Warga Keluhkan Muatan Truck Yang Over, Pemda Keerom Ngaku Belum Punya Jembatan Timbang

salah satu truk bermuatan over yang melalui jalan antar Arso yang berlubang – lubang, warga mulai keluhkan kondisi ini, namun belum ada tindakan penertiban dari Pemda maupun kepolisian. (Foto : Alfred/ Lingkar Papua)

LINGKAR PAPUA.COM, KEEROM – Pemerintah Daerah Kabupaten Keerom mengakui agak susah untuk menertibkan batas maksimum muatan truk – truk yang over muatan, karena hingga kini Pemda Keerom belum memiliki jembatan timbang, dan urusan itu sudah di limpahkan ke pemerintah pusat, bukan kewenangan kabupaten lagi.

Sejumlah warga masyarakat mengeluhkan hilir mudik truk yang bermuatan karang maupun kelapa sawit dengan muatan yang membubung tinggi elewati bak truk tanpa penutup, sehingga seringkali ada muatannya yang jatuh, belum lagi bila melalui jalan – jalan di Keerom yang berlubang – lubang, sehingga kesannya truk tersebut seperti mau terbalik dengan muatannya yang penuh.

Pengguna jalan raya di Kabupaten Keerom sering kali merasa terancam keselamatan jika berpapasan dengan truck pengangkut muatan baik itu kelapa sawit maupun batu karang. Karena muatan truck-truck tersebut membumbung tingga melewati badan bak penampungan.

Baca Juga:  GOLKAR PAPUA KISRUH LAGI ?

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan, karena dengan muatan yang melebihi kapasitas tidak menutup kemungkinan menimbulkan kecelakaan yang bisa saja pengguna jalan lain turut menjadi korban. Seperti yang dikeluhkan Suripno, yang saban hari bekerja sebagai tukang ojek mengungkapkan, dirinya harus sangat berhati-hati jika didepannya terlihat truck muatan dengan kapasitas over bagasi.

“Apalagi kalau bawa penumpang mas, saya takut sekali. Jalannya inikan lobang dimana-mana trucknya terlihat miring ke kiri dan ke kanan bisa saja trucknya nanti ambruk ke samping bisa kena saya nanti,” tuturnya saat ditemui Lingkar Papua di Arso I.

Hal senanda juga yang diungkap oleh Rudi masyarakat Arso VI, perjalanannya menggunakan mobil juga merasa terganggu dengan truck-truck yang over muatan karena sangat membahayakan pengguna jalan lain. Untuk itu dirinya berharap ada langkah antisipasi dari pemerintah maupun Polres Keerom sebelum jatuh korban karena hal tersebut.

Baca Juga:  BMD Minta Gubernur Tinjau Ulang Struktur di PB PON dan KONI

“Saya kira selain truck karang, truck kelapa sawit juga harus ditertibkan mas. Terus harus pake terpal mas supaya muatannya itu tidak berhamburan dijalan. Kan bisa saja jatuhnya muatan itu bisa kena kami juga,” katanya mengaku memilih berhenti dipinggir jalan jika berpapasan dengan truck over muatan.

Sementara itu Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Perhubungan, Drs Irwan, MMT saat ditanya Lingkar Papua mengakui pula banyak masyarakat yang mengeluhkan hal tersebut. Dari pantauan pihaknya juga memang banyak truck yang sering melebihi kapasitas muatan.

“Iya memang benar itu salah satu pekerjaan yang akan kami lakukan karena memang banyak keluhan tentang itu,” ujar Irwan saat ditemui Lingkar Papua di Kantor Bupati Keerom.

Langkah penanganan yang akan dilakukan kata Irwan, pihaknya akan melakukan sosialisasi kepada pemilik truck maupun pengusaha timbunan yang ada di Kabupaten Keerom. Diharapkan dengan sosialisasi tersebut pihak-pihak yang terkait dapat memahami pentingnya menjaga kapasitas muatan agar tidak membahayakan pengguna jalan lain.

Baca Juga:  Kuburan di Ujung Run Way Bandara Rendani Manokwari Penyebab Pesawat Sering Tergelincir ?

Selain sosialisasi, langkah tegas juga akan dilakukan OPD Perhubungan dengan melakukan sweping.

“Pasti walau sudah disosialisasi ada yang nakal masih tidak mau dengar kita tindak tegas. Nanti ada sweping,” ungkapnya.

Disinggung soal data berat muatan truck yang over kapasitas, kata Irwan itu adalah salah satu hambatan pihaknya, karena sekarang untuk jembatan timbang tidak lagi menjadi kewenangan daerah namun kewenangan Pemerintah Pusat.

“Jadi kami lihat secara kasat mata saja, kalau truck sawit dan karang itukan sudah kelihatan overnya dimana. Makanya nanti bisa kita tilang kalau ditemukan masih ada setelah sosialisasi,” tuturnya tanpa menginfokan kapan sosialisasi tersebut akan dilakukan. (alf/r1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*