Menengok Masjid Kubah Emas Depok

Lima kubahnya berlapis emas 24 karat setebal 2 – 3 mm. Relief hiasan di atas mihrab dan bagian dalam berlamur emas 18 karat. 168 pilarnya berlapis prado (sisa emas), lampu – lampu  gantungnya terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton. Bangunan megah diatas lahan seluas 50 Ha yang dibangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid ini diberi nama masjid Dian Al Mahri, namun lebih dikenal dengan nama Masjid Kubah Emas.  

Oleh    : Walhamri Wahid

Selama mengkuti kegiatan dari salah satu lembaga internasional di Depok beberapa waktu lalu, dari dalam bus yang mengangkut rombongan peserta beberapa kali saya melalui sebuah masjid nan megah yang menggoda mata saya dan seakan memanggil untuk  mampir menunaikan shalat lima waktu di masjid itu, juga selalu mengusik penglihatan dan memancing rasa ingin tahu saya, kilauan emasnya dari kejauhan benar – benar membuat saya penasaran.

Usai kegiatan akhirnya saya berkesempatan menyambangi ikon Kota Depok, Masjid Dian Al Mahri atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kubah Emas yang berlokasi di Jalan Maruyung Raya, Kel. Meruyung, Kecamatan Limo Kota Depok, Jawa Barat.

Kawasan seluas kurang lebih 70 hektar itu tidak pernah sepi dari pengunjung, bukan hanya dikunjungi saat masuk waktu shalat atau oleh umat muslim saja, namun masjid ini dibuka untuk umum, namun ada beberapa bagian yang tidak bisa dimasuki oleh pengunjung non muslim yang sekedar berwisata seperti saya, misalnya area dalam masjid, bahkan pengunjung dilarang berfoto di dalamnya, termasuk menara masjid, harus steril dari pengunjung.

Khusus untuk hari Kamis, area masjid di tutup untuk umum,  menurut pengurus masjid, hari kamis digunakan untuk keperluan persiapan ibadah shalat Jumat keesokan harinya. Sedangkan pada hari lainnya masjid dibuka pukul 10.00 – 20.00 dan untuk shalat subuh hingga pukul 07.00 pagi

Baca Juga:  Pencanangan Musda DPD Golkar Wilayah Tabi, BTM Sebagai ‘Tuan Rumah’ Kok Tidak Hadir ?

“tamu ramenya hari Jumat sampai Minggu, kalau hari Minggu bisa nyampe ribuan orang yang datang, kalau Jumatan masjid bisa penuh sampai 5 ribuan jemaat, daya tampung masjidnya sendiri bisa muat 15 ribu jemaat shalat, kalau jemaat pengajian bisa nyampe 20 ribu jemaat”, jelas salah seorang pengurus masjid yang saya temui di tempat penitipan sandal.

Akhirnya di sela – sela kegiatan saat waktu shalat Dhuhur tiba, saya mendapatkan kesempatan untuk menyambangi masjid Dian Al Mahri atau Masjid Kubah Emas, ternyata bukan hanya kaum muslim saja yang memadati areal masjid, terlihat juga beberapa pengunjung non muslim di areal masjid yang ingin mengabadikan kemegahannya.

Bagi yang non muslim, cukup membayar karcis diperbolehkan masuk menyisiri jalan paving blok yang luas dan rapi membelah taman yang hijau dan asri penuh dengan bunga warna – warni, benar – benar menyejukkan mata. Tampak beberapa ibu tengah asyik membersihkan taman yang luas itu.

Akhirnya saya sampai di pintu masuk, ada dua pintu rupanya, pintu yang pertama adalah pintu masuk khusus pria, sedangkan pintu masuk untuk wanita masih harus berjalan 100 meter lagi ke belakang.

 Ada 2 lorong dengan tangga menurun yang menjadi tempat penitipan sendal dan sepatu. Selesai menitip alas kaki, kami kembali dihadapkan dengan tangga yang menanjak. Di sebelah kanan, terdapat tempat wudhu. Selesai mensucikan diri, saya menuju komplek dalam masjid untuk ikut shalat Dhuhur berjamaah terlebih dahulu, barulah nanti akan mencari tahu informasi tentang masjid ini, untuk menuju ke dalam masjid saya menyusuri aula dan lorong dalam yang kental dengan arsitektur bergaya Timur Tengah, sebuah lorong panjang menjulang ke atas di topang dengan pilar – pilar megah di sisi kanan kirinya.

Baca Juga:  Potensi Sumber Daya Air di Papua Banyak, Tapi Marketnya Kecil

Masjid Dian Al Mahri berkapasitas 20 ribu jemaah berdiri kokoh di atas lahan seluas 50 hektare. Mulai dibangun April 1999 oleh seorang pengusaha asal Banten bernama Hj Dian Juriah Maimun Al Rasyid, istri dari Drs H. Maimun Al Rasyid, yang membeli tanah kawasan ini sejak tahun 1996.

Rencananya, selain masjid, lahan ini akan dijadikan kawasan terpadu yang diberi nama Islamic Centre Dian Al – Mahri yang terdiri dari lembaga dakwah, rumah tinggal dan beberapa sarana penunjang lainnya sebagai salah satu destinasi wisata religi di Kota Depok.

Masjid ini dibuka untuk umum 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha 1427 H. Pembangunannya sendiri dimulai sejak tahun 1999, bangunan masjid menempati areal seluas 60 x 120 meter atau sekitar 8.000 m2 yang terdiri dari bangunan utama, mezamin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, ruang sepatu, dan ruang wudhu.

Masjid ini memiliki 5 kubah, sebuah kubah utama yang menyerupai kubah Taj Mahal di India dengan diameter bawah 16m, tengah 20m, dan tinggi 25m, dan 4 kubah kecil dengan diameter bawah 6m, tengah 7m, dan tinggi 8m, yang semuanya dilapisi emas setebal 2 – 3 milimeter dan mozaik kristal.

Relief hiasan di atas tempat imam, pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit – langit masjid berlapis emas 18 karat. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado (sisa emas).

Ruang utama masjid berukuran 45×57 meter, dapat menampung sebanyak 8.000 jamaah. Ada 6 minaret berbentuk segi enam berbalut granit abu – abu dari Itali dengan ornamen melingkar yang tingginya masing-masing 40 meter. Di puncak minaret ada kubah berlapis mozaik emas 24 karat yang di impor langsung dari Italia.

Baca Juga:  Kunker ke Papua, Komisi V DPR RI Pertanyakan Tidak Adanya Pejabat OAP di Mitra Kerjanya

Kubah masjid ini mengacu kubah yang digunakan masjid-masjid Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam. Pada langit-langit kubah terdapat lukisan langit yang warnanya dapat berubah sesuai dengan warna langit pada waktu-waktu sholat dengan menggunakan teknologi tata cahaya yang diprogram dengan komputer.

Interior masjid menampilkan pilar-pilar kokoh yang tinggi menjulang menciptakan nuansa agung dan “wah”. Warna monokrom dan krem mendominasi interior dalam masjid menebarkan suasana tenang dan hangat. Katanya bahan marmer yang digunakan didatangkan langsung dari Turki dan Italia. Keberadaan lampu gantung kristal yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton di beberapa sudut ruangan semakin membuat kita takjub akan kemegahan bangunan tersebut.

Dari informasi yang saya dapat, material emas yang digunakan masjid ini menggunakan 3 teknik pemasangan yakni : (1)  serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota/pilar, (2) gold plating yang terdapat pada lampu gantung, ralling tangga mezanin, pagar mezanin, ornament kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornament dekoratif diatas mimbar mihrab, dan (3) gold mozaik solid yang terdapat di kubah utama dan kubah menara. Tidak ada informasi akurat berapa besar biaya pembangunan masjid ini, demikian juga jumlah emas yang digunakan.

Tidak susah untuk menjangkau daerah ini, untuk kita yang dari luar daerah, cukup menginjakkan kaki ke Kota Depok, dan menanyakan kepada seluruh warga kota Depok, tidak ada yang tidak mengetahui lokasi masjid kubah emas tersebut.

Usai mengunjungi Kubah Emas, saya punya kesan tersendiri, rupanya kehidupan tenggang rasa antar pemeluk agama juga terjaga baik di kawasan itu, tak ada sekat antar  pengunjung muslim dan non muslim. Terbayar sudah rasa penasaran saya ! (***)  

Berikan Komentar Anda