Pemukulan Wartawan Jubi Sudah Dilapor Ke Polisi

Eveert Joumilena, Ketua AJI Jayapura

Jayapura (LP)—Setelah tindakan intimidasi dan perampasan kamera serta penghapusan hasil liputan terhadap 3 orang wartawan di Wamena beberapa hari lalu, Senin (1/5/2017) kembali terjadi kekerasan terhadap jurnalis di Papua, kali ini menimpa seorang wartawan Koran Jubi bernama Yance Wanda, yang mengalami kekerasan oleh beberapa oknum anggota polisi yang bertugas di Mapolres Kota Jayapura.

Akibat tindak kekerasan tersebut, yang bersangkutan mengalami sejumlah luka di bagian tubuh dan wajahnya, dan menindaklanjuti insiden itu, Selasa (2/5/2017), Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura dan Pimpinan Redaksi Koran Jubi Dominggus Mampioper mendatangi Propam Polda Papua untuk membuat laporan terkait hal itu.

“kita sudah buat laporan tadi ke Polda Papua kita dorong agar kasusnya di proses ke ranah hukum”, kata Eveert Joumilena kepada Lingkar Papua via chatting Facebook semalam.

Seperti dilansir oleh Tabloidjubi.com, Senin (1/5/2017) peristiwa naas itu berawal ketika Yance Wanda hendak meliput ke pasar, tetapi di tengah jalan ia melihat ada penangkapan sejumlah anggota KNPB yang di bawa ke Mapolres Jayapura, dan akhirnya ia mengikuti hingga ke Mapolres, tetapi ia mengaku tidak masuk ke halaman Mapolres, namun hanya di luar saja.

"Saya jauh dari massa. Ketika massa dibawa masuk Polres, saya duduk di kios depan Polres. Saya tidak ambil gambar. Saya hanya mengamati. Tidak lama, seorang anggota polisi datang. Dia membuka kacamata saya. Dia bertanya kepada saya, saya jawab saya wartawan", kata Yance Wanda menjelaskan kronologisnya seperti di lansir tabloidjubi.com.

Baca Juga:  Dilantik Jadi Ketua Alumni FKM Uncen, Yulianus Dwaa Wacanakan Perlunya Perdasus Rekrutmen Pegawai Daerah Untuk Jawab Kebutuhan SDM Medis Papua

Menurut keterangan Yance, saat ia hendak mengeluarkan surat tugas dari dalam tasnya, seorang anggota polisi lain datang merampas tas Yance, dan kemudian beberapa anggota polisi lainnya menarik dirinya ke dalam Mapolres sambil melepaskan tendangan dan pukulan ke tubuhnya.

"Tiba di Polres, saya diperiksa. Disuruh buka baju. Mereka tanya saya, saya bilang saya wartawan. Mereka periksa tas saya dan menemukan surat tugas saya”, kata Yance.

Setelah di mintai keterangan sejak jam 09.00 WIT, akhirnya pukul 13.40 WIT, barulah ia di lepaskan.

Kapolres Jayapura, AKBP. Gustav Urbinas seperti di lansir tabloidjubi.com membenarkan insiden tersebut, menurutnya Yance ikut diamankan karena yang bersangkutan datang bersama simpatisan massa lainnya yang ingin mengecek rekan – rekan mereka yang terlebih dahulu diamankan Polres.

Baca Juga:  Nilai Demo Kader Golkar ‘By Design’, Giliran Aziz Samual Tebar Ancaman Sanksi

"Dia bergabung dengan mereka. Dia tidak menggunakan kartu pers. Setelah diamankan baru dipertanyakan. Setelah sampai di dalam baru dia mengaku wartawan. Kemudian dicek tidak ada id card. Yang ada hanya surat tugas yang di scan", jelas AKBP Gustav Urbinas.

Menurutnya, setelah polisi mengetahui Yance adalah wartawan, ia dipulangkan. Kapolres Jayapura juga membantah jika yang bersangkutan mengalami tindak kekerasan dari anggota polisi.

"Tidak ada luka. Dia satu rombongan dengan mereka. Seandainya dia punya tanda pengenal wartawan, kan pasti polisi tahu. Dia tidak menggunakan apa-apa jadi. Dia membaur. Dia tidak menunjukkan indentitasnya sebagai wartawan," katanya.

Mengenai surat tugas ini, pemimpin redaksi Koran Jubi, Dominggus Mampioper mengatakan yang bersangkutan memang masih wartawan magang atau wartawan baru, karena kebijakan redaksi di medianya untuk mengantongi Id Card atau Kartu Pers harus melalui masa kerja minimal 12 – 18 bulan dahulu.

Baca Juga:  Freeport Indonesia, Assetnya 146 Triliun, Bayar Pajak Air Ke Pemprov Papua Kok Nyicil ?

Ketua AJI Jayapura, Eveert Joumilena kepada Lingkar Papua semalam menjelaskan bahwa kepolisian perlu lebih sedikit mengerem tindakan keras terhadap warga sipil, harusnya bisa lebih persuasive, dengan memintai identitas terlebih dahulu.

“anggota harus lebih sering diberikan pemahaman tentang UU Pers, agar tidak salah paham dengan peran dan fungsi pers, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi, mestinya kan mintai dan periksa dulu identitas orang, bukan main kipas saja”, kata Eveert sembari berharap kasus – kasus seperti ini tidak terulang lagi.(amr/R1)

Berikan Komentar Anda