Menangkan Tender 21 Miliar, Ini 8 Rute Penerbangan Perintis Yang Dilayani Dmonim Air

Jayapura (LP)—Sebanyak 8 rute penerbangan perintis dari Sentani ke beberapa pedalaman Papua saat ini sudah dilayani oleh Dmonim Air yang berbadan hukum PT. Marta Buana Abadi, setelah perusahaan ini memenangkan lelang pengadaan Subsidi Angkutan Udara Perintis Jayapura 8 Rute melalui LPSE di Kementerian Perhubungan, Satuan Kerja (Satker) Bandar Udara Sentani dengan nilai kontrak Rp. 21,3 Miliar.

“rute yang kita layani Jayapura – Batom (PP), Jayapura – Dabra (PP), Jayapura – Borme (PP), Jayapura – Karubaga (PP), Jayapura – Luban (PP), Jayapura – Illu (PP), Jayapura – Mamberamo Raya (PP), Jayapura – Elelim (PP)”, kata Yoki Maulana, Koordinator Wilayah Base Papua saat ditemui Lingkar Papua, Kamis (27/4/2017) di kantor Dmonim Air yang beralamat di Jalan Bandara, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Menurut Yoki, untuk jalur perintis bersumber dari APBN Tahun 2017, sehingga rute dan tarifnya sudah diperhitungkan berdasarkan perencanaan dari Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Utama Sentani, sehingga pihaknya hanya menjalankan saja.

“nanti coba langsung ke hanggar saja yah ke counter Dmonim untuk minta daftar harga per rutenya, saya tidak ingat detailnya”, kata Yoki ketika di tanya soal tariff perintis untuk 8 rute yang dilayani Dmonim Air.

Dari price list yang diberikan staff reservasi di counter Dmonim Air di Jalan Hanggar Yabaso, Bandara Sentani, untuk rute Jayapura – Batom tertulis harga Rp. 350.400, rute Jayapura – Dabra Rp. 350.400, rute Jayapura – Borme Rp. 340.500, rute Jayapura – Karubaga Rp. 283.300, rute Jayapura – Luban Rp. 247.000, rute Jayapura – Illu Rp. 285.500, rute Jayapura – Memberamo Raya (Kasonaweja) Rp. 350.400, dan rute Jayapura – Elelim Rp. 283.000., dimana harga tersebut sudah termasuk Pajak (PPN) 10 persen dari tariff dasar ditambah Asuransi (IWJR) Rp. 5.000

Baca Juga:  Film Bumi Manusia, Menyadur Romantisme Nasionalis 'Novel Terlarang' ke Layar Kaca

Terkait jadwal menurutnya Dmonim Air hanya melaksanakan volume pekerjaan yang sudah ditetapkan oleh Bandara Udara Sentani, dengan volume pekerjaan tersebut, maka mereka menyusun jadwal tiap minggunya ke masing – masing daerah.

“dalam sebulan kan’ ada 4 minggu, untuk sesuaikan target yang ditetapkan oleh pimpinan Bandara, kita buatkan jadwal, misalnya minggu pertama 2 kali, minggu kedua 1 kali, minggu ketiga 2 kali dan minggu keempat 1 kali di hari yang sama, kalau volume atau jumlah trip dalam setahun saya kurang tahu mas, karena kami di lapangan cuma melaksanakan saja, jadi kami tidak tahu soal kontrak tendernya seperti apa”, kata Yoki lagi ketika ditanya soal berapa total volume pekerjaan (trip) yang harus di selesaikan oleh Dmonim dalam 1 tahun kerja sesuai kontrak lelangnya.

Sedangkan jenis pesawat yang digunakan untuk melayani rute – rute dimaksud, Dmonim Air menggunakan pesawat Cessna Caravan dengan kapasitas angkutan maksimal 1 ton baik barang maupun orang.

“pesawat yang kita gunakan Cessna Caravan, untuk orangnya bisa 12 orang, jadi total dengan barang maksimal 1 ton sekali penerbangan, untuk teknisnya mirip dengan Susi Air sudah”, kata Yoki.

Baca Juga:  Ini Cara Rakyat Malaysia Bantu Pemerintahnya Bayar Hutang Negara Rp. 3.500 Triliun

Menurutnya selama ini Dmonim Air tidak pernah melayani rute regular untuk 8 rute dimaksud, kecuali untuk rute perintis saja, sehingga selaku Koordinator Wilayah Base Sentani tidak tahu pasti berapa tariff regular (komersil) ke rute – rute yang saat ini dilayani oleh Dmonim Air.

“tidak ada penerbangan regular Dmonim ke daerah – daerah itu, kami hanya tangani perintis saja selama ini, tidak ada regular, kecuali ada permintaan (carteran) baru kita layani ke sana”, katanya lagi.

Ketika ditanyakan soal tariff carteran Dmonim Air untuk jenis pesawat yang sama ke masing – masing rute tersebut, ia menolak untuk mempublikasikannya karena belum ada ijin dari pimpinannya, meskipun wartawan Lingkar Papua mencoba memberikan pemahaman bahwa tariff angkutan itu termasuk informasi publik yang boleh di akses dan diketahui publik, karena sudah ada ketentuan mengenai tariff semua jenis angkutan yang beroperasi di Indonesia, di sisi lain juga bisa membantu mempromosikan bisnis pelaku usaha.

“kalau tariffnya kita tidak bisa publikasikan, saya harus ijin dengan pimpinan dahulu kalau mau publikasikan tariff carter, juga menjaga harga dengan yang lainnya, jadi kami tidak bisa publikasikan”, katanya ketus.

Selain 8 rute tadi yang dimenangkan tendernya oleh Dmonim Air dengan badan hukum PT. Marta Buana Abadi, dari informasi lelang di website LPSE Provinsi Papua, ada dua paket lelang subsidi perintis lainnya yang juga dimenangkan oleh PT. Marta Buana Abadi yang beralamat di Jalan Cimandiri No. 6, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.

Baca Juga:  Satgas Yonif 121/MK Paparkan Dampak Narkoba, Seks Bebas dan HIV/AIDS di SMAN 5 Arso

Yakni Subsidi Angkutan Udara Perintis (Paket I) dengan pagu anggaran Rp. 4,3 Miliar, yang dimenangkan oleh PT. Marta Buana Abadi dengan harga penawaran sebesar Rp. 4,1 Miliar dengan sumber dana dari APBN 2017 melalui Kementerian Perhubungan dengan Satkernya Unit Pelayanan Bandara Udara (UPBU) Nop Goliat Dekai.

Tender kedua, Subsidi Angkutan Udara Perintis (Paket II) dengan pagu anggaran Rp. 3,9 Miliar, yang dimenangkan oleh PT. Marta Buana Abadi juga dengan harga penawaran sebesar Rp. 2,2 Miliar dengan sumber dana yang sama dari APBN 2017 melalui Kementerian Perhubungan dengan Satkernya Unit Penyelenggara Bandara Udara (UPBU) Nop Goliat Dekai juga.

Ketiga lelang Subsidi Angkutan Udara Perintis baik yang Jayapura 8 Rute, maupun Paket I dan Paket II seperti tercantum dalam informasi lelang di LPSE di mulai tahapan pelelangannya sejak 11 Januari 2017 dan penanda tanganan kontraknya per 7 Februari 2017.

“saya kurang tahu soal yang di Dekai, karena itu administrasinya sendiri di Dekai, tapi kalau tidak salah itu tidak ke Jayapura, hanya melayani rute – rute dari Dekai ke beberapa daerah sekitar seperti ke Silimo, Anggruk, Suru – Suru, atau Ninia”, kata lelaki berkaca mata itu menambahkan bahwa untuk penerbangan perintis sejak tahun 2016 Dmonim juga sudah mendapatkan proyeknya, tetapi hanya untuk 3 rute saja yakni Burme, Batom dan Dabra. (amr/R1)

Berikan Komentar Anda