Panti Asuhan SHALOM Arso VIII, Tempat Memprihatinkan, Tapi Tak Pernah Kelaparan

Panti Asuhan Shaloom yang berada di Arso VIII Kabupaten Keerom (Foto: Amri/LP)

Ruang tamu berukuran 6 x 3 beralas karpet buluk menjadi alas tidur 26 anak perempuan penghuni panti, ruang makan mereka hanyalah sebuah meja yang selalu dikerumuni lalat di bagian teras yang juga difungsikan sebagai ruang menerima tamu, tiga buah kamar dan sebuah gudang di bagian belakang penuh dengan tumpukan sembako, mereka tidak mungkin kelaparan, apalagi sampai gizi buruk. Tapi tempat yang tidak layak dan kondisi lingkungan yang kurang sehat, tempat ini jauh dari standarisasi pelayanan sebuah Panti Asuhan, apalagi Opung Harison Manurung, sebagai pemilik, pengelola seorang diri mengasuh 26 anak perempuan yang kesemuanya Orang Asli Papua (OAP) itu.

Oleh : Walhamri Wahid

Orangnya ramah, penampilannya sederhana, bercelana pendek dengan baju putih berkerah yang terlihat kumal dengan beberapa robekan – robekan kecil di bagian bajunya, dialah Harison Manurung, pemilik, pengelola yang sekaligus merangkap menjadi pengasuh 26 anak – anak perempuan asli Papua yang saat ini di tampung pada Panti Asuhan Shalom Kampung Dukwia Arso VIII, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua.

“saya sejak tahun 1997 sudah mulai melakukan kegiatan ini dengan keterbatasan saya, sambil menjalankan tugas penginjilan, saya masuk keluar kampung di pedalaman Papua, bahkan saya sampai ke suku Koroway yang masih terasing itu, karena saya sudah membaur, dan orang tuanya mempercayai saya, sehingga ada beberapa anak – anak dari pedalaman itu yang saya bawa keluar dan tinggal bersama saya disini”, kata Harison Manurung, yang akrab di panggil Opung oleh seluruh anak – anak panti.

Ia mengaku dulunya berprofesi sebagai pelaut yang berlayar mengarungi samudera ke beberapa negara, namun karena merasa terpanggil, akhirnya ia menekuni profesinya yang sekarang sebagai pengasuh bagi anak – anak asli Papua dari pedalaman.

“misi saya adalah bagaimana saya membawa mereka keluar dari ketertinggalan mereka di hutan – hutan, dengan melihat kehidupan masyarakat kota yang lebih terbuka, akan membuka wawasan mereka, sehingga suatu saat kelak mereka akan kembali ke kampung masing – masing bisa menjadi agen perubahan”, kata Harison Manurung.

Kegiatan pelayanannya sendiri mulai menetap di Kampung Dukwia Arso VIII sejak tahun 2000, awalnya menempati rumah transmigrasi di tengah – tengah kampung, namun setelah mendapatkan hibah lahan seluas ¾ hektar dari salah seorang sodaranya yang juga seorang pendeta, akhirnya kini Panti Asuhan Shalom menempati areal yang cukup memadai, agak jauh dari permukiman warga.

“kalau kegiatan di tempat ini mulai aktif sekitar tahun 2000, tapi terorganisir dan tercatat sebagai Panti Asuhan baru aktif di tahun 2010 lalu, jadi legalitasnya ada semua, ada akta yayasan, dan juga sudah terdaftar di Dinas Sosial Pemda Keerom”, katanya lagi tanpa menyebut apa nama Yayasan yang menaungi Panti Asuhan Shalom tersebut.

Awalnya jumlah anak yang diasuhnya mulai dari 2 anak, terus bertambah, hingga 4 anak, dan di tahun 2015 lalu sempat berjumlah 41 anak yang terdiri dari anak laki – laki 17 orang, dan anak perempuan 24 orang, tapi sejak tahun 2016 sisa anak perempuan saja yang jumlahnya 26 orang.

“dulu saya jemput bola, jadi orang tua dan kerabat mereka semua masih ada, ada yang dari Pegunungan Bintang, Mappi, dan Boven Digoel, tapi 2 tahun belakangan ini, saya sudah tidak jemput bola lagi, biasanya ada keluarga mereka atau anak – anak yang pernah tinggal dengan saya yang membawakan anak – anak ini untuk dititipkan di Panti ini”, jelasnya soal asal – usul seluruh penghuni Pantinya itu.

Baca Juga:  Pemerintahan Pegubin Lumpuh, Bandara dan Kantor KPUD di Palang, Warga Minta Mendagri Copot Bupati

Salah satu anak penghuni panti asuhan Shaloom saat belajar hanya dapat dilakukan dilantai.

Opung Manurung menceritakan bagaimana suka dukanya untuk bisa membujuk orang tua dan membawa anak – anak tersebut keluar dari kampung halaman mereka, karena terkadang dia harus tinggal dan menyatu dulu dengan warga kampung dan keluarga si anak untuk mendapatkan kepercayaan, agar bisa membawa anak – anak itu ikut dengannya, terkadang nyawa jadi taruhannya.

Menurutnya tidak ada batasan waktu yang pasti berapa lama anak – anak ini boleh tinggal bersamanya, semuanya fleksibel dan tidak ada aturan yang ketat untuk menahan anak – anak itu agar tetap tinggal di panti.

“kalau saya sih menyebut tempat ini sebagai Smelter (Rumah Singgah), hanya karena persyaratan administrasi sehingga harus disebut Panti Asuhan, mereka boleh datang dan pergi semau mereka saja, kalau tidak betah anak – anak ini mau pergi, saya tidak bisa menahan, atau kalau ada kerabat dan keluarganya yang datang ambil, jadi bebas, tapi yang paling lama yang pernah tinggal dengan saya sampai umur 12 tahun, sampai sekolah SMP”, kata Manurung.

Menurutnya apa yang ia kerjakan saat ini adalah misi kemanusiaan, ia ingin mewujudkan apa yang jadi harapan orang tua mereka.

“harapan orang tua mereka, jangan sampai kehidupan anak – anak ini lebih buruk dari mereka, orang tuanya, itu yang ingin saya wujudkan”, kata Opung Manurung lagi.

Ke- 26 anak – anak perempuan yang tinggal bersamanya saat ini bersekolah di SD Negeri Arso VIII, untuk biaya sekolah dan kebutuhan mereka lainnya selama ini di penuhi dari bantuan dan sumbangan hamba – hamba Tuhan yang peduli terhadap apa yang ia kerjakan selama ini.

“mulai makan, minum, pakaian, dan kebutuhan sekolah, termasuk kebutuhan saya juga di biayai oleh orang per orang yang peduli, karena saya sendiri tidak memiliki pekerjaan tetap, waktu, tenaga dan pikiran saya sepenuhnya saya curahkan untuk mengurus mereka semua”, kata Opung Manurung yang mengaku hingga kini belum berkeluarga, karena ia sudah memutuskan jalan hidupnya untuk menjadi pelayan bagi anak – anak penghuni panti.

Selain bantuan dari orang per orang yang peduli, menurutnya selama ini juga ada perhatian rutin dari Pemerintah baik di tingkat Kabupaten Keerom maupun dari Provinsi, tapi ia mengakui bahwa penopang utamanya dari sumbangan orang per orang yang peduli.

“kalau hanya harap bantuan dari Pemda, tidak akan mencukupi kebutuhan anak – anak ini, dari Pemda Keerom kami rutin menerima bantuan sembako dua kali dalam setahun, dari Pemprov juga biasa tiba – tiba datang bawa bantuan, termasuk bangunan di belakang itu bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Keerom, sudah jadi, tapi belum di serahkan ke kami secara resmi makanya belum kami gunakan, tapi kuncinya ada pada kami”, kata Opung sambil menunjuk dua kopel bangunan yang terlihat baru di bagian belakang lokasi panti.

Yang terlibat dalam pengelolaan Panti Asuhan Shalom bukan dirinya sendiri, ada dua orang sodaranya juga yang ikut terlibat sebagai pengurus, tetapi mereka lebih focus bagaimana mengetuk hati orang pribadi dan hamba – hamba Tuhan untuk peduli terhadap misi kemanusiaan yang mereka emban, sedangkan Opung Herson Manurung yang sehari – hari mengurus ke- 26 anak – anak perempuan penghuni panti.   

Baca Juga:  Rekrut 177 Guru Kontrak, Ini Jurus Jitu Bupati Markum Cari Guru Yang Siap dan Betah di Pedalaman

Beberapa anak panti asuhan Shaloom melakukan tugas rutinnya sehabis pulang sekolah.

Opung menegaskan bahwa selama ini semua penghuni Panti Asuhan Shalom tidak pernah kelaparan, apalagi sampai gizi buruk, karena sumbangan sembako yang diterima dari hamba – hamba Tuhan, dari Pemda, lebih dari cukup, bahkan kemarin HUT Panti, Opung bersama anak – anak panti berbagi ke warga kampung sekitar yang masuk kategeori miskin.

“untuk bantuan dari Pemda Keerom selama ini berupa sembako, tidak pernah ada uang, terakhir mereka drop akhir tahun 2016 kemarin, sesekali juga ada sumbangan insidentil, seperti kemarin dalam rangka HUT Keerom, Dinas Sosial ada membawakan bantuan dari Bupati untuk kami, termasuk Dinas Sosial Pemprov juga belum lama ini memberikan kami 20 karton ikan kaleng”, jelas Opung Manurung yang menolak menyebutkan secara detail bantuan yang diterimanya, takutnya nanti ada salah paham dengan pihak penyumbang.

Saat Lingkar Papua menengok beberapa ruangan yang ada di dalam Panti Asuhan Shalom, memang terlihat tumpukan sembako baik beras, maupun makanan kaleng dan kebutuhan lainnya bertumpuk – tumpuk memenuhi 2 ruangan kamar pengasuh, 1 ruang kantor, dan 1 gudang di bagian belakang, bahkan saat ini Opung tengah menuntaskan pembangunan gudang yang lumayan besar untuk menampung sembako bantuan yang mereka terima.

“ini kamar saya sebenarnya, tapi penuh dengan barang, terpaksa saya tidur di situ”, kata Opung sambil menunjuk sebuah dipan kecil berbalut kelambu yang terdapat di ruangan belakang yang biasa digunakan anak – anak belajar sambil tengkurap.

Yang memprihatinkan dari Panti Asuhan Shalom ini adalah ketersediaan sarana dan prasarana bagi anak – anak yang kesemuanya perempuan itu, karena sehari – hari ke- 26 anak – anak itu tidur bersama – sama di ruangan tamu tanpa alas, kalaupun ada beralas kasur yang sudah bulukan.

Untuk berganti pakaian atau tempat pakaian mereka ada sebuah ruangan kosong di bagian belakang berisi rak – rak pakaian bekas yang jauh dari kata layak, dimana untuk pakaian, mereka terbiasa juga mendapat sumbangan pakaian bekas dari hamba – hamba Tuhan yang peduli.

“bangunan ini juga bantuan dari Pangdam Cristian Zebua, jadi pernah kunjungan kesini, karena saat itu saya baru bisa mendirikan rangka, akhirnya di bantu oleh Pangdam sampai tuntas, termasuk Kapolres Keerom dan Satgas Pamtas juga ada membantu kami dua buah MCK tahun 2015 lalu”, kata Opung sambil menunjuk ke MCK yang ada di salah satu sudut halaman Panti Asuhan itu.

Bantuan dari Pangdam lainnya adalah berupa ternak sapi, dimana menurut Opung Manurung ada lima ekor yang sapi dewasa dan beberapa ekor anakan.

Bangunan Panti Asuhan Shalom yang semi permanen itu terdiri dari sebuah teras semi terbuka, dimana ruangan ini selain di fungsikan sebagai tempat menerima tamu, di salah satu sudutnya juga terdapat meja panjang yang nampaknya di fungsikan sebagai ‘ruang makan’ anak – anak, saat Lingkar Papua menyambangi tempat itu, terlihat sebuah baskom berisi nasi dan lauk pauk seadanya yang tertutup oleh kertas, dengan kumpulan lalat di bagian atasnya.

Baca Juga:  Giliran JOHSUA Jalani Tes Bebas Narkoba, JWW Ngaku Sudah Punya Formula Berantas Narkoba di Papua

“beginilah kondisi kami, untuk dapur masih gunakan kayu bakar, dan masaknya di luar, tapi kami sedang membuat dapur umum di bagian belakang”, kata Opung sambil menunjuk sebuah pondok – pondok kecil tanpa dinding yang difungsikan sebagai dapur sehari – hari, sedangkan di bagian belakang panti terlihat seorang tukang sedang bekerja membuat dapur umum yang lebih layak.

Meja makan yang selalu digunakan penghuni panti asuhan Shalom

Saat Lingkar Papua tiba di Panti Asuhan, bertepatan dengan anak – anak penghuni panti pulang sekolah, dimana mereka langsung melakukan aktifitas masing – masing, ada yang mencuci pakaiannya, ada yang bermain, dan ada beberapa yang sibuk mengerjakan PR-nya.

“untuk makan, saya menyesuaikan dengan kebiasaan mereka waktu di kampung dan orang tuanya, kalau dulunya mereka terbiasa hanya makan sekali sehari atau dua kali sehari, yah saya juga menyesuaikan, jadi tidak ada jadwal jam tetap, karena mereka ini masih terbiasa dengan kehidupan sebelumnya yang tidak mengerti soal jam makan dan waktu”, kata Opung Manurung ketika di tanyakan soal menu dan waktu makan anak – anak penghuni Panti.

Hal itu terjadi juga karena dia yang menyediakan seluruh kebutuhan ke- 26 anak – anak tersebut, sesekali ada relawan dari warga kampung yang datang membantunya memasak, tapi itu tidak rutin, karena menurutnya sifatnya adalah relawan, jadi dia tidak bisa memaksa mereka untuk rutin membantu.

“aktifitas mereka bangun jam 04.00 WIT, biasa ibadah dulu, terus bersih – bersih rumah, jam 06.30 WIT siap – siap pergi ke sekolah, pulang sekolah mereka ada kegiatan masing – masing, tapi karena sekarang ini lebih banyak anak – anak, jadi mereka lebih banyak bermain, untuk sarapan pagi, kalau ada makanan yang bisa sempat saya siapkan, yah mereka makan dulu, tapi ada juga yang tidak terbiasa sarapan pagi, atau mungkin terlambat makan dan kehabisan, jadi menyesuaikan saja, dengan kondisi yang ada”, kata Opung lagi.

“kami tidak punya donatur tetap, makanya tidak mungkin saya menggaji pengasuh untuk mengurus anak – anak ini semua, jadi saya yang tangani semua sendiri, dengan di bantu oleh mereka yang sudah agak besar dan bisa membantu”, kata Opung Manurung ketika ditanyakan mengapa tidak menggaji pengasuh untuk memastikan agar anak – anak ini makan teratur 3 kali sehari, karena hanya dirinya sendiri yang mengurus selama ini.

Anak – anak Panti Asuhan Shalom dipastikan akan menikmati makanan enak, bila ada pengunjung yang membawakan sumbangan nasi kotak, dan menurutnya hal itu seringkali terjadi bila ada orang dari kota yang berulang tahun, dan mengirimkan nasi kotak ke panti tersebut.

Terkait dua buah kopel bangunan yang telah dibangunkan oleh Pemda Keerom namun belum ditempati, menurut Opung Manurung, sedianya bangunan itu akan dijadikan kamar tidur anak – anak panti, namun belum ada penyerahan dari Pemda.

Dari pantauan Lingkar Papua ke bangunan tersebut, meski belum ditempati namun di beberapa bagian teras bangunan sudah terlihat retak merekah, sedangkan dua buah ruangan besar yang ada di dalamnya saat ini difungsikan sebagai gudang untuk menyimpan kasur – kasur bekas dan tempat tidur bekas yang menurut Opung di dapatkan dari eks salah satu rumah sakit di Jayapura. (***)

Berikan Komentar Anda