Diduga Korban Malpraktek, Bayi Empat Bulan Radang Otak dan Buta Mata Kiri

Bayi Muh. Kuchen Sefandi yang sedang dalam perawatan rumah sakit seusai operasi di bagian kepala. (Sumber foto: akun Facebook Nurganipaokuma)

Keerom (LP) – Muh. Kuchen Sefandi bayi berumur empat bulan lebih ini terpaksa harus ditangani secara intensif oleh pihak dokter RSUD Dok II setelah mengalami radang otak dan kerusakan pada mata kiri yang mengakibatkan kebutaan.

Hal ini terjadi setelah sang bayi berobat sakit malaria di RSUD Kwaingga Kabupaten Keerom.

Nuripah Anjayani. ibu sang bayi, saat dihubungi Lingkar Papua menceritakan awalnya anaknya sempat demam di rumah dan dibawa ke Puskesmas Arso III untuk mendapat penanganan medis. Hasil pemeriksaan menyimpulkan sang bayi mengidap penyakit malaria tersiana dan harus dirawat inap.

“Awalnya memang kami kesana hasilnya malaria tersiana. Tapi setelah satu hari satu malam karena kondisinya tidak berubah dirujuk ke RSUD Kwaingga,” ungkap Nuripah saat dihubungi via handphonennya Rabu (3/5/2017).

Selama tiga hari perawatan di RSUD Kwaingga Nuripah mengungkapkan bayinya mengalami kejang-kejang, keterangan dari dokter yang menangani itu disebabkan likosit yang tinggi. Masuk hari ke empat mata kirinya terlihat mulai memerah.

“Saya sempat tanya ke suster tapi dijawab itu hanya sakit mata biasa saja. Tapi anehnya sudah begitu kondisinya tidak dikasih obat apa-apa untuk mata anak saya,” bebernya.

Baca Juga:  Selama Ini Lowong, 547 Posisi di Pemprov Papua Dilantik Penjabat Gubernur Kemarin

Setelah lima hari dalam perawatan RSUD Kwaingga, Kuchen dirujuk ke rumah sakit Marthen Indey di Kota Jayapura. Dalam penanganan dokter disana, dinyatakan Kuchen mengalami penyakit radang otak dan kerusakan mata sebelah kiri.

“Kaget saya mas atas vonis dokter radang otak sama mata kirinya rusak dan divonis tidak bisa melihat. Dari keterangan dokter juga kami peroleh informasi penyebabnya diperkirakan karena kelebihan dosis obat,” ungkapnya.

Setelah tiga belas hari menjalani perawatan di rumah sakit Marthen Indey, Kuchen dipindahkan ke rumah sakit Bhayangkara dan mendapat perawatan selama dua puluh lima hari. Dan Selasa 2 April Kuchen menjalani operasi pada kepalanya, untuk menangani radang otak.

“Kemarin sudah operasi di kepala mas. Untuk mata belum tahu kapan penanganannya. Kami hanya bisa berdoa dan berharap kesembuhan dari Tuhan,” ujarnya.

Menurut  Nuripah saat ini pihak keluarganya belum memikirkan langkah selanjutnya dalam penanganan masalah yang dialami anaknya.

“Saat ini belum tau mas mau gimana. Tapi kami fokus sama kesembuhan Kuchen. Mudah-mudahan kejadian ini didengar sama petinggi-petinggi diatas sana, biar ada perhatian dan penanganan terhadap rumah sakit kita,” ungkapnya penuh harap.

Baca Juga:  Invisible Hand atau Invisible Corruption ?

Sementara itu Kepala OPD Kesehatan Keerom dr. Ronny Situmorang saat dihubungi Lingkar Papua mengaku belum mendapat laporan adanya kejadian tersebut. Namun masalah ini akan segera dikroscek ke RSUD Kwaingga untuk mendapatkan penjelasan.

“Belum tau karena belum ada laporan masuk ke dinas. Pasien atas nama siapakah? Biar saya cari tahu dulu bagaimana kronologi kejadiannya,” ujar Ronny dalam pesan singkatnya kepada Lingkar Papua Rabu (3/5).

Bambang Mujiono, Ketua Komisi C DPRD Keerom saat diminta tanggapannya mengatakan, pihaknya akan mengecek masalah tersebut dengan memanggil Direktur RSUD Kwaingga dan Kepala OPD Kesehatan Kabupaten Keerom.

“Saya juga dapat informasinya ada saya lihat di Facebook ada unggahan tentang kondisi adik Kuchen. Kami akan tangani ini dengan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Kami juga akan melihat langsung kondisi adik Kuchen,” ungkapnya saat dihubungi via aplika Whatshap.

Menurut Bambang saat ini pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah masalah tersebut adalah malpraktek di RSUD Kwaingga atau tidak, karena hal tersebut perlu dilakukan penelitian lebih dalam. Namun semisalnya itu terjadi karena benar-benar kesalahan prosedur di rumah sakit milik Pemerintah Keerom, itu dapat diartikan ada masalah dalam rumah sakit tersebut.

Baca Juga:  Beredar Video Penyiksaan Warga Papua Diduga oleh TPN – OPM, Ketua DPRP Nilai Itu Kriminal Bukan Perjuangan

“Kalau memang benar itu masalah kelebihan dosis obat, berarti pelayanan rumah sakit kita yang bermasalah. Dan itu tanda bahwa rumah sakit harus ada dokter spesialis anak tetap, karena setau saya hingga sekarang dokter spesialis tersebut hanya dokter dikontrak sementara, itu pun datang diwaktu-waktu tertentu saja,” ungkapnya.

Masalah ini menurut anggota DPRD dari PKS ini, tidak bisa dianggap sepele oleh OPD Kesehatan maupun RSUD Kwaingga karena hal ini bisa berdampak kepada takutnya masyarakat untuk berobat ke rumah sakit daerah.

“Bisa saja nanti masyarakat yang mau bawa anaknya berobat ke rumah sakit jadi takut nasibnya sama dengan adik Kuchen ini. Makanya instansi terkait harus cepat mengatasi masalah ini,” ungkapnya.

Direktur RSUD Kwaingga yang baru kemarin di ganti, dr. Raimon Ridhoto, saat di konfirmasi per telepon Rabu (3/5/2017) pukul 19.30 WIT hanya menjawab singkat lalu mematikan handphonenya.

"soal itu tanyakan saja ke UGD di RSUD Kwaingga", kata dr. Raimon Ridhoto yang saat pasien di rawat di RSUD Kwaingga masih menjabat sebagai Direktur RSUD, dan kemarin baru saja diganti dengan Direktur baru (alf/r1)

Berikan Komentar Anda