Menakar Nilai Proyek Monumen Patung Tuhan Yesus Rp 500 Miliar

Patung Tuhan Yesus di Bukit Swajah Pulau Kayu Batu bisa menjadi simbolisasi dan semangat mentransformasikan nilai – nilai religius dan spiritual ke masyarakat, juga menjadi refleksi kehidupan social budaya, harga diri, kehidupan rohani dan kultural orang Papua. Dari aspek penataan kota, tentunya akan menjadi landmark, icon bahkan destinasi wisata rohani yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah. Semua sepakat soal itu, tetapi dengan anggaran yang mendekati APBD sebuah kabupaten, Rp 500 Miliar, banyak yang bertanya, Wajarkah ???

Oleh : Walhamri Wahid

Keberadaan monument dalam bentuk patung ataupun benda – benda bernuansa seni lainnya dalam lansekap sebuah kota belakangan menjadi kebutuhan, bukan sekedar sebagai pelengkap, tetapi menjadi keharusan, karena majunya pembangunan sebuah daerah bukan hanya di ukur dari banyaknya gedung bertingkat, atau mulusnya ruas jalan semata, tetapi bagaimana menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang juga menyajikan unsur public art, syukur – syukur bisa mentransformasi nilai – nilai historis dan semangat positif lainnya kepada warga.

Secara komersil, dipastikan pembangunan sebuah monument dianggap sebagai sebuah hal yang mubazir, menghamburkan biaya, tidak menguntungkan, namun bedanya pemerintah dengan swasta dalam hal profit, karena bagi pemerintah membangun bukan soal untung rugi, tapi soal bagaimana bisa menyediakan layanan public yang baik dan memadai, termasuk untuk hiburan dan taman rekreasi, sehingga hasil pembangunan itu sebagai sarana untuk menginspirasi dan menggerakan rakyat.

Fungsi monument bagi sebuah kota, yang pertama, bisa menjadi penunjuk (Ladmark), sehingga mudah di lihat, di ingat, dan di identifikasi jati diri atau ciri khas kota tersebut, seperti yang kita tahu, Monas menjadi landmark Jakarta, Kota Bandung terkenal dengan Gedung Sate-nya, di tingkat dunia, kota Rio de Jeneiro, Brazil juga terkenal dengan patung Kristus Sang Penebus-nya, atau Paris dengan Menara Eiffel-nya.

Dampak secara langsung dengan adanya sebuah icon bagi suatu daerah, sudah pasti akan menjadi daerah destinasi wisata baru, sehingga mengundang orang dari segala penjuru dunia untuk datang berkunjung, dan lambat laun menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitar maupun daerah secara langsung, dengan terbukanya peluang kerja dan peluang usaha untuk memenuhi segala macam kebutuhan pelancong.

Kedua, monument bisa mengandung nilai estetika, menambah keindahan kota, sehingga kota nampak hidup, memiliki ruh, tidak terasa gersang. Estetika adalah penyeimbang kehidupan, bagaimana menyeimbngkan antara unsur materi dengan unsur rasa (hati).

Fungsi ketiga sebagai sarana rekreasi dan komunikasi, sebuah monumen berada di tanah lapang atau dikelilingi taman indah yang merupakan ruang public, masyarakat bisa berkumpul, bercengkerama, ada interaksi dalam suasana rileks, sehingga terciptalah suasana harmonis, sehingga kehidupan warga kota lebih manusiawi.

Keempat, monument bisa menjadi sarana edukasi, baik dalam arti luas maupun arti sempit, dapat membangun kesadaran masyarakat terkait norma-norma sosial, hukum, budaya, agama, dan pelestarian lingkungan. Proses belajar mengajar tak mesti di dalam kelas, tapi bisa dengan mengenalkan langsung kepada lingkungan sosial, alam, atau obyek tertentu, diantaranya monumen.

Baca Juga:  Penanganan Korban Kebakaran di Pasar Arso Kota

Yang menjadi masalah, bila pembangunan monument itu menggunakan uang rakyat dalam jumlah fantastis, di tengah tumpukan kebutuhan mendasar yang belum tercukupi secara baik, apalagi untuk daerah yang berada di nomor satu tertinggi tingkat kemiskinannya, 22% dengan tingkat pengangguran 5,5% per September 2016,

Memang benar yang mau di bangun itu monument Tuhan Yesus, sebagai orang beragama kita pasti juga berpikir, kenapa untuk kemuliaan dan kebesaran Tuhan, harus perhitungan yah, semua orang pasti sepakat dan mendukung pembangunan patung Tuhan Yesus, namun yang menjadi pertanyaan orang awam, berapa sih biaya sebenarnya yang dibutuhkan, apa benar sampai menghabiskan dana Rp. 500 Miliar, itu untuk apa saja, wajar tidak sih ? itu aja kok !”.

Dalam beberapa kesempatan, Kadinas PU Provinsi Papua, Djuli Mambaya mewacanakan dana yang dipersiapkan untuk membangun Patung Tuhan Yesus sebesar Rp. 500 Miliar, dimana dana itu sudah termasuk di dalamnya untuk pembukaan jalan ke lokasi diatas bukit sebesar Rp. 15 Miliar di mulai tahun ini.

Angka Rp. 500 Miliar itu bukan hanya untuk pembangunan patungnya saja, karena nantinya ada sejumlah fasilitas penunjang diantaranya museum, taman, bangunan tiga lantai yang akan difungsikan sebagai Museum, dermaga laut, sekaligus area untuk pengunjung, serta fasilitas public lainnya.

Konsep patung Tuhan Yesus di Bukit Swajah, Pulau Kayu Batu Jayapura, menurut keterangan Noor Ibrahim, selaku Quality Control proyek pembuatan patung yang melibatkan beberapa orang seniman kenamaan, bahannya dari perunggu dan tembaga, nantinya ada beberapa bagian yang dilapisi emas, di dalamnya ada dua lift, untuk pengunjung sampai ke bagian mata, tinggi patungnya sendiri antara 50 m – 67 m, dengan konstruksi pondasi di bawahnya, total keseluruhan tinggi patung sekitar 100 m.

Nantinya di bagian bawah patung atau bagian dari museum juga disajikan diorama, cerita dalam bentuk miniature tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau adegan sejarah tentang kisah masuknya Injil di Tanah Papua, baik di Provinsi Papua maupun Papua Barat dari semua denominasi gereja yang ada di Tanah Papua, seperti relief cerita pewayangan pada dinding Candi Borobudur yang fenomenal itu.

Bila menyimak beberapa kali penjelasan Kadinas PU melalui media, nampaknya belum ada perencanaan matang dan riil cost terkait proyek ini, semuanya masih bersifat ancar – ancar, atau diwacanakan, meski di dalam LPSE sendiri sudah ada lelang perencanaan penataan kawasan Tugu patung Tuhan Yesus dengan nilai kontrak sekitar Rp. 200.000.000 yang dimenangkan oleh PT. Secon Dwitunggal Putra yang beralamat di Jalan Desa No. 26c, Kiara Condong, Bandung Jawa barat.

Baca Juga:  LDII Kabupaten Jayapura Berbagi, Daging Qurban Didistribusikan Juga ke Warga Non Muslim

“sudah ada memang perencanaan awalnya yang sudah di presentasikan, tapi kita revisi, karena ada beberapa hal yang tidak sesuai, baik secara budaya, maupun teologisnya”, kata Djuli Mambaya dalam sesi wawancara dengan wartawan di VIP Room Bandara Sentani, beberapa waktu lalu usai melakukan survey udara dengan sejumlah seniman dari Jogjakarta yang akan mengerjakan patungnya.

Monumen Patung Tuhan Yesus, bukanlah yang pertama di bangun di muka bumi ini, di beberapa negara ataupun daerah di Indonesia, patung Tuhan Yesus menjadi landmark dan icon sebuah negara ataupun daerah, sudah pasti menjadi derah destinasi wisata juga, namun harga yang dianggarkan tidak sefantastis patung Tuhan Yesus yang akan di bangun di pulau Kayu Batu tentunya.

Sebut saja Monumen Yesus Memberkati di ketinggian bukit Kompleks Perumahan Citraland Manado yang dibangun dengan 60 ton material yang terdiri dari 25 ton fiber dan 35 ton baja, sehingga menghasilkan patung Tuhan Yesus setinggi 30 meter dengan lebar 17 meter, yang biaya pembuatannya hanya sebesar Rp. 5 Miliar.

Mengingat patung itu dibangun oleh pihak swasta, Ir. Ciputra dan hanya di atas tanah seluas 500 meter persegi, jadi kita bisa maklumi jelas lebih efisien dalam penggunaan dana, karena tidak ada biaya pajak, biaya studi banding, biaya perencanaan, biaya pengawasan, dan biata entertaintment, bahkan biaya fee dan komisi seperti lazimnya di kebanyakan proyek – proyek pemerintah.

Salah satu contoh patung Tuhan Yesus yang di ongkosi dari uang rakyat melalui APBD adalah patung Tuhan Yesus di Buntu Burake, Tana Toraja, patung setinggi 40 meter yang terdiri tinggi patungnya saja 23 meter, dan tinggi bangunan bawahnya 17 meter yang kini juga menjadi icon Toraja itu, dibangun dengan dana sebesar Rp. 22 Miliar, yang dikerjakan selama 2 tahun, sejak 2013 hingga pertengahan 2015.

Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) juga tak mau kalah, di tahun ini, 2017 seperti dilansir kompas.com akhir tahun 2016 lalu, Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 54 Miliar untuk membangun patung Tuhan Yesus yang juga di klaim tertinggi di dunia, yakni setinggi 58 meter.

Dimana pembangunan patung Yesus Kristus Raja setinggi 58 meter lengkap dengan Taman Doa-nya itu akan dilakukan di bukit Neonbat, Kelurahan Maubeli, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU yang direncanakan akan tuntas pada tahun 2019 mendatang, dimana tahun ini sudah dimulai pembangunannya.

“Patung yang nanti kita bangun itu lebih tinggi dari patung Kristus Raja di Brazil (38 meter), Timor Leste (27 meter) dan di Toraja (40 meter), karena memiliki tinggi 58 meter, pemilihan ukuran setinggi 58 meter tersebut didasarkan pada tahun berdirinya kabupaten TTU, 1958”, kata,” kata Raymundus di Kefamenanu, Jumat (9/12/2016) seperti di lansir kompas.com.

Baca Juga:  KLB Asmat dan Setumpuk Persoalan Papua, Tanggung Jawab Siapa ?

Menurut Bupati, tujuan pembangunan patung Yesus tersebut bertujuan untuk lebih memperkenalkan daerahnya, sehingga kabupaten TTU akan makin terkenal secara nasional maupun internasional, sehingga ia kepikiran membangun Rumah Doa dan Monument patung Yesus Kristus Raja yang tertinggi di dunia kelak.

Keunikan dari patung Yesus Kristus Raja di kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Provinsi NTT, karena lokasinya berdekatan dengan masjid, dimana hal itu disengaja untuk menggambarkan betapa tingginya toleransi antar umat beragama di daerah tersebut.

Sehingga, kalau Pemerintah Provinsi Papua ingin menjadikan patung Tuhan Yesus di pulau Kayu Batu yang tertinggi di dunia, harus melebihi ukuran yang sedang di bangun di Timor Tengah Utara (TTU) saat ini, yakni 58 meter.

Menengok ke Papua Barat, disana ada patung Kristus Raja di kawasan wisata rohani pulau Mansinam, dimana di daerah itu berdiri megah patung Kristus Raja berbahan perunggu setinggi 15 meter, yang untuk pembangunan patungnya saja menghabiskan 23,3 Miliar, sedangkan pembangunan seluruh kawasan wisata pulau Mansinam menghabiskan anggaran sebesar Rp. 141, 7 Miliar yang waktu itu diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dimana total anggaran Rp. 141,7 Miliar yang bersumber dari APBN, APBD Provinsi dan kabupaten itu untuk membangun Dermaga (24,3 Miliar), kantor pengelola (2,4 Miliar), museum plus ruangan terbuka public (10,9 Miliar), gereja + open space / pelataran (19.4 Miliar), termasuk juga areal kawasan kampung wisata yang di dalamnya terdapat kantor Kepala Kampung (632 juta), Puskesmas (1,031 M), SD Satu Atap (3,2 Miliar), TK (891 juta), rumah penduduk type 50 unit (19.1 Miliar).

Balai Kampung / Tempat Pertunjukan (1,06 Miliar), Pasar Desa 8 unit (684 juta), Rumah Guru dan Dokter Type 45 10 unit (3,7 Miliar), Gardu PLTD dan kantor rumah jaga (1 Miliar), patung Kristus Raja 23,2 Miliar, selter dan Area terbuka dan peralatan landmark (6,4 Miliar), jalan lingkar dan jalan konstruksi beton 11,663 Km (17,3 Miliar), Rest Area dan Selter PKL (1,8 Miliar), Jasa Perencanaan include PPN (2,9 Miliar), pengawasan include PPn (1,9 Miliar).

Di level dunia, patung Tuhan Yesus yang menempati urutan 1 tertinggi di dunia yakni patung Raja Kristus di kota kecil Swiebotsin, Polandia dengan tinggi 50,9 meter yang dibangun selama dua tahun dari 2008 – 2010 yang menghabiskan dana sekitar Rp. 13,5 Miliar, dimana dananya di kumpulkan swadaya dari warga masyarakat.

Kira – kira seberapa megahnya yah, kalau patung Tuhan Yesus di bukit Swajah pulau Kayu Batu senilai Rp 500 Miliar itu jadi ??? (***)

Berikan Komentar Anda