Liput Sidang Pelanggaran Pemilu KPUD Tolikara, Tiga Wartawan Diancam Dan Dipaksa Hapus Hasil Liputan

Ricardo Hutahaean, kontributor Metro TV (foto document tabloidjubi.com)

Wamena (LP)—Tindakan intimidasi, pengancaman dan pelarangan melakukan tugas jurnalistik kembali dialami 3 orang jurnalis yang bertugas di Papua.

Tiga wartawan tersebut yakni Richardo Hutahaean (Metro TV), Yudi (Jaya TV), dan Mesak Item (TVRI) di paksa oleh sekelompok orang untuk menghapus hasil liputan mereka dari dalam kamera, jika mereka tidak mau menghapus maka keselamatan mereka menjadi taruhannya.

“yang kepung kita di dalam ruangan itu sekitar 20-an orang, ada yang bau alcohol, macam – macam bahasanya, intinya mengancam bila kami meliput, dan tidak menghapus hasil liputan kami sebelumnya, atau bila kami publikasikan persidangan itu, maka keselatamatan kami jadi taruhannya”, kata Ricardo Hutahaean, contributor Metro TV wilayah Papua yang juga adalah Ketua Ikatakan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Provinsi Papua, Sabtu (29/4/2017) melalui saluran telepon dengan Lingkar Papua.

Menurutnya ia dan kedua rekan lainnya saat ini sedang ‘bersembunyi’ di suatu tempat yang aman, karena mereka masih khawatir bila kelompok yang mengancam itu masih mencari ketiganya.

Menurut Ricardo, kejadian bermula saat ketiganya hendak meliput persidangan tindak pelanggaran Pemilu yang menghadirkan 5 Komisioner KPUD Tolikara sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Wamena, Jayawijaya, Papua, Jumat (28/4/2017) sekitar pukul 11.00 WIT, saat memasuki ruang sidang ketiganya mengaku sudah sempat dilarang oleh Hakim Ketua untuk berada di dalam ruangan dan ditanyakan maksud dan tujuannya.

Baca Juga:  Remisi Idul Fitri Untuk Tiga Koruptor dari Sorong Tunggu SK Dirjen Kumham

“tapi setelah kami serahkan kartu pers melalui Panitera, dan menjelaskan maksud dan tujuan, akhirnya Hakim Ketua membolehkan kami tiga meliput sepanjang tidak menggangu jalannya persidangan, saya sempat juga bertanya – tanya dalam hati dan diskusi dengan teman, sidang ini kok tidak ada pengamanan dari kepolisian e, padahal resiko kerawanannya cukup besar”, kata Ricardo mengatakan bahwa saat sidang berlangsung tidak ada satupun anggota polisi berpakaian seragam bertugas pengamanan di area seputar ruang sidang ataupun di dalam ruang sidang.

Saat mencoba mengambil gambar suasana ruang sidang yang berisi massa yang duduk di dalam ruang sidang, beberapa orang sempat protes dan melarang ketiganya untuk mengambil gambar massa yang ada di dalam ruangan.

“kami sempat di larang massa yang ada di dalam ruang sidang, tapi Hakim membela kami dan menjelaskan bahwa kami sedang jalankan tugas, jadi tidak boleh di larang, karena Hakim kasih penjelasan, jadi pengunjung sidang diam”, kata Ricardo lagi.

Baca Juga:  LUKMEN Ajak Jaga Kebhinekaan, Tokoh Agama di Nabire Satukan Barisan Untuk Nomor Satu

Saat sidang di skors, Panitera mengajak ketiga wartawan tersebut masuk ke salah satu ruangan di sebelah kanan ruang sidang, saat sidang di lanjutkan, ketiga wartawan ini tidak ikut masuk ke dalam ruang sidang kembali, tapi mereka masih duduk – duduk di dalam ruangan berbincang – bincang dan menanti sesi wawancara dengan pihak pengadilan.

“saat itulah datang dua orang menemui kami, mereka menanyakan maksud dan tujuan kami, mengapa kami baru datang meliput hari ini, padahal kemarin tidak meliput, kami jelaskan apa adanya, karena kami dari luar Wamena jadi tidak bisa seketika tiba di wamen, dan baru sempat hari ini tiba, tapi mereka kayaknya tidak terima dan keluar panggil teman – teman lainnya”, kata Ricardo.

Berselang beberapa menit kemudian sekitar 20-an massa datang mengepung ketiga wartawan di dalam ruangan tersebut, dan tidak boleh keluar dari ruangan sebelum menyerahkan hasil liputan tadi, intimidasi dan ancaman akan melakukan tindakan yang mengancam keselamatan wartawan apabila mereka tidak mau menyerahkan hasil liputan, menghapus, dan sama sekali tidak boleh memberitakan persidangan hari itu.

Baca Juga:  Kecewa Dengan Kinerja Penyelenggara, Massa Bakar Graha Pemilu Pertama di Indonesia

“kami sudah coba jelaskan baik – baik, bahwa tujuan kami hanya meliput, tapi mereka memaksa, demi keselamatan kami, kami mengalah, akhirnya kamera kami di rampas, mereka hapus gambar video yang sudah kami ambil, dan akhirnya ada beberapa orang yang datang melerai dan mengevakuasi kami dari kantor pengadilan saat itu juga, tapi massa tetap memaki, ancam, dan mengintimidasi kami bertiga”, katanya lagi.

Hingga berita ini dimuat belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait ketiadaan aparat yang mengamankan jalannya persidangan kemarin, padahal semestinya aparat sudah bisa membaca potensi dan kerawanan yang kemungkinan terjadi.

Selaku Ketua IJTI, Ricardo mengatakan telah berkoordinasi secara organisasi dengan teman – teman IJTI pusat, prioritas utama mereka adalah mereka bisa mengamankan diri atau keluar dari Kota Wamena dengan aman dahulu.

“nanti kita akan lihat dan koordinasi dahulu, yang penting kami bertiga aman dahulu”, katanya. (amr/r1)

Berikan Komentar Anda