Dugaan Malpraktik di RSUD Kwaingga, Keluarga Tidak Ada Uang Tebus Resep, Terpaksa Dikasih Obat Sisa Pasien Lain

Wakil Bupati Keerom Muh. Markum saat bertemu dengan tenaga kesehatan RSUD Kwaingga yang menangani pasien bayi Muh. Kuchen Sefandi.

Keerom (LP)– Dugaan malpraktek di RSUD Kwaingga Kabupaten Keerom yang dialami bayi Muh. Kuchen Sefandi berumur empat bulan yang kini mengalami radang otak dan kebutaan mata kiri (baca disini), karena indikasi kelebihan dosis obat, mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Keerom.

Wakil Bupati Keerom, Muh. Markum, SH, MH Jumat (5/5/2017) melakukan kunjungan ke RSUD Kwaingga untuk mencari tahu kronologis kejadian yang dialami anak dari Nuripah Anjayani warga Arso IX ini.

Pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Direktur RSUD Kwaingga, dr. Bernadeta Eka Suci dihadiri dua orang dokter, dan empat orang perawat yang menangani pasien sebelumnya.

Dari penjelasan dokter yang bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Kwaingga terungkap, ketika pasien dirujuk dari Puskesmas Arso III telah dilakukan penanganan awal di UGD, dan dari hasil pemeriksaan pasien mengalami malaria tersiana yang disertai demam kompleks.

“Cuma malaria tersiana dengan demam kompleks karena kita hanya observasi tiga jam dan dilanjutkan oleh dokter ruangan,” ujar salah satu dokter kepada Wakil Bupati Keerom.

Menurut dokter yang bertugas di ruang anak, bayi Kuchen masuk ruangan anak 12 Maret 2017, karena jam masuk pasien sudah melewati masa kerja dokter saat itu, sehingga visite (kunjungan pemeriksaan dokter-Red) baru dilakukan keesokan harinya.

“Saat masuk memang sudah lewat jam visite saya. Jadi saya visite pasien besoknya. Memang pasien sudah tidak kejang lagi (saat visite). Kita lanjutkan dengan terapi malaria dan obat anti kejang tidak kami berikan lagi,” ujar sang dokter.

Namun berdasarkan dari informasi dokter jaga malam, bayi Kuchen kembali mengalami panas tinggi yang disertai dengan kejang-kejang. 

Baca Juga:  Seminggu, Polres Jayapura Kota Tangkap Lima Ibu Rumah Tangga Terkait Perjudian

“Memang anak dengan umur kurang dari lima tahun seperti Sefani (Kuchen) ini biasanya kalau panasnya tinggi bisa ada komplikasi kejang demam seperti itu,” kata dokter menjelaskan informasi yang diperolehnya dari rekan kerjanya yang bertugas malam hari di ruangan anak.

Melihat situasi tersebut dokter jaga malam memberikan obat anti kejang melalui anus bayi.

“memang saat itu (malam itu) belum ada tanda-tanda pada matanya, besok paginya saya lihat matanya itu ada selaputnya, disini kami tidak punya dokter mata yang bisa saya konsultasi setiap saat, kami juga tidak punya alat yang namanya funduskopi agar saya bisa melihat ke dalam matanya untuk mengetahui gangguannya apa” ujar dokter jaga ruangan anak yang pertama kali menangani bayi Kuchen.

“saya juga melakukan konsultasi ke dokter spesialis anak yang bertugas di RSUD Kwaingga, atas petunjuk dokter spesialis ini berbagai penanganan medis kami lakukan, namun hasilnya kondisi bayi Kuchen tidak mengalami perubahan yang baik”, katanya tanpa menyebutkan lebih detail penanganan medis seperti apa yang dilakukan sesuai petunjuk dokter spesialis anak dimaksud.

Melihat kondisi pasien yang tidak membaik, pihak RSUD Kwaingga memutuskan merujuk pasien ke Rumah Sakit di Jayapura, yang lebih besar agar mendapat penanganan dengan peralatan yang memadai, namun karena tidak memiliki biaya keluarga pasien menolak untuk dirujuk.

“Lalu kami tahan satu hari lagi dengan terapi yang diganti dokter anak, kami sepakat anti biotiknya kami ganti”, kata dokter tanpa menyebutkan apa jenis antibiotic yang diberikan sebelumnya dan antibiotic penggantinya.

Ternyata selain tidak memiliki biaya untuk merujuk pasien ke rumah sakit lain, keluarga bayi Kuchen juga tidak memiliki uang untuk menebus resep dokter, karena beralasan pasien sangat membutuhkan obat, terpaksa pihak RSUD memberikan sisa-sisa obat bayi lain yang tidak terpakai habis.

Baca Juga:  Tutup Pendaftaran, Ada 8 Cagub dan 2 Cawagub Mendaftar di PDI-P Provinsi Papua

“Kami sudah edukasi bahwa di rumah sakit ini lagi kehabisan obat jadi kami kasih resep untuk beli diluar. Pasien disini tidak punya uang jadi pasien tidak beli obat. Jadi kami di ruangan anak ada sisa-sisa obat Pak, karena memang obat satu botol itu tidak habis dipake. Jadi ada sisa-sisa anak lain yang kami pakekan ke dia (pasien), agar pasien bisa mendapatkan terapi obat,” kata  dokter kepada Wakil Bupati tanpa menyebutkan jenis obat apa yang diberikan.

Setelah ditahan sehari, akhirnya bayi Kuchen diputuskan untuk dirujuk ke RS Marthen Indey di Aryoko, Kota Jayapura.

“kebetulan dokter anak yang tugas di RSUD Kwaingga ini, bertugas di Marthen Indey, jadi kami kontak kesana dan dokter siap menerima, kami sudah kasih tahu keluarganya bahwa kami sudah tidak bisa menangani pasien disini, dari situ saya menganalisis ada radang selaput otak, karena saat itu (akan dirujuk) pasien sudah tidak sadar, saya tidak bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut jadi saya mencurigai malaria berat, untuk mata saya tidak bisa berkesimpulan karena tidak punya alat”, katanya lagi.

Direktur RSUD Kwaingga, dr. Bernadeta Eka Suci, saat akan wawancarai wartawan usai kunjungan Wakil Bupati, enggan berkomentar lebih jauh, dan meminta wartawan bersabar karena pihak RSUD masih harus melakukan telaah terhadap rekam medic pasien dahulu, sebelum memberikan keterangan.

“Kami belum bisa kasih keterangan pers. Mungkin hari Senin baru bisa. Jadi saya harap rekan-rekan wartawan bisa bersabar,” ungkapnya.

Baca Juga:  BWS Papua Siapkan Dua Miliar Rupiah Untuk Pembebasan Lahan Air Baku Danau Sentani

Namun dr. Eka hanya sempat menjelaskan bahwa penentuan malpraktek atau bukan seharusnya dilakukan oleh Komite Medik Rumah Sakit. Namun hingga sekarang RSUD Kwaingga belum memiliki komite yang dimaksud.

Komite Medik sendiri diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 755/Menkes/Per/IV/2011 yang artinya perangkat rumah sakit untuk menerapkan tata kelola klinis (clinical governance) agar staf medis di rumah sakit terjaga profesionalismenya melalui mekanisme kredensial, penjagaan mutu profesi medis, pemeliharaan etika dan disiplin profesi medis.

Melalui peran aktif komite medik, diharapkan staf medis dapat mewujudkan tata kelola klinis yang baik agar mutu pelayanan medis dan keselamatan pasien di rumah sakit lebih terjamin dan terlindungi.

Wakil Bupati Keerom, Muh. Markum, ketika di mintai tanggapannya usai acara pertemuan juga menolak berkomentar, karena belum menjenguk si pasien

“Sabtu (hari ini-Red) kita jenguk dulu yah pasiennya, wartawan boleh ikut sekalian sama – sama jenguk”, kata Muh. Markum di hadapan dokter dan perawat usai pertemuan di ruangan Direktur RSUD.

Namun, Sabtu (6/5/2017), sejumlah wartawan yang menunggu sejak pukul 12.00 WIT sesuai waktu yang di janjikan, harus kecele, karena Wakil Bupati tidak menampakkan batang hidungnya, bahkan ketika Lingkar Papua menghubungi via handphone, nomornya tidak aktif, pesan via WhatApps juga tidak dibaca, sekitar pukul 17.00 WIT, barulah Wakil Bupati membalas bahwa rencana menjenguk batal, karena tidak punya waktu.

“Maaf tidak dapat waktunya”, jawab Wakil Bupati melalui pesan singkatnya, ketika di kejar Lingkar Papua, kira – kira kapan bisa menjenguk si pasien. (alf/R1)

Berikan Komentar Anda