Pendangkalan dan Kerusakan Ekosistem Hantui Danau Sentani

Bendungan pengendali sedimen di Kali Kampung Harapan Kab. Jayapura yang dibangun oleh Balai Wilayah Sungai Papua untuk mengurangi pendangkalan di Danau Sentani, dari 14 DAS, baru 3 sungai yang memiliki bendungan seperti ini. (Foto : Amri/ Lingkar Papua)

Tiap tahun pendangkalan terjadi, hingga kini diperkirakan telah terjadi pendangkalan sekitar 5 – 15 meter dengan kandungan bahan sedimen mencapai kurang lebih 90 ton per tahun. Berdasarkan hasil penelitian LIPI tahun 2014 sedikitnya ada 3 titik yang tingkat pendangkalannya cukup signifikan. Hingga kini belum ada langkah – langkah berarti yang dilakukan pemerintah untuk selamatkan Danau Sentani, bahkan dari 14 titik aliran sungai yang berpotensi menyumbang sedimentasi, baru 4 titik yang di bangun bendungan pengendali sedimen oleh Balai Wilayah Sungai Papua.

Oleh : Walhamri Wahid

Beberapa pemancing terlihat asyik menanti umpan mereka di sambut ikan – ikan, di sisi kiri dan kanan mereka terlihat tanaman enceng gondok dan tumpukan sampah yang mengapung bahkan menumpuk di tepian danau.

“sekarang sudah tidak serame dulu om, dulu itu ikan makan rame, tapi sekarang nih, kalaupun ada ikan kecil – kecil saja, juga harus pake nilon panjang e, lempar jauh ke tengah danau”, kata seorang pemuda yang mengaku sering memancing di tepi Danau Sentani belakang Expo waena, tempat Kali Kamp Wolker bermuara, untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk keluarganya.

Ia mengakui saat ini tepian Danau Sentani kian dangkal, selain sampah, pasir, kerikil, bahkan juga tanah dan kayu – kayu sering terlihat mengapung atau menumpuk di tepian Danau Sentani.

“dulu tepi danau saja itu dalam om, tapi sekarang itu kita bisa berdiri air sampai di bawah lutut, untuk sampah itu kalau musim hujan semua tumpah ruah kesini, om lihat sampah – sampah itu”, kata si pemuda sambil menunjuk ke sisi kiri tempatnya berdiri terlihat tumpukan sampah plastik yang membaur jadi satu dengan tumpukan tanah yang di rambati tanaman enceng gondok.

Danau Sentani adalah danau alam yang terletak antara Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura dengan luas 9.630 hektar, lansekap danau Sentani terdiri dari pulau – pulau berbukit yang indah di tengah – tengah danau, kawasan Danau Sentani adalah bagian dari Cagar Alam Cycloops.

Baca Juga:  Pilkada DKI dan Politik Non Blok Demokrat

Berdasarkan peta kemiringan lahan, kawasan Danau Sentani dan sekitarnya mempunyai kemiringan sedang, berkisar 17% – 52%, hal ini memungkinkan terjadinya sedimentasi akibat proses erosi yang terjadi di wilayah kawasan penyangga Danau Sentani.

Bahan sedimentasi yang mengakibatkan pendangkalan di kawasan Danau diantaranya berupa pasir, batu, kayu, plastik, botol plastik, kaleng, sampah penduduk kota, dan besi bekas yang tertumpuk di dasar danau. Sebagian bahan sedimentasi itu bersumber dari penggalian, penambangan, penebangan hutan, pembukaan lahan, dan pembangunan jalan di Pegunungan Cycloops.

Ada sekitar 14 titik Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bermuara ke Danau Sentani yang selama ini menjadi saluran mengalirnya bahan – bahan sedimen ke Danau Sentani, diantaranya DAS 1, DAS 2, DAS 3, DAS Belo, DAS Expo, DAS Harapan, DAS Hendo, DAS Kuruwaka, DAS Netar, DAS Telaga Ria, DAS Walayake, DAS Yahim dan DAS Yakembong.

Dengan maraknya penebangan hutan secara liar, menyebabkan erosi besar – besaran saat hujan lebat turun, sehingga DAS – DAS tadi berpotensi mengirimkan bahan – bahan sedimen ke kawasan Danau Sentani.

Untuk menanggulangi membludaknya bahan sedimentasi tumpah ruah ke Danau Sentani, sejak tahun 2013 hingga 2016 Balai Wilayah Sungai Papua baru membangun 4 Bendungan Pengendali Sedimen (BPS) yakni di Kampwolker sebanyak 2 unit, di Kali Dobokurung dan Sungai Kampung Harapan.

“untuk di Kota Jayapura di Kamp Wolker itu ada dua bangunan pengendali yang kita bangun tahun 2013 dan tahun 2014 dengan alokasi dana 12 Miliar dan 5,6 Miliar, sedangkan untuk di Kabupaten Jayapura juga ada dua yakni di Sungai Dobokurung dengan nilai Rp. 4,1 Miliar dan Sungai Kampung Harapan senilai Rp. 6,3 Miliar”, kata Happy Mulya, Kepala Balai Wilayah Sungai Papua belum lama ini saat meninjau bendungan pengendali sedimen di sungai Kampung Harapan bersama – sama Komisi V DPR – RI.

Baca Juga:  Budaya Asmat, Harta Warisan Yang Terabaikan

Menurutnya alokasi anggaran yang diturunkan pusat tidak memadai untuk membangun bendungan sedimen di 14 DAS yang bermuara ke Danau Sentani, padahal menurutnya bila di biarkan berlarut – larut sedimentasi yang berlangsung di kawasan danau kian mengkhawatirkan.

Arti kata Sentani berarti “disini kami tinggal dengan damai”, yang pertama kali disebut oleh Pendeta BL Bin, ketika melaksanakan misionaris di wilayah danau pada tahun 1898, namun nampaknya kedamaian itu mulai mengusik beberapa spesies ikan air tawar yang selama ini berkembang biak di kawasan Danau Sentani.

Terdapat sekitar 30 spesies ikan air tawar dan empat di antaranya merupakan endemik Danau Sentani yaitu ikan gabus Danau Sentani (Oxyeleotris heterodon), ikan pelangi Sentani (Chilatherina sentaniensis), ikan pelangi merah (Glossolepis incisus) dan hiu gergaji (Pristis microdon), dimana akibat pendangkalan yang terus berlangsung dari tahun ke tahun, pemanfaatan area tepian danau untuk permukiman dan usaha keramba dengan jari apung menyebabkan beberapa spesies endemic Danau Sentani kian sulit ditemukan, terutama ikan gabus yang mulai langka karena telur ikannya dimakan oleh ikan gabus jenis lain yang kian berkembang biak.

Para Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang melakukan penelitian pada bulan September – Oktober 2014 menemukan indikasi masalah sedimentasi di tiga lokasi di Danau Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura, yakni di Doyo Lama, Jembatan Dua, dan Boroway, dimana penelitian tersebut mengambil sampel 8 titik di sekitar danau seluas 9.630 hektar itu.

Menurut LIPI, terjadi penumpukan sedimen organic dan tanah di kedalaman 5 m – 40 m di tiga lokasi tersebut yang diakibatkan oleh limbah rumah tangga di sejumlah pemukiman padat di pinggiran danau, sediment tanah terjadi karena erosi yang dibawa sungai dari Gunung Cycloop menuju danau pada saat curah hujan tinggi.

Baca Juga:  SBY Minta “Alat Negara” Jangan Jadi “Alat Politik” Partai Tertentu

Menurut LIPI, sedimen organik yang ditemukan berwarna hitam, diduga penyebabnya adalah penggunaan keramba jaring apung dan peternakan milik warga di pinggiran danau.

Indikasi adanya pendangkalan lainnya menurut LIPI, ada temuan tanaman air hydrilla yang berjarak 100 meter dari tepi danau dan eceng gondok sudah tumbuh dalam jarak 10 meter dari darat.

Hydrilla hanya mampu tumbuh di dalam air dengan kedalaman 6 meter agar bisa mendapat sinar matahari untuk proses fotosintesis. Namun, hydrilla mampu tumbuh di lokasi yang berjarak hingga ratusan meter. Banyaknya penyebaran tanaman air, seperti hydrilla dan eceng gondok, dapat menyebabkan pendangkalan bertambah parah, menurut LIPI.

Menurut hasil penelitian LIPI, pembuangan limbah rumah tangga serta kotoran ternak ke Danau Sentani meningkatkan kandungan nutrient berupa zat nitrogen fosfat dalam air, hal itu dapat terlihat dari banyaknya sebaran tanaman alga mikrosistis di Danau Sentani, apabila kondisi ini terus berlanjut, kasus kematian ikan massal di Maninjau dapat terjadi di danau Sentani suatu saat nanti.

Apa yang diungkapkan oleh LIPI adalah hasil penelitian 3 tahun lalu, dengan pesatnya pembangunan di kawasan seputar Danau Sentani, perambahan hutan yang masih terus berlangsung, ditambah pembangunan ruas jalan yang memapas habis gunung – gunung sekitar Danau Sentani dan membuang material timbunan ke Danau Sentani, rasanya kondisi – kondisi yang dipaparkan bisa jadi makin parah dan mengkhawatirkan.

Belum lagi pembangunan Terminal Angkot oleh Pemerintah Kota yang tengah dipersiapkan di Batas Kota, apabila tidak di pikirkan dan persiapkan aspek penanganan dan pengolahan limbahnya, sebelum di muntahkan ke Danau Sentani, dipastikan juga akan berkontribusi nyata bagi upaya – upaya percepatan membunuh ekosistem di Danau Sentani secara cepat, mengingat banyak kasus di hampir semua terminal bukan hanya menjadi hilir mudik kendaraan, tetapi juga menjadi kawasan permukiman, perbengkelan yang memproduksi sampah – sampah berbahaya bagi lingkungan. (***)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*