Elite Penguasa Keasyikan Lebay, Lupa Potensi Pemuda Yang Harusnya Jadi Inspirator di Kampung

Direktur Institute Desa (ISDESA) saat menggelar Dialog Kebangsaan beberapa waktu lalu di Uncen. (Foto : Dok. Isdesa)

LINGKAR PAPUA.COM, JAYAPURA—Silang sengketa yang di pertontonkan oleh elite – elite bangsa saat ini secara telanjang di hadapan public, khususnya anak muda memberikan pesan yang negative bagi perkembangan intelektualitas generasi muda, sehingga energy anak muda yang semestinya bisa menjadi kaum pendobrak dan penggerak di daerah masing – masing bisa ikut larut dalam euphoria dan skenario elite – elite politik yang justru kian memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Berangkat dari realitas itulah, sebuah LSM yang bergerak di bidang pengembangan generasi muda di pedesaan, Institute Desa (Isdesa) mencoba mengkampanyekan dan mengajak anak – anak muda di seluruh Indonesia untuk mencipatakan peluangnya sendiri dan menjadi agen – agen perubahan dan tidak ikut larut dalam silang sengketa yang di pertontonkan oleh elite – elite politik saat ini.

“hari ini kita prihatin dengan terjadinya silang sengketa yang tajam di tataran elit bangsa, dan euphoria para tokoh bangsa yang sangat sensitive, bahkan bisa kita katakana sangat lebay, memunculkan permasalahan – permasalahan emosional yang tidak perlu, yang memberikan tontonnan yang tidak elok bagi rakyat dan generasi muda yang mengarah pada mengoyak semangat kebangsaan yang sudah terpupuk baik selama ini, Isdesa hadir untuk mengajak anak – anak muda di Indonesia, khususnya di Papua agar tidak terjebak dalam ‘ke-lebayan” yang di pertontonkan selama ini”, kata Deny Sagara, Direktur Isdesa kepada Lingkar Papua belum lama ini di Jayapura.

Menurutnya, beberapa waktu lalu, di awal – awal bulan Juni 2017 Isdesa bekerja dengan sejumlah komponen pemuda yang punya ide dan gagasan cemerlang menggelar Dialog Kebangsaan di Uncen yang diikuti oleh kurang lebih 100 mahasiswa dan pemuda yang ada di Kota Jayapura dan sekitarnya.

“berbeda dengan di daerah lain di luar Papua, saya justru melihat beberapa pemuda yang jadi inisiator kegiatan Dialog Kebangsaan dan pengembangan kepemudaan kemarin, seperti Bung Leo, Bung Simson memiliki wawasan kebangsaan yang cukup baik, bahkan saya lihat secara umum justru apa yang diributkan oleh elite – elite politik di pusat, realitasnya di Papua tidak ada, disini justru kehidupan berbangsa dan bernegara sesame anak bangsa harmonis sekali, toleransi dan tenggang rasa dan gotong royongnya tinggi” kata Deny Sagara yang mengaku telah menggelar kegiatan serupa di beberapa provinsi di Indonesia.

Menurutnya selama ini perbedaan pandangan terus saja di peruncing oleh elite – elite politik yang disajikan secara vulgar oleh media – media.

“ini Pancasila ini tidak Pancasilais, ini toleran ini tidak toleran, justru kami lihat di Papua ini harmonisasi nya luar biasa, apalagi anak – anak muda di Papua ini justru bisa lebih memaknai apa itu kebangsaan, apa itu kebersamaan, dan toleransi”, katanya lagi.

Isdesa selama ini terus mengkampanyekan agar negara dan elite – elite bangsa ini bisa melihat potensi anak muda dan memberikan tauladan yang baik.

“Bagi kita generasi muda, kita ingin diberikan ruang seluas – luasnya oleh para pemimpin bangsa, kita ini anak – anak muda, bukan tokoh besar, tapi bukan berarti kita juga tidak bisa berpikir dan bekerja untuk impian besar tentang bangsa ini”, kata Deny Sagara didampingi beberapa rekan lainnya, Bang Budi, Emil Hidayat, dan Bung Rais.

Menurutnya hasil dari Dialog Kebangsaan sehari yang di gelar di Uncen beberapa waktu lalu memberikan masukan dan ide serta gagasan baru tentang bagaimana pemuda bisa ambil peran dalam pembangunan di daerah masing – masing.

Tujuan dialog ini adalah bagaimana generasi muda bisa menyamakan persepsi dalam semangat kemajemukan, sehingga bila terbangun sebuah konsepsi yang sama, tentang bagaimana mengisi pembangunan ini, nantinya bisa berkembang dalam rangka mengembangkan potensi masing – masing.

“program pemerintah pusat kana da Dana Desa tuh, sudah dikucurkan, sekarang saatnya pemuda di desa bisa lebih proaktif, mungkin dengan mendirikan BUMDes, anak – anak muda, sarjana – sarjana sudah saatnya kita arahkan untuk kembali ke desa, untuk mengembangkan dan mengelola BUMDes, nantnya ada BUMDes ikan, BUMDes Pariwisata, ada BUMDes perdagangan, hal – hal ini harus di dorong oleh negara dan elite – elite bangsa sebenarnya”, kata Deny Sagara lagi.

Ia menambahkan sudah saatnya anak kampung tidak sekedar menunggu pembangunan dari pusat, tapi harus menciptakan peluang di kampung dan menjadi pioneer dan pelopor percepatan pembangunan di kampung. (amr/R1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*