Pendeta Keluhkan Sekolah Seperti Gudang, Bupati Pertanyakan Kinerja Pemimpin Sebelumnya

Kiri: Pdt. David Wompere dan Kanan: Bupati Keerom Drs Celcius Watae, MH saat berdialog dalam pertemuan di Kampung Skofro Senin (1/5) (Foto: Alfred)

Keerom (LP) – Menanggapi keluhan dari seorang pendeta terkait bangunan sekolah di Kampung Skofro yang menurutnya seperti gudang dan tidak layak, apalagi mengingat Kampung Skofro adalah berandanya Indonesia dengan negara tetangga, Papua Neuw Guinea (PNG), Bupati Keerom, Drs. Celcius Watae, MH mempertanyakan dan terkesan menyalahkan kepemimpinan di Keerom periode sebelumnya, yakni di era Yusuf Wally – Muh. Markum.

“Saya tidak tahu lima tahun lalu itu prosesnya seperti apa, dalam kondisi seperti itu pasti potret lima tahun masih ada sampai sekarang, kalau lima tahun lalu baik dibangun, pasti tidak ada soal seperti ini, pemerataan mungkin tidak terjadi, sampai sekolah di korbankan, tapi untuk periode sekarang akan saya perintahkan OPD Pendidikan untuk turun melihat semua sekolah”, kata Bupati menjawab keluhan Pdt. David Wompere, dalam acara dialog dengan masyarakat Kampung Skofro, Senin (1/5/2017) lalu.

Seperti yang di ungkapkan Pdt. David Wompere, salah satu tokoh agama dan pelayan gereja di Kampung Skofro, menurutnya kalau memang nantinya Kampung Skofro akan dijadikan pintu masuknya “sawit import”, dari PNG untuk di olah jadi CPO di PTPN II Arso, ada baiknya pemerintah membenahi dahulu beberapa infrastruktur di kampung tersebut.

Baca Juga:  Baru 1 Bulan Dilantik Kadinas PU Papua, Djuli Mambaya Deklarasi Maju Cagub Sulsel

“kami sudah pernah audiens dan mengeluh ke DPRD Keerom, kalau memang Skofro ini akan dijadikan beranda terdepan dengan negara tetangga, yang hubungkan dua negara, bukan jalan saja yang di bangun, tapi kami mau sekolah yang ada di Skofro modelnya jangan seperti gudang untuk tampung kakao, harus lebih baik, biar negara tetangga lihat citranya bagus”, kata Pdt. David di hadapan Bupati Keerom, Ketua DPRD Keerom, Syahabuddin, SP dan Kepala Biro Perbatasan dan Kerjasama Luar Negeri Provinsi Papua, Suzanna Wanggai, S.Pd, M.Soc, dan Konsulat Jenderal PNG, Jefri Membi yang hadir di Kampung Skofro beberapa hari lalu.

Selain itu, Pdt. David juga mengeluhkan minimnya perhatian Pemda untuk pembinaan mental dan iman masyarakat di Kampung Skofro, sehingga dirinya sebagai hamba Tuhan harus bekerja sama dengan gereja – gereja dari PNG untuk melakukan pelayanan dan pembinaan iman ke warga setempat.

Baca Juga:  Boy Rafli Amar, 16 Tahun Lalu Pergi Sebagai Kabagserse Umum, Hari Ini Kembali Sebagai Kapolda Papua

“Hari ini kami kerja berat, kami butuh dukungan Pemda terhadap gereja di wilayah ini, karena sampai hari ini banyak warga yang belum mengenal Tuhan”, katanya lagi berharap semestinya kualitas jalan di Skofro bisa sebagus di Skouw ke Wutung.

Menjawab keluhan tersebut, Bupati Keerom berjanji akan menindak lanjuti, menurut Bupati dengan dijadikannya Kampung Skofro sebagai pintu masuk dari PNG, sudah pasti ada kewajiban pemerintah untuk membenahi infrastruktur yang rusak dan kurang layak di daerah itu.

Menurutnya, Pemda sudah mengidentifikasi apa – apa saja yang harus dibenahi, dimana untuk jalan, pihaknya sudah mengidentifikasi sedikitnya ada 12 jembatan kecil dan 13 gorong – gorong yang harus di tangani segera.

Baca Juga:  Ini Tanggapan Ketua DPRP Terkait Ancaman PDI P dan Gerindra Tarik Diri dari Pansus

“pembinaan terhadap iman itu juga akan kita perhatikan, justru kita berharap banyak agar lewat gereja juga bisa ikut membendung efek negative dari terbukanya pintu dari PNG, gereja harus aktif untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan ganja, karena itu juga bisa jadi masalah kita bersama nantinya”, kata Watae.

Dari laporan Yayasan Harapan Ibu Papua (YHI-Papua) yang dilansir melalui laman resminya akhir 2016, di Kampung Skofro hanya ada 1 SD YPK yang terdiri dari 3 ruang kelas, dimana anak didik juga belum terlalu fasih berbahasa Indonesia, karena mereka lebih familiar menggunakan bahasa Inggris Fidjin (bahasa Inggris dialek PNG).

Penduduk Kampung Skofro berjumlah 115 jiwa dengan 27 KK, dulu kampung ini sebenarnya bernama Kampung Yami, penataan kampungnya termasuk rapi, rumah – rumah panggung berbahan kayu berderet rapi dengan dengan pagar – pagar dibagian depannya. (alf/R1)

Berikan Komentar Anda