Direktur Bantah Ada Malpraktek di RSUD Kwaingga

Direktur RSUD Kwaingga, dr. Bernadeta Eka Suci saat memberikan keterangan pers

Keerom (LP) — Direktur RSUD Kwaingga, dr. Bernadeta Eka Suci yang baru seminggu memimpin RSUD Kwaingga, mengatakan bahwa tidak benar bila terjadi malpraktek atas pasien anak bayi berumur 4 bulan atas nama Muh. Kuchen Sefandi.

Dimana sebelumnya menurut pengakuan orang tuanya, awal masuk di diagnosis malaria tersiana, tetapi setelah mendapat penanganan dokter di RSUD Kwaingga bukannya sembuh malah menderita radang otak dan buta di mata kirinya sehingga harus di operasi radang otak dan hingga kini masih berada di RSUD Dok II Jayapura karena mata kirinya masih mengalami kebutaan dan orang tuanya tidak memiliki biaya untuk tindakan medis lanjutan.

“saya sudah memeriksa rekam medisnya, saya pastikan tidak ada malpraktek, karena tindakan medis yang diberikan kepada si anak semuanya sudah sesuai prosedur dan standar kerja RSUD Kwaingga”, kata dr. Eka kepada sejumlah wartawan di Keerom, Senin (8/5/2017).

Menurut Direktur RSUD Kwaingga, dr. Bernadeta Eka Suci jika dilihat dari rekam medic pasien penanganan masalah pasien Kuchendinilai tidak bisa dikaitkan dengan dugaan malpraktek.

Baca Juga:  Danrem Binsar Sianipar : Anggota TNI Harus Selalu Baik Dengan Rakyat, Tapi Tegas Soal Aturan

“saya hanya bisa lihat dari statusnya (rekam medic), karena saya baru masuk jadi tidak begitu tahu pasien, kalau saya lihat statusnya semua sudah sesuai, untuk memutuskan ada malpraktek atau tidak, itu seharusnya melalui Komite Medic yang terdiri dari dokter-dokter spesialis, tapi kita disini belum ada, jadi terpaksa saya hanya baca dari statusnya ini”, kata dr. Eka.

Namun ia meminta maaf kepada wartawan karena tidak bisa membuka secara detail rekam medic milik pasien, karena hal tersebut bersifat pribadi.

“Kalau dilihat hasil UGD malaria tersiana plus demam kejang, hasil observasi tiga dokter yang memeriksa juga keterangan penyakit yang sama, tapi karena ini punya pasien, jadi maaf saya tidak bisa buka terlalu jauh, saya hanya gunakan ini untuk analisis saja”, kata dr. Eka lagi menolak memberikan data lengkap rekam medis pasien kepada wartawan.

Disinggung soal adanya indikasi pemberian obat berlebihan (overdosis), kembali dr. Eka membantah hal tersebut.

Baca Juga:  Bank Indonesia Hadirkan Money Changer di Perbatasan RI – PNG, Tahun Ini Semua Transaksi di Batas 100 Persen Pake Rupiah

“kalau saya baca di status tidak ada pemberian obat yang berlebihan, dokter sudah berikan obat sesuai dengan berat badan pasien”, kata dr. Eka.

Ia menjelaskan bahwa dirinya sudah memanggil seluruh dokter yang bertugas di RSUD Kwaingga untuk mengkonfirmasi hal itu, namun semuanya menjawab sesuai dengan rekam medis.

Bayi Muh. Kuchen Sefandi yang sedang dalam perawatan rumah sakit seusai operasi di bagian kepala.

Saat di tanyakan soal adanya pemberian obat sisa dari pasien lain kepada si bayi, karena orang tuanya tidak memiliki uang untuk menebus resep yang diberikan oleh dokter, seperti pengakuan salah satu dokter saat Wakil Bupati Muh. Markum, SH saat berkunjung ke RSUD Kwaingga beberapa hari lalu, dr. Eka tampak terkejut, dan mengaku baru mengetahui kondisi seperti itu terjadi.

“Saya waktu itu tidak begitu menyimak bagaimana keterangan dokter waktu pertemuan dengan Wakil Bupati, tapi akan saya tanyakan itu, tapi saya rasa kalau dokter berani kasih untuk menolong pasien pasti sudah dipastikan obatnya tidak kadaluarsa dan sesuai dengan kebutuhan pasien”, katanya membela kolega – koleganya.

Baca Juga:  Lagi, Wacana Cawapres OAP Dalam Pilpres 2019

Namun Direktur yang baru menjabat kurang dari seminggu ini berharap dengan adanya kejadian dan pemberitaan ini bisa menjadi awal perubahan di RSUD Kwaingga. Karena dirinya mengaku masih banyak kekurangan yang harus dibenahi agar pelayanan lebih prima.

“Datanya ya tertuils dan ini yang bisa saya sampaikan ke teman-teman wartawan. Saya terus terang terkejut saat masuk dalam kondisi yang seperti ini. Tapi akan kita benahi,” janji dr. Eka lagi.

Ditanya seandainya keluarga pasien menggungat pihak RSUD Kwaingga? dr. Eka hanya berharap hal tersebut tidak terjadi sampai disana, namun hal itu ia kembalikan lagi kepada pihak keluarga.

“Kalau mereka menuntut, kami berharap tidak sampai disitu. Tapi kalau sampai disitu saya mau bagaimana karena itu hak setiap warga negara dimata hokum. Tinggal kami ikuti saja prosesnya, itu kalau sampai digugat, tapi saya berharap tidak sampai disitu. Ini jadi pelajaran berharga bagi kami,” pungkasnya. kata dr. Eka lagi. (alf/R1)

Berikan Komentar Anda