begitu saja (terlantar),” papar salah satu masyarakat yang sering berjualan di terminal.

Dari keterangan warga sekitar diketahui pula, enggannya para pedagang menempati pasar sentral yang dibangun Pemerintah Keerom ini karena lokasinya yang dinilai tidak strategis dan sangat jauh dari pemukiman warga. Sehingga dari segi ekonomi tidak akan menjamin keberhasilan pedagang.

“Bagaimana mereka mau kesini, tempatnya saja jauh begitu. Terus disini tidak ada rumah kiri dan kanan hanya hutan saja. Walau dipinggir jalan, tapi mau harap pembeli dari mana,” keluh beberapa warga.

Baca Juga:  INGIN SERIUS MENGEMBANGKAN AGROWISATANYA

Drs. Irwan, MMT, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Perhubungan Kabupaten Keerom yang belum lama dilantik, mengungkapkan, untuk operasional terminal selama ini sudah berjalan, dan pihaknya akan berusaha untuk terus mengembangkan dan menghidupkan, sehingga nantinya bisa berdampak dalam menghidupkan pasar yang satu area dengan Terminal itu.

“kita sudah arahkan semua kendaraan umum harus masuk terminal, dengan tujuan nantinya pasar juga bisa hidup, kita juga sudah subsidi kendaraan umum trayek local supaya aktif, tapi memang los dan ruko yang ada ini semuanya belum ditempati oleh pedagang”, kata Irwan.

Menurutnya upaya yang sudah dilakukan oleh Pemda untuk mensubsidi angkutan umum untuk membangkitkan aktifitas di lokasi tersebut cukup besar, dimana tahun ini Pemda Keerom mensubsidi angkutan umum hingga Rp 3 juta perbulan, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6 juta.

“tapi kita akan tinjau ulang soal subsidi itu nanti, karena nampaknya tidak berdampak pada upaya membangkitkan aktifitas ekonomi di pasar tersebut, padahal dengan kita aktifkan terminal ini kan tujuannya untuk memancing agar pasar juga hidup”, kata Irwan mengatakan bahwa subsidi selama ini diberikan kepada 20 kendaraan umum yang melayani trayek local dalam Keerom.

Marthen Simbong, Kepala OPD Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Keerom yang juga belum lama dilantik kepada Lingkar Papua mengakui bahwa memang selama ini aktifitas Pasar Aividjan belum berjalan, dan ia mengaku tengah mempersiapkan langkah – langkah strategis untuk menghidupkan pasar tersebut.

Baca Juga:  12 Tahun Mati, Akhirnya RAPI Keerom ‘Bangkit Dari Kubur’

“ada factor – factor lain yang bikin pasar itu belum bisa beroperasi, sedang kita carikan solusi agar segera ada aktifitas ekonomi disitu”, kata Marthen Simbong saat ditemui Lingkar Papua di sela – sela acara perayaan HUT Kabupaten Keerom Ke- 14, Rabu (12/4/2017) kemarin.

Menurutnya segera akan dilakukan pertemuan dengan pelaku ekonomi yang ada di Keerom, khususnya yang saat ini sudah menjalankan aktifitasnya di pasar kampung yang ada di Pasar Arso II dan Pasar Workwana, dua pasar yang lokasinya terdekat dengan Pasar Central Aividjan.

“Jadi akan kita tata, apakah mengambil pola empat hari di Pasar Sentral dan 3 hari di Pasar Kampung, tapi ini masih bersifat konsep ya, karena kami belum pertemuan dengan mereka”, kata Simbong.

Disinggung soal penilaian pedagang, bahwa Pasar dan Terminal Aividjan dari segi tempat tidak strategis dan menilai Pemkab Keerom salah memilih lokasi, Simbong enggan mengomentarinya, karena menurutnya pembangunan pasar itu bukan di saat ia menjabat.

“Kalau itu saya tidak tau ya, karena itu pejabatnya bukan saya. Kalau ada masukan seperti itu sah-sah saja, tapi kami akan melihat solusi apa untuk memecahkan masalah ini”, katanya. (***)

Berikan Komentar Anda