Tiga Kali Jabat Kapolda, Ini 10 Kejahatan Menonjol Yang Dihadapi Waterpauw di Poldasu

Irjen (Pol) Paulus Waterpauw didampingi istri Ny. Roma Megawati Pasaribu dan dua anaknya, sejak Jumat (2/6/2017) kemarin, mantan Kapolda Papua itu dipercayakan sebagai Kapolda Sumatera Utara. (Foto : dok. infopolri.blogspot)

Tidak banyak perwira tinggi Polri yang pernah menjabat Kapolda sebanyak 3 kali, dan salah satunya adalah Irjen (Pol) Paulus Waterpauw yang sejak kemarin di tunjuk sebagai Kapolda Sumatera Utara (Poldasu). Dan beberapa diantara mereka itu berujung di kursi Trunojoyo 1 atau Trunojoyo 2, paling tidak pernah masuk bursa calon. Tentunya kemampuan putra terbaik dari Tanah Papua itu akan di uji sebelum naik ke jenjang yang lebih tinggi, bagaimana ia mampu menorehkan prestasi di daerah yang memiliki tingkat kejahatan dan criminal yang lebih kompleks itu.

Oleh : Walhamri Wahid

Hanya sebulan menduduki jabatan sebagai Wakil Kepala Badan Intelkam (Wakabaintelkam) Mabes Polri, Irjen (Pol) Drs. Paulus Waterpauw, per Jumat (2/6/2017) akhirnya mendapat kepercayaan untuk mengawal kamtibmas di Polda Sumatera Utara setelah turun Surat Telegram Kapolri Nomor : ST/1408/VI2017 menggantikan Irjen (Pol) Rycko Amelza Dahniel yang di promosikan sebagai Gubernur Akpol Lemdiklat Polri.

Jenderal bintang dua asli Papua yang kurang lebih 14 tahun bertugas di Papua sejak pertama kali menjabat sebagai Kapolres Mimika (2003 – 2005) itu sebelumnya dua kali menjabat sebagai Kapolda yakni Kapolda Papua Barat selama 7 bulan (Des 2014 – Juli 2015), dan Kapolda Papua selama kurang lebih 2 tahun, hingga akhirnya di percayakan sebagai Wakabaintelkam Mabes Polri selama 1 bulan sebelum ditunjuk sebagai Kapolda Sumatera Utara Jumat (2/6/2017) kemarin.

Tidak banyak petinggi Polri yang pernah menduduki jabatan sebagai Kapolda sebanyak 3 kali, dari penelusuran Lingkar Papua diantaranya Jenderal (Pol) Sutarman, Komjen (Pol) Anton Bahrul Alam, dan Komjen (Pol) Putut Eko Bayuseno, dan Jenderal (Pol) Badrodin Haiti yang empat kali jabat Kapolda sebelum akhirnya di lantik sebagai Kapolri menggantikan Jenderal (Pol) Sutarman, sedangkan Jenderal (Pol) Tito Karnavian menggantikan Jenderal (Pol) Badrodin Haiti sebagai Kapolri.

Penunjukan Irjen (Pol) Paulus Waterpauw sebagai Kapolda Sumatera Utara oleh Kapolri tentunya sudah memperhitungkan kemampuan dan kapasitas seorang Paulus Waterpauw, paling tidak 14 tahun pengalamannya bertugas di Tanah Papua yang memiliki tingkat gangguan kamtibmas cukup tinggi dengan berbagai macam eskalasi gangguan kamtibmas beraroma politis menjadi modal dasar baginya untuk menghadapi sejumlah tindak kejahatan dan criminal di Poldasu yang cukup tinggi, meski dari klasifikasi antara Poldasu dan Polda Papua sama – sama Polda type A.

Baca Juga:  THR, Gaji 13, Jeratan KPK bagi Kepala Daerah, dan Strategi Dongkrak Elektabilitas Jokowi

Paling tidak dari sekian banyak Polda di Indonesia, Poldasu masuk 5 besar yang memiliki tingkat kejahatan dan gangguan kamtibmas yang kompleks, beragam dan tinggi, dimana dari penelusuran Lingkar Papua hingga akhir tahun 2016, ada 10 tindak kejahatan yang terjadi di Poldasu dengan jumlah kasus mencapai ribuan, padahal bila dibandingkan dengan Polda Papua yang ada 20 lebih Polres, Poldasu hanya membawahi 8 Polres saja.

Adapun 10 kejahatan yang paling menonjol di Poldasu di tahun 2016 kemarin di urutan pertama kasus Narkoba dengan jumlah 5.460 kasus dan yang mampu di selesaikan sebanyak 4.950 kasus, di urutan kedua kasus pencurian dengana pemberatan (Curat) ada 44.970 kasus, dan yang mampu di selesaikan hanya separuhnya 2.647 kasus.

Urutan ketiga tindak kejahatan curanmor yang tercatat ada 4.279 kasus dan yang mampu di selesaikan hanya 1.200 kasus, berikutnya tindak kejahatan penganiayaan dengan pemberatan ada 2.866 kasus, dan yang berhasil di selesaikan 1.635 kasus, di urutan kelima tercatat sebanyak 1.641 kasus tindak kejahatan perjudian dan yang diselesaikan 1.550 kasus.

Di urutan keenam tindak kejahatan pencurian dengan kekerasan (curas) dengan 993 kasus, dan yang mampu diselesaikan baru 614 kasus, di urutan ketujuh ada 727 kasus tindak kejahatan pemerasan dan pengancaman yang bisa di selesaikan baru 407 kasus, di urutan kedelapan tindak kejahatan illegal logging dengan 72 kasus, dan yang mampu di tuntaskan baru 49 kasus, di urutan kesembilan tindak kejahatan penyelundupan dengan 55 kasus dan yang sudah diselesaikan 44 kasus, dan kasus korupsi sebanyak 20 kasus.

Tantangan lainnya buat Paulus Waterpauw adalah bagaimana mempertahankan prestasi Poldasu sebagai Polda terbaik di seluruh Indonesia yang paling banyak mengembalikan kerugian negara dari kasus korupsi sepanjang tahun 2016 lalu.

Dimana dari 57 kasus perkara korupsi yang ditangani Poldasu, sebanyak 35 kasus berhasil di tuntaskan dan berhasil menyelamatkan kerugian negara sebesar Rp. 9.348.569 miliar, sehingga Poldasu mendapatkan penghargaan dari Bareskrim Mabes Polri.

Baca Juga:  Ini Tanggapan Rektorat Terkait Asrama Rusunawa Uncen Jadi Gudang Penyimpanan Sejumlah Barang Diduga Hasil Kejahatan

Sumatera Utara tentu bukanlah ‘daerah baru’ bagi Irjen (Pol) Paulus Waterpauw, pria kelahiran Fakfak, Papua Barat, Oktober 1964 itu beristrikan Dra. Roma Megawati Pasaribu berdarah Batak yang saat ini bekerja di Bank Indonesia dan telah dikaruniai 3 buah hati yakni, Ruth Emmanuella, Denzel Piereto, dan Raisa Serafina. Paling tidak dengan pendekatan kekerabatan istrinya bisa menjadi modal social untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat Sumatera Utara.

Dalam buku biografinya berjudul ‘Biografi dan Jejak Pemikiran Paulus Waterpauw’ yang ditulis oleh Ensa Wiarna dan Rudi Hartono, talenta dan jiwa kepemimpinan seorang Waterpauw merupakan buah didikan kedua orang tuanya, Sertu Ferdinan Waterpauw dan Yakomina Atiamuna, dimana Waterpauw mengaku sejak kecil sering diajak ayahnya berburu ke hutan ataupun melaut untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sehingga didikan itu membentuk karakternya yang kuat dan pemberani, yang tercermin dalam pola kepemimpinannya selama ini.

Kemandiriannya di mulai sejak kelas IV SD harus merantau ke Surabaya mengikuti salah satu pamannya (Om- Papua), Johanes Sapaeluwakan dan istrinya Faulina Berta Wattimena yang bekerja di Pelni Surabaya, sehingga Waterpauw kecil harus bisa beradaptasi dengan lingkungannya yang baru, dari pedalaman ke kota besar di SD YPK Surabaya Timur.

Setamat SD, Waterpauw melanjutkan studinya ke SMP Negeri 6 Surabaya, modal postur badannya yang tinggi dan proporsional menjadikannya atlet bola volley bahkan sempat tergabung dalam sebuah klub bola volley Nanggala, yang banyak mencetak atlet nasional.

Selepas SMP, ia melanjutkan studi ke SMA N 5 Surabaya dan mengikuti pendidikan Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1987 dengan pangkat Inspektur Dua (Ipda).

Seperti dikutip dari Wikipedia, karir Waterpauw di mulai sebagai anggota Pamapta Polresta Surabaya, Polda Jawa Timur (1987), kemudian di promosikan sebagai Wakasat Serse Polresta Surabaya Timur (1988), Kanit Interkrim Sat IPP Polwiltabes Surabaya (1990), Kasat Intelpam Polres Mojokerto (1992).

Pada 27 Desember 1997 ia di promosikan sebagai Kasat Ops Puskodalops Polda Kalteng, Paban Muda pada Paban IV/Kam Sintel Polri (1998), Kapolsek Metro Menteng Polres Metro Jakarta Pusat pada Polda Metro Jaya (2000), Kapuskodal Ops Polres Jakarta Pusat (2000), Wakapolres Tangerang pada Polda Metro Jaya (2001), Pamen Sespim Lemdiklat Polri (2002).

Baca Juga:  Insiden 25 Mei Padang Bulan, Pangdam Butuh 22 Hari Untuk Pastikan Ada Alkitab Ikut Terbakar

Dan sejak 14 Desember 2002, Waterpauw di tugaskan kembali ke tanah leluhurnya, Timika sebagai Kapolres Mimika, selama mengemban jabatan tersebut, Paulus Waterpauw di nilai berprestasi karena mampu mendinginkan situasi kamtibmas Kabupaten Mimika yang selalu di hantui oleh aksi ‘perang antar suku’, sehingga ia di promosikan sebagai Kapolres Jayapura (2005), dan selanjutnya menjabat Direskrim Polda Papua (2006).

Sejak 2009 ia di tarik ke Bareskrim Polri sebagai Penyidik Utama di Dit III/Kor dan WWC Bareskrim Polri, setelah menjadi Widyaiswara Madya Sespim Polri selama sebulan, akhirnya ia di tarik kembali ke Tanah Papua menduduki jabatan sebagai Wakapolda Papua (2011), dan dua tahun kemudian di percayakan menjabat sebagai Kapolda Papua Barat (2014), sebelumnya dipercayakan sebagai Kapolda Papua (2015), dan sebulan terakhir ia menduduki pos Wakabaintelkam Mabes Polri selama sebulan, hingga Jumat (2/6/2017) kemarin ditunjuk sebagai Kapolda Sumatera Utara.

Ditengah kecemerlangan karirnya di kepolisian, di awal tahun 2017 ini, Irjen (Pol) Paulus Waterpauw di gadang – gadang oleh masyarakat untuk masuk dalam bursa Calon Gubernur Provinsi Papua periode 2018 – 2023, bahkan di prediksi merupakan salah satu kandidat yang bisa mengimbangi elektabilitas incumbent, Lukas Enembe maupun kandidat lainnya Jhon Wempi Wetipo.

Namun hingga kini Paulus Waterpauw belum pernah mengeluarkan pernyataan resmi apakah benar akan loncat ke panggung politik di tengah karinya yang melejit, seperti banyaknya aspirasi dan dukungan terhadapnya.

Ataukah ia akan terus berkarir di institusi kepolisian menuntaskan masa bhaktinya yang masih lima tahunan lagi, sehingga berpeluang mengepalai satu – satunya Polda type A-K di Indonesia, Polda Metro Jaya, atau bahkan mungkin bisa mengikuti jejak jenderal lainnya menduduki posisi yang lebih tinggi seperti jenderal lainya yang pernah menjabat sebagai Kapolda tiga kali. (***)

Berikan Komentar Anda

2 Comments

  1. Hebat Om Amry, cm catatan sj bhw Irjen Pol Drs Paulus Waterpauw adalah putra Papua pertama yg berpangkat Irjen dan putra Papua pertama pula yg prnh menjabat Kapolda. Kalo putra Papua pertama yg mencapai pangkat Jenderal Polisi adalah Brigjen Pol.Ayub Sawaki ( mantan Waka Polda Papua). Mksh

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*