Tokoh Pemuda Minta Watae – Markum Rekonsiliasi, Pemerintahan Harus Bebas Dari Dendam Politik

Piter Gusbager, Tokoh Pemuda dan Tokoh Adat Keerom (Foto : Dok. Ist)

Keerom (LP) – Mencuatnya ‘perang dingin” antara Bupati Keerom, Drs. Celcius Watae, MH dan Wakil Bupati Keerom, Muh. Markum, SH, MH di media belakangan ini mendapat perhatian serius dari salah satu tokoh pemuda dan juga tokoh adat Keerom yang saat ini sebagai Tenaga Pengajar di Fakultas Kehutanan Universias Papua (UNIPA) Manokwari.

“menanggapi situasi terkini di Keerom banyak hal yang kita turun dan lihat dari masyarakat tapi yang muncul di media ini sangat menggelitik, saya prihatin, bagi saya ini ada signal bahwa pemerintahan ini menuju kepada kegagalan (perpecahan-Red)”, kata Piter Gusbager, S.HUT, MUP kepada Lingkar Papua di Jayapura, Senin (15/5/2017) malam.

Menurutnya terkesan ada perang dingin dan dendam politik yang belum tuntas, sehingga antara dua pimpinan di Keerom itu saling lempar opini di media dan saling menyudutkan pemerintahan di masa lalu, atas kondisi yang ada saat ini.

Menurut Piter Gusbager, jika kondisi ini tidak segera diperbaiki kasihan pemerintahan Keerom kedepannya, Karena ia melihat Bupati maupun Wakil Bupati tidak mampu menjaga wibawa pemerintahan saat ini karena saling menyampaikan pendapat yang berbeda di ruang publik adalah sebuah tindakan yang memalukan.

Baca Juga:  Lima Hari Lagi Kopdar Mimika, PSI Di Daerah Sudah Boleh ‘Main Terbuka’ di Pilkada 2018

“Inikan sebenarnya masalah kecil, kalau kita lihat kronologisnya, berawal dari keluhan masyarakat di Kampung Skofro, sebenarnya kan tinggal di jawab dan kerjakan apa yang jadi keluhan dan kebutuhan masyarakat, tidak perlu lagi saling menyalahkan atau mencari kambing hitam atas kondisi yang ada, yang akhirnya berbalas pantun, Wakil Bupati yang merupakan bagian dari pemerintahan sebelumnya, balik mengoreksi dan juga mempertanyakan era kepemimpinan Bupati di periode pertama, karena mereka dua sama – sama pernah menjabat dan menjadi pemimpin di periode berbeda, kesannya saling lempar kesalahan”, kata Piter Gusbager menyayangkan hal itu.

Padahal dari pengamatan Piter, selama ini tidak ada masyarakat yang mempermasalahkan soal kepemimpinan yang mana, melainkan yang diharapkan adalah bagaimana pemimpin yang saat ini menjawab dapat menyelesaikan masalah dan kebutuhan masyarakat akan pembangunan.

Baca Juga:  Cedera, Pugliara Dilepas Persipura

“Kalau sudah begini, ada kecendurungan pemerintah Keerom salama 14 tahun ini mewarisi dendam, kalau kita tarik kronologis pemberitaan ini kesannya ada dendam-dendam politik yang terbawa terus sampai ke pemerintah hari ini, saya khawati akan terus diwarisi oleh pemerintahan berikutnya kalau tidak segera dibereskan”, tegas Piter Gusbager yang juga Ketua KNPI Kabupaten Keerom

Sebagai salah satu tokoh pemuda dari Keerom, ia berharap Bupati dan Wakil Bupati Keerom lebih mengedepankan kepentingan masyarakat Keerom ketimbang berpolemik kepentingan pribadi. Karena masyarakat akan terus menilai kinerja pemerintahan apakah sudah sesuai dengan harapan ataukah terjadi kemunduran dalam pembangunan.

“Ada PR (pekerjaan rumah) besar yang hari ini belum selesai, itu adalah janji mereka, untuk melakukan rekonsiliasi itu tidak selesai sampai hari ini, dan itu ada dampaknya, dan ini sudah tahun kedua, kalau sampai masa akhir jabatan rekonsiliasi tidak terjadi maka pemerintahan ini akan mendapat dukungan sangat kecil dan partisipasi masyarakat yang rendah dalam pembangunan”, katanya lagi.

Baca Juga:  Agats, Kota Pengukir Di Atas Bilah Papan

Ia berharap sebagai pemimpin, baik Bupati dan Wakil Bupati Keerom tetap harmonis, dan memastikan tidak ada konflik yang terjadi diantara mereka berdua. Karena bagaimanapun penilaian publik saat ini ada masalah antara Bupati dan Wakil Bupati dan itu bisa saja menimbulkan gejolak dalam roda pemerintahan yang berakibat kepada gagalnya pemerintahan, meskipun selama ini keduanya mencoba menutupi, tapi akhirnya lambat laun terungkap ke publik.

“sudah ketahuan ada konflik tersembunyi antara mereka, jadi mereka harus memastikan bahwa tidak ada konflik diantara keduanya, karena ini sudah naik ke publik dan dibaca pemerintahan ini sudah negative dan sudah tidak sehat, tentu akan berdampak kepada roda pemerintahan, pembantu – pembantu akan bingung mau dengar perintah dari siapa dan bisa jadi pemerintahan akan chaos”, katanya. (alf/R1)

Berikan Komentar Anda