Empat Belas Tahun Kabupaten Keerom, Ketimpangan Itu Masih Nyata

Bupati Keerom Drs Celcius Watae dan Wakil Bupati Keerom Muh. Makrum, SH, MH, MM saat merayakan hari ulang tahun Kabupaten Keerom ke 14 tahun.

Kabupaten Keerom itu terdiri dari 7 distrik, bukan Arso dan Skamto saja, empat belas tahun untuk ukuran manusia memang masih remaja, tapi untuk ukuran sebuah proses pembangunan sebenarnya waktu yang cukup untuk membuka keterisolasian sebuah daerah, agar tidak ada distrik yang merasa di anak tirikan, dan tidak tersentuh pembangunan.

Oleh : Alfred Kaempe /Walhamri Wahid

Mungkin kondisi geografis Keerom sulit, tapi tidak sesulit seperti di kawasan pegunungan yang memiliki tingkat kemahalan tinggi, kalau di daerah yang memiliki tingkat kesulitan tinggi saja antar distrik bisa terhubung lewat jalur darat, mengapa Keerom yang berada di beranda terdepan Indonesia degan negara tetangga PNG itu hingga kini semua distrik belum terhubung dengan jalur darat ?

Itulah salah satu refleksi dan kerinduan dari masyarakat Kabupaten Keerom yang tinggal di Distrik Waris, Senggi maupun Distrik Web, menurut mereka pembangunan di Kabupaten Keerom selama ini masih terpusat di Distrik Arso Timur, Arso dan Skamto, karena pemerintah memilih membangun “di depan mata”, ketimbang membangun “di dalam rumah.

Baca Juga:  Tunda 7 Hari, Ini Ancaman Bawaslu Bila 20 Februari Tidak Dilakukan Penetapan Calon Pilgub Papua

Hal itu juga di akui oleh Bupati Kabupaten Keerom Drs. Celcius Watae, MH saat memberikan sambutan dalam kegiatan perayaan HUT Kabupaten Keerom Ke – 14 di Lapangan Arso Swakarsa.

“Hari ini adalah momentum untuk introspeksi dan merumuskan langkah-langkah strategis untuk menyelesaikan masalah – masalah, salah satunya soal kesenjangan pembangunan itu, sehingga masyarakat bisa lebih merasakan pelayanan pemerintah, dari umur kita memang masih muda, tapi bukan berarti kita tidak mampu untuk bekerja dan mendatangkan manfaat untuk masyarakat didaerah kita ini”, kata Watae.

Secara gamblang Watae mengakui ketimpangan pembangunan di daerah yang memasuki dua periode ia pimpin itu, menurutnya sudah banyak tantangan yang berhasil diatasi pemerintah dan menuai hasil pembangunan seperti yang telah dicapai saat ini, namun masih banyak tantangan dan masalah daerah yang tidak dapat diselesaikan juga hingga kini.

Baca Juga:  Bupati Harap Ada Utusan Keerom Tembus Nasional, Ketua LPTQ Nilai Perhatian Pemda masih Minim

Beberapa capaian yang telah berhasil diraih menurut Watae, secara statistic diantaranya adalah Indek Pembangunan Manusia (IPM) Keeorm tahun 2015 sudah mencapai 63,43%, Harapan Lama Sekolah mencapai 11,55 tahun, Angka Harapan Hidup (AHH) 66,09%, dan tingkat kemiskinan turun hingga menyentuh angka 15,83% dan PDRB yang mencapai 39,45 juta

“Harapan 14 tahun lalu menjadi sebuah kabupaten, kini sedikit demi sedikit mulai terwujud dari sekian banyak harapan, saya bersyukur karena dunia usaha, pemangku kepentingan dan masyarakat bersinergi dengan baik dan itu berdampak kepada kemajuan daerah ini”, kata Watae.

Watae menegaskan masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dikerjakan mulai dari pembangunan kesehatan, pendidikan, ekonomi kerakyatan dan infastruktur.

Baca Juga:  Refleksi Keberagaman di Ujung Timur INDONESIA

Sehingga pemerataan pembangunan bisa dirasakan secara merata oleh masyarakat di 7 distrik yang ada, sehingga tidak ada yang merasa tertinggal.

Untuk itu dalam pemerintahannya, Watae mengungkapkan, pembangunan jalan dan jembatan akan menjadi salah satu program prioritas, menurutnya dengan memiliki jalan yang layak dengan sendirinya pelayanan kesehatan, peningkatan ekonomi, pemerataan pendidikan akan tumbuh dengan baik.

“untuk pendidikan, kita akan lebih menekankan kepada pendidikan berpola asrama, karena melihat kondisi geografis di beberapa distrik yang sangat sulit ditempuh oleh anak usia sekolah jika harus datang dan pulang dari rumah ke sekolah”, kata Watae menambahkan bahwa semua komponen anak bangsa harus bersatu karena pemerintah tidak bisa membangun sendiri. (***)

Berikan Komentar Anda