Misteri Rute Jayapura – Sarmi di Proyek Penerbangan Perintis Senilai Rp 21,3 Miliar

(kiri) Agus Priyanto, Kepala Bandara Sentani, (kanan) Yoki Maulana, penanggung jawab Dmonim Air Base Papua (Foto : Amri/ Lingkar Papua)

Jayapura (LP)— Untuk menjawab kebutuhan masyarakat Papua akan transportasi udara yang murah dari Jayapura ke beberapa pedalaman Papua, Kementerian Perhubungan melalui Unit Pelaksana Bandara Udara (UPBU) Sentani di awal tahun 2017 telah mengadakan tender pengadaan Subsidi Angkutan Udara Perintis Jayapura 8 Rute.

Dari informasi yang di peroleh Lingkar Papua melalui laman resmi LPSE, lelang Subsidi Angkutan Udara Perintis Jayapura 8 Rute, di mulai tahapan pelelangannya sejak 11 Januari 2017 dan penanda tanganan kontraknya per 7 Februari 2017.

Dimana, dari sekian banyak perusahaan yang mendaftar, Dmonim Air dengan badan hukum PT. Marta Buana Abadi, yang beralamat di Jalan Cimandiri No. 6, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat sebagai pemenangnya dengan menanda tangani kontrak senilai Rp 21,3 Miliar.

“tahun ini ada tambahan 2 rute baru yakni Jayapura – Sarmi (PP) dan Jayapura – Elelim (PP), tahun 2016 lalu hanya 6 rute, tahun 2017 ini ada tambahan rute baru itu, termasuk Sarmi, tahun 2018 nanti rencananya akan ada tambahan jadi 10 rute”, kata Agus Priyanto Kabandara Sentani, saat ditemui di kantornya, Kamis (4/5/2017)

Lingkar Papua yang mencoba mengkonfirmasi dan memverifikasi terkait rute – rute dimaksud, karena berdasarkan temuan Lingkar Papua tidak ada rute Jayapura – Sarmi yang di jalankan Dmonim Air saat ini, Agus Priyanto selaku Kabandara Sentani ngotot dan menegaskan berulang kali bahwa Sarmi adalah rute baru di tahun 2017 ini.

Baca Juga:  HMI Zaman Now, HMI Pergerakan Jadul ?

“kalau rute saya masih bisa sampaikan ke bapak, kalau harga terlalu teknis, rute di 2016 hanya ada 6 rute, 2017 ini nambah jadi 8 rute, untuk 2018 rencananya 10 rute, Sarmi dan Elelim termasuk 2 rute yang baru, sudah terbang kemarin kok, sudah dimulai, sarmi tahun ini, bukan tahun depan, baru kemarin terbang, termasuk 8 rute yang baru itu, kan awalnya 6, jadi sekarang 8”, tegas Kabandara berulang – ulang menjawab pertanyaan Lingkar Papua yang ingin memastikan soal rute tersebut.

Soal volume rute tiap – tiap tujuan per tahunnya Kabandara mengaku tidak ingat pasti, tapi menurutnya memang bervariatif, tergantung ketersediaan dana, dan juga peminatnya, tapi menurutnya rute yang sudah di tanda tangani itu, tidak bisa di ubah – ubah sesuai kontraknya.

“Semua rute perintis melalui pelelangan, kami sudah merencanakan untuk tahun 2018 punya sejak sekarang, demikian juga yang 2017 dari 2016 sudah di rencanakan, Untuk volume rute per daerah sifatnya variatif, untuk rute tidak bisa berubah, setahun kemudian baru bisa berubah, kalau mereka tidak laksanakan sesuai kontrak, kan di audit”, kata Agus Kabandara

Dari penelusuran Lingkar Papua rute pesawat perintis yang dilayani Dmonim Air sejak Februari kemarin ada 8 rute yakni rute Jayapura – Batom dengan harga tiket Rp. 391.000, rute Jayapura – Dabra Rp. 391.000, rute Jayapura – Borme Rp. 381.000, rute Jayapura – Karubaga Rp. 324.000, rute Jayapura – Luban Rp. 287.000, rute Jayapura – Illu Rp. 326.000, rute Jayapura – Memberamo Raya (Kasonaweja) Rp. 391.000, dan rute Jayapura – Elelim Rp. 324.000.

Baca Juga:  Anies Baswedan, Bukan Jokowi di Pilpres 2019 ?

“tidak ada rute ke Sarmi, kami tidak melayani rute ke Sarmi, sejak tahun 2016 setahu kami untuk perintis tidak pernah ada rute ke Sarmi kok, yang kami layani hanya perintis dan rutenya adalah Jayapura – Batom (PP), Jayapura – Dabra (PP), Jayapura – Borme (PP), Jayapura – Karubaga (PP), Jayapura – Luban (PP), Jayapura – Illu (PP), Jayapura – Mamberamo Raya (PP), Jayapura – Elelim (PP)”, kata Yuki Maulana, Koordinator Wilayah Base Papua saat ditemui Lingkar Papua, Jumat (5/5/2017) di kantor Dmonim Air yang beralamat di Jalan Bandara, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Ketika di konfirmasi bahwa menurut keterangan Kabandara bahwa seharusnya ada rute Jayapura – Sarmi di tahun 2017 ini, Yoki membantah dan mengatakan bahwa Kabandara tidak tahu itu.

“siapa yang bilang ada, ohhh,… Pak Agus , nggak tahu dia, yang tangani untuk perintis kan bagian lain, bukan urusannya”, jawab Yoki ogah – ogahan, saat di konfirmasi di kantor Dmonim Air, Jumat (5/5/2017) lalu.

Selain proyek subsidi penerbangan perintis Jayapura 8 Rute yang di tangani Dmonim Air, bersumber dari dana APBN 2017 di Kementerian Perhubungan, melalui Unit Pelayanan bandara Udara (UPBU) Nop Goliat Dekai, Yahukimo, Dmonim Air atau PT. Marta Buana Abadi juga memenangkan dua proyek subsidi penerbangan perintis lainnya.

Baca Juga:  MENGENANG 16 TAHUN OTSUS PAPUA !

Yakni Subsidi Angkutan Udara Perintis (Paket I) dengan pagu anggaran Rp. 4,3 Miliar, yang dimenangkan oleh PT. Marta Buana Abadi dengan harga penawaran sebesar Rp. 4,1 Miliar dan Subsidi Angkutan Udara Perintis (Paket II) dengan pagu anggaran Rp. 3,9 Miliar, yang dimenangkan oleh PT. Marta Buana Abadi juga dengan harga penawaran sebesar Rp. 2,2 Miliar.

Terkait hal itu, Lingkar Papua telah berusaha mengkonfirmasi ke kantor pusat PT. Marta Buana Abadi di Jalan Cimandiri No. 6, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat melalui telepon kantornya, melalui costumer service, Lingkar Papua berhasil di hubungkan ke Sekretaris Penanggung Jawab perusahaan dan katanya akan di hubungi seseorang bernama Pak Andi, yang katanya adalah penanggung jawab perusahaan, sehingga Sekretaris dimaksud meminta nomor kontak Lingkar Papua, namun hingga berita ini di muat tidak ada penjelasan resmi dari kantor pusat PT. Marta Buana Abadi.

Dari temuan Lingkar Papua, selain soal rute Jayapura – Sarmi yang tidak terlayani, padahal menurut keterangan Kabandara Sentani seharusnya ada rute Jayapura – Sarmi di tahun 2017, soal dugaan adanya selisih harga tiket pesawat perintis Jayapura 8 Rute antara yang di publikasikan ke media yang berbeda dengan yang ditawarkan ke calon penumpang juga hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak Dmonim Air. (amr/R1)

Berikan Komentar Anda