Kosongnya Obat Anti Malaria di RSUD Kwaingga Keerom, Karena Pelaporan Obat Tidak Jelas ?

dr. Ronny Situmorang, Kepala OPD Kesehatan Kabupaten Keerom

Keerom (LP)—Ketiadaan Obat Anti Malaria (OAM) di RSUD Kwaingga yang dikeluhkan oleh masyarakat beberapa waktu lalu rupanya bukan isapan jempol belaka, dimana hasil evaluasi OPD Kesehatan ditemukan sejumlah fakta yang menjadi penyebab kelangkaan OAM dan sejumlah obat – obatan dan alat kesehatan lainnya.

“Kalau rumah sakit kekurangan obat, kita dinas bisa bantu asal mereka buat pelaporan. Masalahnya ada di pelaporan mereka. Karena saya cek di provinsi juga (Dinkes Provinsi Papua-Red) program Obat Anti Malaria tidak dikasih lagi ke RSUD Kwaingga kalau tidak dibuat pelaporannya, mereka tidak mau kasih lagi kalau tidak ada pelaporan sebelumnya”, kata dr. Ronny Situmorang, Kepala OPD Kesehatan Kabupaten Keerom kepada Lingkar Papua, Rabu, (19/4/2017).

Baca Juga:  Perintah MK, DPRP Tra’ Bisa Ikut Campur Verifikasi Berkas Calon, Itu Tugas KPU !

Ia juga menilai perencanaan kebutuhan obat dan alkes di RSUD Kwaingga harus segera di perbaiki, sehingga tidak akan lagi terjadi RSUD kekurangan obat – obatan dan alat kesehatan lainnya.

 “Perencanaan obat itu dilakukan oleh rumah sakit, acuannya dari beberapa tahun lalu berapa banyak pemakaiannya dan tiap tahun seharusnya bertambah dari jumlah tahun sebelumnya dari setiap tahun pengadaan. Jadi memang ada rumus hitungannya soal itu,” ujarnya saat ditemui diruang kerjanya (Rabu 19/4).

Diakuinya kabar habisnya obat malaria di RSUD Kwaingga itu memang benar, dan ia sudah mengintruksikan agar kondisi tersebut harus diatasi dengan baik.

Dr. Ronny juga menjelaskan, hingga sekarang pihaknya belum bisa melakukan pengadaan obat – obatan dan alat kesehatan lainnya karena masih menunggu proses pelelangan yang belum berjalan.

Baca Juga:  Jurus Promosi Usaha Kuliner di Media Sosial

“Tapi dari hitungan kasar kami, obat kita yang ada cukup sampai bulan Juli nanti. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir soal obat,” paparnya.

Terkait tidak tertibnya pelaporan penggunaan obat, disebabkan karena adanya dugaan oknum petugas medis “bermain” dengan stok obat yang ada, Kepala OPD Kesehatan tidak ingin berspekulasi soal dugaan itu.

“hingga saat ini, kita belum temukan indikasi ke arah sana, tapi akan kami dalami laporannya, apakah ada permainan oknum, ataukah memang benar – benar habis stoknya, nanti akan kita dalami pasti”, kata dr. Ronny lagi.

Namun ia menegaskan bahwa pengalaman di tahun 2017 ini bisa menjadi pembelajaran ke depan, dan ia memastikan kekosongan obat akar masalahnya dari tahun 2016, karena perencanaannya kan di tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Wabup Berharap Direksi Yang Baru Bisa Tekan Kebocoran di PDAM Jayapura

“ambil pembelajarannya, agar di tahun 2018 nanti kita akan lebih cermat lagi memperhitungkan kebutuhan obat daerah, dan pasti kita akan tambah, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi”, katanya.

Ia juga mengharapkan kedepan harus ada pelatiham SDM terutama dalam pemakaian obat secara rasional. Karena kerap kali ada pasien yang diberikan obat berbagai macam jenisnya, namun khasiatnya hanya untuk menyembuhkan satu penyakit.

“Intinya kekurangan obat ini, kalau memang salah perencaaan mau kita apakan, berartikan kita tidak bisa buat apa-apa. Tapi kalau kekurangan ini ada kebocoran-kebocaran ditempat lain, itu yang harus kita atasi”, kata Kepala OPD Kesehatan yang baru sebulan dilantik itu. (alf/R1)

Berikan Komentar Anda