Memandang Papua dan Indonesia Dari Mata Kristus

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua Djuli Mambaya (baju putih) saat memperkenalkan para seniman yang akan mengerjakan Patung Tuhan Yesus Kristus di pulau Kayu Batu Kota Jayapura Provinsi Papua.

Patung Tuhan Yesus Kristus bukan sekedar sebuah monument setinggi 100 meter, atau hanya berburu rekor sebagai yang tertinggi di dunia, guna menciptakan destinasi wisata rohani, tetapi ia harus menjadi semacam ruh yang mampu menghadirkan suasana spiritual dan memberikan nuansa religius dalam keseharian orang yang bermukim di Papua, dan memberikan energy positif bagi setiap yang memandang apalagi mendatanginya, sehingga Takut akan Tuhan benar – benar hidup dalam setiap hati, kata, dan perbuatan orang Papua.

Oleh : Walhamri Wahid

Namanya Noor Ibrahim, perawakan gempal, dengan brewok dan cambang serta rambut gondrong khas seniman lebat menghias wajahnya, dari namanya sudah menunjukkan identitas keyakinannya sebagai muslim, tetapi dia mengaku juga penganut Kejawen, tapi di urusan seni, jangan ditanya, sudah ratusan patung Tuhan Yesus dan ornament agama Kristen dalam berbagai bentuk dan ukuran sudah ia hasilkan untuk konsumsi dalam negeri maupun luar negeri.

“saya pikir dimensi terpenting dalam kebudayaan dan kehidupan adalah seni, dengan karya seni kita bisa menumbuhkan nasionalisme, sifat Ketuhanan yang tulus, menghadirkan nuansa religius dan menumbuhkan perasaan spiritualis melalui karya – karya seni, termasuk melalui pembuatan Patung Tuhan Yesus di pulau Kayu Batu ini”, kata Noor Ibrahim, Quality Control Proyek dan Desainer Patung Tuhan Yesus mencoba menggambarkan konsepnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh si penggagas Patung Tuhan Yesus, Lukas Enembe sebagaimana yang ia dengar dari Kadinas PU Papua, Djuli Mambaya selama ini.

Ia mengaku takjub dengan lokasi Patung Tuhan Yesus di Kayu Batu, karena bukan hanya memenuhi unsur seni, tetapi secara theologis, filosofi maupun geografis semuanya mendukung dan akan menjadikan Papua sebagai icon dunia dan kebanggaan Indonesia.

“alam dan lokasinya sendiri sangat bagus, indah, saya sudah lihat sendiri, dengan adanya patung ini akan menghadirkan nuansa religi dalam keseharian orang Papua, menurut saya orang akan jadi lebih baik, selalu takut akan Tuhan”, katanya di dampingi beberapa rekan timnya, Sabtu (22/4/2017) di VIP Room Bandara Sentani.

Baca Juga:  Verifikasi Keaslian Orang Papua Bakal Calon, MRP Bentuk Empat Tim Turun ke Kampung Halaman

Dipilihnya Noor Ibrahim sebagai Kepala Tim pengerjaan patung Tuhan Yesus Kristus yang tertinggi di dunia adalah tepat, mengingat dia memiliki historis yang panjang dan jam terbang tinggi dalam penggarapan karya – karya seni yang bernuansa kristiani.

Seperti di kutip dari hurek.blogspot.com, pekerja seni jebolan Institut Seni Indonesia Yogjakarta Jurusan Seni Pahat yang selalu menggunakan energy positif dari perpaduan alam dan manusia dalam menciptakan karya seninya itu adalah pengagum sosok Yesus Kristus.

"Saya mengagumi Yesus Kristus walaupun saya muslim, menurut saya, Yesus pada zamannya adalah sosok yang berani melawan kekerasan dengan cinta kasih”, kata Noor Ibrahim yang di bulan Mei 2009 pernah menggelar pameran karya – karya yang bertajuk Holy Art di Kemang Icon, Jakarta yang bertepatan dengan Hari Raya Paskah.

Ketika itu sedikitnya 25 patung dan lukisan karynya yang bertema kristiani ia pamerkan, mulai dari Kisah Jalan Salib (Dolorosa), Roh Kudus, malaikat pengawal dan Bunda Maria, dan beberapa patung – patung Yesus dalam berbagai pose.

Lukisan Noor Ibrahim berjudul Mencari Wajah Yesus, terdiri dari 17 sketsa, yang menggambarkan beberapa perkiraan wajah Yesus, juga ada enam lukisan yang menggambarkan Yesus tergantung di kayu salib dilihat dari berbagai sudut pandang.

"Ide pameran tunggal ini karena saya ingin menegaskan budaya toleransi di Indonesia, sebenarnya Indonesia punya sejarah toleransi yang begitu mengakar, saat masih bernama Nusantara, jumlah etnis di sini ada 310 lho, tapi keadaan damai-damai saja”, kata lelaki kelahiran Magelang ini ketika itu seperti di kutip dari hurek.blogspot.com.

Beberapa pameran karya seni fenomenal lainnya yang pernah ia gelar diantaranya event Terracotta Biennale, pameran karya seni berbahan tanah liat yang juga di ikuti perupa seluruh dunia di tahun 2015 lalu, dimana salah satu masterpiece karyanya, patung Gusdur, Presiden ke- 4 RI sedang menengadahkan tangan seperti berdoa dengan peci dan setelan jas duduk diatas bola bergambar peta dunia di beli oleh seorang kolektor dengan harga puluhan juta.

Baca Juga:  Muswil IV KAHMI Papua, Ahmad Idrus Ogah Dicalonkan Kembali

Terkait patung Tuhan Yesus di pulau Kayu Batu sendiri menurutnya memiliki nilai filosofi yang mendalam, dimana ia akan mewujudkan ide dan keinginan sang penggagas, Lukas Enembe agar patung tersebut nantinya bukan sekeda monument tertinggi di dunia, tetapi mampu menjadi inspirasi, motivasi, dan ruh dalam kehidupan orang Papua seluruhnya.

“bahannya nanti dari tembaga dan perunggu juga beton, tetapi ada beberapa bagian yang akan berlapis dengan emas sebagai perlambang bahwa Papua ini adalah tanah yang kaya dengan emas, ada dua buah lift untuk sampai ke bagian wajah patung, tepatnya di bagian mata, sehingga dari kejauhan nantinya terlihat seperti mata Tuhan Yesus bergerak – gerak, karena hilir mudiknya orang, dimana nanti ada dinding kaca di bagian mata, 5 – 6 orang dapat naik ke sana untuk melihat Kota Jayapura, jadi filosofinya adalah ‘memandang Papua dan Indonesia dari mata Kristus”, jelas Noor Ibrahim.

Sedangkan pose patung Tuhan Yesus yang mengembangkan dua buah tangannya pertanda tengah memberkati tanah Papua dan Indonesia, karena posisinya selain menghadap ke Kota Jayapura juga sama dengan tengah menatap wilayah Indonesia khususnya wilayah Timur.

“tim yang terlibat ini yang tergabung dalam Omah Semut, sebuah komunitas seni di Museum Maestro lukis Indonesia, Affandi, bahkan ada cucu Affandi yang terlibat dalam tim ini, juga ada beberapa seniman Ancol seperti Mas Cubung, dan Roni Mala dari Toraja”, kata Noor sambil memanggil Didi Affandi dan beberapa rekan seniman lainnya untuk memperkenalkan diri.

Sedangkan waktu pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar 1 – 1,5 tahun, dimana awalnya patung di kerjakan secara utuh di Yogjakarta dahulu, kemudian di potong menjadi beberapa bagian dan di bawa ke Kayu Batu seperti rangkaian puzzle, lalu di pasang kembali di lokasinya.

Baca Juga:  Dukung Keterbukaan Informasi, Komisi I Desak Sekretariat DPRP Segera Bentuk PPID

“Saya yakin ini akan jadi icon dan menjadi destinasi wisata internasional seperti yang di Brazil, karena lokasinya bagus, dekat dengan pantai yang indah, kawasan permukiman warga, kita lihat lansekapnya dari atas, indah sekali”, kata pematung yang juga pernah mengerjakan beberapa patung dan ornament gereja Katolik Kristus Raja yang megah di Pantai Indak Kapuk Jakarta itu.

Ia menambahkan nantinya tim yang dibawahi hanya khusus mengerjakan patung Tuhan Yesus dan diorama tentang kisah masuknya Injil di Tanah Papua maupun Jayapura, sedangkan bangunan fisik lainnya termasuk taman – taman oleh pihak lainnya yang menjadi rekanan Pemerintah Provinsi.

Beberapa pameran karya seni lainnya yang pernah di adakan oleh Noor Ibrahim diantaranya First Prize in “Animal Painting” di Surabaya (1982), Group Exhibition “Sendata” di Surabaya Art Council (1987), di tahun 1988 berturut – turut ia memamerkan karyanya dalam event bertajuk Sculpture Exibition di Malang dan Surabaya, Lustrum Architecture Exibition di Universitas Brawijaya, Malang, Painting and Sculpture Exhibition Sendata di PPIA Surabaya.

Di tahun 1989 tercatat 3 pameran yang ia gelar yakni Solo Exhibition, Group Exhibition “Sendata di Art Center Bali dan Malang, Monumen Economic di Universitas Gajah Mada (1992), Art Festival Yogyakarta (1997), Trio Exhibition, Katirin, Noor Ibrahim dan Klowor Waldiyono di Melia Purosini Hotel Yogyakarta (1999), Terumbu Karang di Museum Nasional Jakarta (2001), Borobudur – Borobudur di Museum H. Widayat Magelang (2002), Not Just Political di Magelang, Circle di Point Open Biennale Jakarta (2003) Art Fire di Singapore (2004), Art for Aceh di Taman Budaya Yogyakarta (2005), Banjir di Aryaseni Gallery Singapore (2005), dan masih banyak lagi pameran yang sudah pernah ia gelar baik di dalam negeri maupun di luar negeri. (***)

Berikan Komentar Anda