JEJAK 12 RUMPUN ASMAT

Upacara dan ritual adat menjadi prosesi langka. Kebesaran budaya Asmat tersisa di ujung ingatan “tetua adat” yang kian menua, atau dalam catatan pendek yang berserakan. Tarian dan tetabuh tifa berganti goyangan tanpa makna dengan iringan loudspeker dan miras. Jejak – jejak kebesaran 12 rumpun orang Asmat kian memudar, menyisakan ukiran tanpa ruh yang hanya bernilai Rupiah.

Oleh    : Walhamri Wahid

Polycarpus, pengukir asal Kampung Per (Bismam), Distrik Agats asyik memainkan pahat pada balok 5 x 5 setinggi 50 cm di hadapannya, terlihat beberapa patung kecil separuh jadi berbentuk orang berserakan di tanah, di sampingnya dalam balutan terpal koyak teronggok beberapa patung dengan ikon manusia dalam ukuran lebih besar.

Ia mengaku dalam sebulan mampu memproduksi sedikitnya 10 – 20 patung yang biasa ia jual mulai dari Rp. 100 ribu – Rp 200 ribu, tergantung pesanan, tapi ia mengakui belakangan ini agak susah menjual karya – karyanya. Proses pembuatan patungnya pun lebih simpel dan praktis, tanpa ritual upacara, tanpa pesta adat mulai dari pencarian bahan sampai jadi ukiran. Cukup memelototi beberapa proyek pemerintah yang tengah di garap oleh kontraktor di seputaran Kota Agats.

“kalau ada kayu besi sisa proyek yang tidak terpakai, saya pungut untuk saya ukir menjadi patung”, katanya biar lebih menghemat biaya untuk menebang pohon di hutan, apalagi saat ini di Kota Agats tengah ada proyek pembuatan jalan beton yang otomatis membuang material balok sisa jembatan sebelumnya.

Meski tanpa prosesi adat, tapi ia masih meyakini bahwa dalam patung – patung hasil pahatannya masih bersemayam roh leluhurnya, dan lewat media itu ia bisa berkomunikasi mengobati rasa rindu, kekaguman, dan penghormatan terhadap nenek moyangnya.

“walau tidak ada yang beli, sampai rusak dan hancur sekalipun, Bapak tetap simpan ukiran patung ini, tidak akan di buang apalagi misalnya dijadikan kayu bakar, karena nanti bisa kena musibah”, kata Polycarpus yang menutupi beberapa koleksi patungnya berbentuk manusia dengan terpal di bevak kecilnya yang tidak jauh dari kantor Bupati Asmat di bawah kerindangan pohon kelapa.

Sebagai salah satu tokoh adat dari Distrik Atsj yang masuk dalam rumpun Becembub, Alfons Lenokos merasa galau terkait melunturnya “nilai spiritual” dalam setiap karya ukir orang Asmat yang kian tergilas oleh “nilai ekonomis” yang ditawarkan oleh para pedagang benda seni.

Dahulu kala ukiran – ukiran itu dilahirkan dalam sebuah ritual upacara atau pesta – pesta rakyat yang memakan waktu lama, namun semenjak pesta dan upacara adat itu di larang oleh Pemerintah masa lalu dengan berbagai pertimbangan ketika itu, patung – patung yang dihasilkan memang lebih berorientasi ekonomis, tapi mereka masih meyakini bahwa karya mereka meski tidak melalui prosesi dan ritual adat namun tetap memiliki nilai magis sebagai penghormatan kepada leluhur mereka.

Zaman dahulu patung – patung yang mereka buat di simpan baik di dalam rumah, ataupun di rawa – rawa dan diberi nama sesuai nama leluhur mereka dengan pasangannya masing – masing. Jadi tidak diukir sembarangan, karena ia diberi nama makanya patung itu dihargai sampai hancur sendiri.

“dulu itu buat salawako (perisai), tifa, tombak, dayung, ada ritualnya apalagi buat patung Bisj pesta patung bisa sampai 1 tahun, mulai dari upacara penebangan sampai jadi ukiran, dan dahulu seorang pengukir itu merupakan warisan turun temurun dalam sebuah keluarga, artinya tidak semua orang Asmat mampu atau bisa disebut sebagai wow – ipits atau wow – iwir”, kata Alfons.

Namun kini menjadi pengukir bisa dilakukan oleh semua orang Asmat yang mau belajar, karena menjadi semacam mata pencaharian dan sebagai bentuk upaya pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Dampak dari komersialisasi ukiran Asmat adalah masuknya pola – pola dari luar yang menodai kemurnian dan keaslian ukiran Asmat.

“seni ukir Asmat berbeda dengan ukiran dari Bali, ataupun dari daerah Jawa, jadi unsur etnis dan naturalnya itulah yang membuatnya bernilai, kalau patung sudah mulai mulus seperti kulit manusia, disambung menggunakan lem kayu, itu semua pantangan dalam seni ukir Asmat, jadi keasliannya hilang”, katanya risau.

Sebagai orang Asmat, Lenokos tidak ingin suatu saat kelak ukiran Asmat tidak ada bedanya dengan karya pematung kontemporer, sehingga tidak ada kesadaran untuk menghargai seni ukir Asmat sebagai sebuah mahakarya naturalis dari sebuah peradaban manusia yang menjunjung tinggi seni dan budaya.

Bukan hanya kenaturalan ukiran Asmat saja yang terancam punah, namun kekayaan terbesar mereka yakni budaya yang hidup bertahun – tahun di masa lampau, kini seakan mulai memudar dan tidak terdokumentasi lagi secara baik seiring arus modernisasi dan semakin “menua-nya” tetua adat yang paham akan budaya mereka.

Baca Juga:  “KATANYA HANYA 500 HEKTAR, TERNYATA YANG DI CAPLOK 50.000 HEKTAR”

Perlunya menghidupkan kembali ritual – ritual adat sebagai bentuk pelestarian dan rasa bangga akan kebesaran dan ketinggian seni budaya orang Asmat harus kembali di galakkan. Kekhawatiran di masa lampau akan dampak negatif pesta dan ritual adat itu seharusnya sudah dihapuskan, karena mereka kini sudah mengenal Tuhan !

Bila melihat wilayah bermukimnya, suku Asmat dapat di kelompokkan dalam dua wilayah, yakni yang bermukim di wilayah pesisir pantai selatan Papua atau di tepian sungai dan laut atau kawasan muara dan yang mendiami wilayah pedalaman dan kawasan rawa – rawa sungai serta danau atau hulu sungai.

Perbedaan wilayah tersebut berdampak pada perbedaan cara hidup dan mata pencaharian, dialek bahasa, strata sosial dan pesta ritual, demikian juga dalam bentuk motif dan jenis ukiran mereka.

“suku Asmat dikelompokkan ke dalam 12 sub rumpun yakni Emari Ducur, Unir Epmak, Unir Sirau, Joerat, Kenekap, Simai, Bismam, Becembub, Safan, Armatak, Yupmakcain, dan Bras (Brazza)”, kata Erik Sarkol Kurator Museum Kebudayaan & Kemajuan Asmat di Agats.

Pembagian sub suku ini terjadi dalam lingkungan masyarakat Asmat sendiri akibat tempat tinggal, kiat menyikapi lingkungan serta persebaran masing-masing kelompok masyarakat dalam suku Asmat.

Dalam katalog Museum Kebudayaan & Kemajuan Asmat yang di susun oleh Ursula Konrad dan Alfons Suwada yang diterbitkan tahun 1994, informasi yang diperoleh tentang kekayaan seni budaya ke-12 rumpun suku Asmat sangat terbatas, termasuk juga letak wilayah persebaran mereka bila di sesuaikan dengan kondisi wilayah pemerintahan Kabupaten Asmat dalam 10 tahun terakhir ini.

Dengan keterbatasan data dan informasi yang ada, Redaksi mencoba menyajikan gambaran umum ke- 12 sub rumpun Asmat dimaksud dengan melakukan analisis komparatif peta budaya Asmat terhadap peta wilayah pemerintahan kabupaten Asmat, sehingga bisa jadi ada beberapa nama kampung ataupun wilayah yang sudah berubah atau tidak sama dengan kondisi riil saat ini lagi karena perkembangan wilayah pemerintahan.

  1. Emari Ducur

Rumpun ini mendiami bagian Barat Laut Asmat meliputi Kampung Awemu, Esmapan dan Ipam yang dilalui sungai Yit, Iroko, Jakapis, Momogu, Pupis, Waitok, dan Weo yang berada di tepian aliran sungai Ve, Yit, Yerep, Pomats, Wasar, dan Sumapero.

Bila merujuk pada peta wilayah pemerintahan Kabupaten Asmat, sub rumpun Emari Ducur berada di Distrik Sawa Erma yang berbatasan langsung dengan kabupaten Nduga, sebagian kabupaten Jayawijaya dan Timika.

Meskipun dipisahkan oleh batas wilayah pemerintahan, namun bila ditelisik lebih dalam, ada beberapa kampung di wilayah Kabupaten Mimika (Kamoro) yang sebenarnya masih masuk wilayah rumpun Emiri Ducur.

Permukiman mereka lebih kecil dibanding rumpun lainnya di wilayah selatan. Mereka terkenal dengan upacara pesta je ti (Pesta Roh) yang merupakan serangkaian perayaan berturut – turut dalam kurun waktu 1 – 2 tahun, yang menjadi pola umum pesta serupa untuk seluruh kawasan Asmat untuk mengenang leluhur mereka dengan membuat patung Bisj dan sejenisnya.

  2. Unir Epmak

Unir Epmak tinggal di daerah pedalaman Timur Laut Asmat, membentang ke arah kaki gunung di hulu Sungai Unir, berbatasan dengan wilayah pemerintahan Kabupaten Yahukimo.

Rumpun ini meliputi sebagian besar wilayah Distrik Akat yang terdiri dari Kampung Bweetkar, Kopa, Sagapu, Suro, Ti, Tomor, Yeniseko dan Yuni yang di lintasi oleh sungai Sor, Wasar, Unir, Dumas dan Simai.

Bila melihat ikonografis (corak dan motif ukiran), serta ritualnya ada kemiripan dengan rumpun Brazza dan Emary Ducur, namun ritual adat dan hasil karya ukiran mereka tidak banyak diketahui orang.

Bahkan dari penuturan beberapa warga di Kampung Bwetkar yang berhasil di kunjungi MOP beberapa waktu lalu, mereka mengakui bahwa “seni ukir” mulai menghilang dari kampung itu, karena generasi muda saat ini lebih tertarik untuk berburu kayu gaharu, sedangkan generasi tua yang memahami hal itu semakin berkurang dan enggan menurunkan atau melestarikannya.

  3. Unir Sirau

Mereka bermukim di daerah pedalaman bagian Timur Laut Asmat, wilayah rumpun ini berada di tengah – tengah mendiami sebagian Distrik Sawa Erma dan Distrik Akat. Bila merujuk pada peta wilayah budaya Asmat, daerah Unir Sirau berbatasan dengan wilayah rumpun Emari Ducur di arah Utara, Joerat dan Unir Epmak di Timur, serta rumpun Simai di Selatannya.

Rumpun Unir Sirau meliputi kampung Bu Agani, Er, Erma, Komor, Manep Simni, Munu, Sa, Sawa, Sona dan Yipawer yang dilintasi oleh sungai Pomats, Wasar, Unir, Asewets, dan Yipaer, dengan pusat pemerintahan wilayah di Erma. Hingga kini Kampung Erma adalah salah satu kampung yang produktif membuat patung dan ukiran hingga selalu di kunjungi oleh “orang luar” yang ingin berburu ukiran.

Baca Juga:  Jangan Sampai Ada 'Atlit Bayaran' Lagi di PON XX Papua

Motif dan ukiran Unir Sirau menyerupai dengan rumpun Emari Ducur dan Kenekap. Mereka terkenal dengan upacara bi pokomban dan jimi pir-nya.

“serupa dengan upacara je ti di rumpun Emari Ducur, yakni Pesta Roh untuk mengenang leluhur mereka, dengan membuat patung woramun (perahu jiwa) sama dengan patung Bisj, fungsinya untuk mengantarkan roh leluhur mereka menuju safar (sorga)”, kata Alfons Lenokos.

  4. Joerat

Kelompok ini mendiami daerah pedalaman di bagian Barat Asmat, membentang dari pesisir pantai Laut Arafura hingga batas rumpun Emari Ducur di Utara, Unir Sirau di di Timur dan rumpun Bismam di Selatan.

Meliputi kampung Ao, As-Atat, Kapi, Nakai, Yamas – Yeni, dan Yaun Yufri yang dilintasi oleh sungai Yit, Diorep, Momats, Topap, Pomats, dan Unir. Rumpun Joerat yang masuk dalam wilayah pemerintahan Distrik Sawa Erma, dan sebagian Distrik Akat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mimika.

Dalam buku katalog Museum disebutkan bahwa wilayah ini dulunya adalah wilayah orang Kaimes, yang mencakup kampung Canir, Watep, Osar, Sinamer, One, Jae, Pis, Sar, dan Jamau. Tapi kawasan ini dikuasai oleh orang Joerat yang telah mengalami pembauran dengan suku lainnya. Orang Kaimes inilah yang dikenal sebagai pencetus Pesta Emak Cem yang sekarang dikenal sebagai pesta orang Joerat. Orang Joerat juga menegaskan bahwa mereka adalah pencetus Pesta An, yang dirayakan oleh banyak orang dari beberapa rumpun di Asmat.

Orang – orang dari rumpun Joerat terkenal produktif juga dalam membuat ukiran berbagai motif dan bentuk yang menunjukkan keunikan dan keaslian ukiran Asmat dalam bentuk wuramon (perahu jiwa) ataupun jeer (belandar rumah) pada gubuk pembaiatan, disamping bentuk ukiran lainnya seperti tifa dan salawaku (perisai).

5. Kanekap

Orang Kenekap mendiami bagian tengah Asmat, membentang ke utara dari Sungai Sirets hingga berbatasan dengan wilayah rumpun Unir Epmak, ke barat berbatasan dengan wilayah rumpun Simai dan hingga ke timur berbatasan dengan wilayah rumpun Aramatak.

Wilayahnya meliputi kampung Awok, Diwar Darat, Damen, Fos, Kaimo, dan Yaosoker yang dilintasi oleh sungai Sirets dan Sor. Wilayah rumpun ini mendiami wilayah Distrik Atsj, karena memang sejak sebelumnya pusat wilayah ini di Kampung Atsj yang sebenarnya masuk wilayah rumpun Becembub.

Orang Kanekap terkenal dengan upacara Basusuankus (Pesta Ulat Sagu) dimana mereka menggunakan patung – patung raksasa dengan sosok leluhur mereka sehingga membentuk semacam pinggan untuk tempat ulat sagu.

Orang Kanekap juga terkenal karena kusen – kusen perapian mereka yang menampilkan sosok – sosok leluhur mereka.  

  6. Simai

Mereka tinggal di bagian Barat Tengah Asmat, membentang mulai dari sebelah barat yang berbatasan dengan rumpun Bismam dan Joerat ke Timur hingga rumpun Kenekap, sungai Asewets Bawah membelah wilayah Simai yang berpusat di Kampung Ayam dengan rumpun Becembub.

Wilayahnya meliputi kampung Ayam, Amborep, Becow, Pau (Far – Kame), Sesakam, dan Warse yang dilintasi oleh sungai Sirets, Asewets, Sor, Pau, dan Biwir, yang masuk wilayah pemerintahan Distrik Atsj.

Orang Simai sama dengan orang Bismam dan Becembub terkenal dengan pesta patung leluhurnya (Bisj), juga rumah – rumah marganya yang besar dengan tampilan sosok leluhur pada kusen – kusen perapiannya.

  7. Bismam

Orang Bismam tinggal di daerah Asmat bagian barat di pesisir pantai Laut Arafura dan muara sungai Sirets. Wilayahnya membentang ke utara hingga tapal batas di atas sungai Asewets dan ke Timur hingga batas wilayah rumpun Simai, pusat wilayahnya di Agats.

Rumpun ini meliputi kampung Agats, Beriten, Ewer, Per, Syuru, Uwus, dan Yepem yang di lintasi oleh sungai Asewets, Seper, Pek, Bow dan Yomat yang sebagian besar masuk Distrik Agats yang juga ibukota kabupaten Asmat.

Untuk ritual upacara adatnya, motif dan bentuk ukiran yang ditampilkan tidak jauh beda dengan rumpun becembub dan Simai, terkenal dengan patung – patung rohnya (Bisj) yang menjulang ke langit dan rumah – rumah marga raksasanya.

  8. Becembub

Rumpun ini tinggal di bagian Barat Asmat, membentang di pesisir laut ke arah Timur dan berakhir di tapal batas dengan rumpun Aramatak, sedangkan di bagian utara berbatasan dengan Kanekap dan Simai serta di batasi oleh sungai Forets dengan rumpun Safan, dengan pusat wilayahnya di Atsj.

Baca Juga:  Telenggen – Ongomang Ingin Kabupaten Puncak Tenang !

Wilayahnya meliputi kampung Amanamkai, Ambisu, Ar Danim, Atsjamutsj, Atsj, Bipim, Biwar Laut, Coweu – Yameu, Omanesep, dan Yow yang di lintasi oleh sungai Assuwe, Ayip, Arowits, Bets, Yiwa, Ayip, Forets, Datsyu yang masuk wilayah pemerintahan Distrik Atsj.

Ritual upacara adat, motif dan bentuk ukiran yang ditampilkan tidak jauh beda dengan rumpun Becembub dan Simai, yakni patung – patung rohnya (Bisj) yang menjulang ke langit dalam rumah – rumah raksasa dan kusen perapian yang menampilkan sosok leluhur mereka.

  9. Safan

Rumpun Safan mendiami daerah pesisir selatan Asmat, membentang hingga pantai Kasuarina mulai dari muara sungai Forets hingga muara sungai Cuti. Sedangkan di daerah Timur berbatasan dengan daerah Auyu, Sawi, dan Kayagar yang masuk wilayah pemerintahan Kabupaten Mappi dengan pusat wilayahnya di Basim.

Rumpun ini meliputi kampung Aorket, Bagair, Basim, Bawus, Bayun, Buepis, Emene, Kayirin, Naneu, Ocenep, Piramat, Pirien, Pirimapun, Sagare, Saman, Sanem, Sanepai, Santambor, Semendoro, Simsagar, Sinakat, Taoro, Yaptambor yang dilintasi sungai Ewt, Fayit, Dere, Pantai Kasuarina, Ewta. Rumpun ini mendiami wilayah pemerintahan Distrik Fayit dan Distrik Pantai Kasuari.     

Meskipun Safan satu rumpun bahasa dengan rumpun Asmat lainnya, namun mereka memiliki 3 bagian upacara yang berbeda. Desa Ocenep dan Pirien terkenal dengan pesta patung leluhurnya, sedangkan Basim dan Yaptambor dan kampung sekitarnya terkenal dengan pesta pengangkatan anak dan upacara anak perdamaian. Sedangkan di daerah pantai dekat Pirimapun, Aworket dan kampung sekitarnya terkenal akan pesta khas mereka yakni Pesta Buaya (biniit / aum).

Motif ukiran mereka menyerupai dengan orang Becembub namun juga bercampur dengan motif dari kebudayaan Jakai dan Marind-anim. Safan juga terkenal karena kebiasaan mereka menjadikan tengkorak leluhur mereka sebagai bantal pada masa lalu.

  10. Aramatak

Rumpun ini tinggal di pedalaman Asmat bagian Timur, wilayah mereka dahulu dikenal dengan daerah “Citak” yang berbatasan dengan rumpun Unir Epmak di Utara, rumpun Kanekap di sebelah Barat, dan rumpun Yupmakcain di sebelah Timur.

Daerahnya meliputi kampung Bine, Ipem, Jinak, Karbis, Sogoni, Waganu, dan Wowi yang dialiri sungai Assuwe, Wildeman, Sirets, dan Beo yang masuk dalam pemerintahan Distrik Atsj yang berbatasan langsung dengan daerah pedalaman Distrik Citak Mitak Kabupaten Mappi. Orang Aramatak mendiami Asmat dan Mappi.

Tidak terlalu banyak karya seni dari rumpun ini yang teridentifikasi dan bisa dijadikan bahan referensi sebagai kekhasannya, demikian juga upacara dan ritualnya. Daerah ini dikenal karena sejak tahun 1970-an mulai ramai di kunjungi orang luar untuk survey minyak maupun berburu kayu gaharu.

  11. Yupmakcain

Orang Yupmakcain mendiami daerah Asmat sebelah Timur membentang hingga wilayah rumpun Brazza di Utara, Aramatak di Barat, dan kawasan Jakai ke Selatan, dan Koroway Kombay di Timur. Dulunya wilayah mereka disebut daerah “Citak Mitak” dengan pusat wilayahnya di Senggo yang kini masuk Kabupaten Mappi dan menjadi sentra pengolahan kayu gaharu.

Wilayahnya meliputi kampung Abau, Amazu, Basmam, Bina, Binamzain, Binerbis, Bisus, Buruba, Daikot, Dekamer, Ekau, Emenepe, Fomu, Gevenap, Imenbi, Komasma, Sagamu, Sagis, Samosis, Senggo, Surabi / Samosir, Tamdaka, Vakam, Wabag, Woisi, Wowi, Tiau, Tidavs, Tokemau, dan Tomanim yang di aliri sungai Becking, Dairam Hitam, Dairam Kabur, Cuti, Sirets, dan Fi.

Rumpun ini mendiami wilayah pemerintahan Distrik Suator dan sebagian di wilayah Kabupaten Boven Digoel dan Mappi.    

Secara motif dan bentuk seni ukir mereka mirip dengan rumpun Brazza dan Aramatak yang terkenal dengan perisai dan perlengkapan perangnya. Namun untuk ritual dan dan upacara lainnya tidak terlalu di ketahui orang.

  12. Bras (Brazza)

Orang Brazza mendiami daerah terpencil di Asmat bagian Timur Laut dengan menempati daerah yang agak tinggi. Orang Bras bisa di bilang masih adalah pengembara sejati, hubungan dengan dunia luar baru mulai ada sekitar tahun 1971-an. Sebelumnya mereka hidup berkelompok dengan satuan keluarga mereka dalam rumah besar yang dibangun di atas pepohonan yang tinggi dengan pusat wialayahnya di Binam.

Wilayahnya meliputi kampung Asarep, Assamur, Batusun, Burbis, Bras, Butukatnau, Patipi, Piramanak, Sepana, Tami, Wagobis, dan Wotu yang di aliri sungai Kolep, Brazza, Sirets, dan Beo yang masuk wilayah pemerintahan Distrik Suator dan berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel, Yahukimo dan Mappi.

Dalam hal seni ukir dan budayanya memiliki daya tarik tersendiri, dimana banyak ditemukan perisai (salawaku) dan peralatan perang lainnya yang bernilai tinggi, namun data mengenai beberapa ritual dan upacara adat mereka tidak terlalu banyak diketahui.  

Berikan Komentar Anda