Ternyata Klemen Tinal Seorang Pendekar Loh !

Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, SE, MM bersama pengurus Keluarga Besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) saat gelar buka puasa bersama di Jayapura, Jumat (23/6/2017) kemarin. (Foto : Amri/Lingkar Papua)

Bergabung dengan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sejak umur 12 tahun di Tembagapura, 4 tahun ikuti latihan kanuragan dan keesaan barulah ia di kukuhkan sebagai Pendekar pada malam 1 Syuro, spesialis tendangan memutar dan teknik membanting itu ternyata adalah orang Papua yang pertama kali bergabung ke PSHT sehingga dikukuhkan sebagai Kangmas Sepuh bagi ribuan warga PSHT yang tersebar di hampir seluruh kabupaten yang ada di Papua saat ini

Oleh : Walhamri Wahid

“tahun 1980-an, kalau ada perlombaan silat di kalangan PSHT dulu, Papua itu terkenal dengan jagonya membanting dan tendangan memutar, pendekarnya yah, Pak Wagub, Pak Klemen Tinal ini, kalau tidak salah ada 9 orang yang di kukuhkan ketika itu bersama Pak Klemen Tinal, tahun 1984 Pak Klemen sudah ikut PSHT di Tembagapura”, kata Ki Tumenggung Suyatno, Ketua Pengurus Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Provinsi Papua menceritakan sejarah hadirnya PSHT dan ikhwal mengapa Wakil Gubernur, Klemen Tinal, SE, MM bisa hadir di tengah – tengah acara Buka Bersama Keluarga Besar PSHT yang dilangsungkan di salah satu hotel di kawasan Ruko Pasifik Permai Kota Jayapura, Jumat, (23/6/2017) sore kemarin.

Menurut Suyatno, PSHT awal hadir di Papua di Tembagapura, barulah berkembang ke Jayapura dan hingga kini sudah ada padepokan di beberapa kabupaten di Provinsi Papua dengan jumlah warganya mencapai ribuan orang.

Hal tersebut juga di akui oleh Wakil Gubernur Provinsi Papua, Klemen Tinal, SE, MM, menurutnya PSHT bukan sekedar mengajarkan teknik bela diri atau senam dan jurus, tetapi baginya PSHT adalah sebuah keluarga, dimana sesama warga ibaratnya keluarga besar yang tidak membeda – bedakan latar belakang, etnis, strata, agama, dan suku.

“saya 33 tahun sudah menjadi warga PSHT, sejak masih SMP di Tembagapura, kurang lebih 4 tahun rutin mengikuti latihan baru saya di kukuhkan sebagai warga, hingga kini masih kental nuansa kekeluargaan diantara kami sesama warga di seluruh Indonesia, bagi saya bukan soal bela dirinya, awal – awal gabung memang itu salah satu penariknya, tetapi setelah menjadi warga, bagi kita semangat persaudaraan dan kekeluargaannya itulah yang lebih penting, sedangkan seni bela dirinya nomor dua, karena di dalam SPHT mulai dari Presiden, pejabat sampai dengan penjual sayur dan tukang ojek memiliki semangat persaudaraan yang kuat dan kental”, kata Klemen Tinal yang kemarin malam juga di daulat sebagai Dimas Sepuh atau setara dengan Dewan Pembina Kerohanian untuk Provinsi Papua dan Papua Barat.

Menurutnya ada yang berbeda di PSHT, selain senam dan jurus, untuk di sahkan menjadi warga PSHT juga harus menguasai yang namanya “keesaan”, dimana bila belum kuasai yang disebut “keesaan”, maka siswa – siswi tidak akan dilantik menjadi warga, karena dengan menguasai ‘keesaan’ maka anggota akan menjadi warga PSHT yang komplit.

“memang ada beberapa tingkatan, mulai dari siswa, sebelum di kukuhkan sebagai warga, harus lalui tingkatan – tingkatan juga, semacam ‘sabuk’ kalau di bela diri, kalau sudah sabuk putih tebal barulah di lantik menjadi warga yang komplit, dan tiap warga pastilah Pendekar”, kata Suyatno menambahkan bahwa beberapa hari lalu ia melihat sisa – sisa latihan di PSHT masih terlihat dalam keseharian Klemen Tinal, dimana olah nafasnya masih bagus, terlihat saat Klemen Tinal berjalan, karena beberapa hari ini Suyatno mengakui memantau dan mengamatinya.

Menurut Klemen Tinal dengan penggemblengan di PSHT 33 tahun lalu telah membentuk mental dan pikirannya selalu positif, bahagia selalu, hidup damai dengan diri sendiri dan lingkungan juga menambah kepercayaan dirinya ketika itu, juga secara kesehatan fisiknya lebih baik.

“persaudaraan di PSHT itu yang sangat kuat antar sesame warga, anggota PSHT waktu pertemuan nasional tahun 2013 itu seluruh Indonesia ada 25 juta warga, dan pertemuan terakhir tahun kemarin sudah mencapai 50 juta warga, bahkan Presiden Jokowi itu juga ikut PSHT loh, tapi setahu saya masih sabuk putih tipis, makanya tinggal beberapa waktu lagi, kalau selesai latihannya, dapat sabuk putih tebal baru di kukuhkan sebagai warga yang komplit”, kata Klemen Tinal.

Wakil Gubernur berharap, acara buka puasa bersama yang kali perdana di gelar oleh Keluarga Besar PSHT di Provinsi Papua tersebut tetap dilaksanakan setiap tahunnya kelak dan mulai dilakukan pendataan dan penataan organisasi secara baik, agar sesama warga PSHT bisa saling bahu – membahu dan tolong menolong ibaratnya saudara tanpa melihat perbedaan yang ada.

“saya selama ini memang tidak pernah terlalu aktif dalam organisasi, tapi organisma PSHT masih hidup dalam diri saya, kalau organisasi itu bisa putus, tapi organisma atau roh dan semangat PSHT tidak akan pernah mati sampai kapanpun, itu karena pembelajaran tentang “keesaan” yang mantap, makanya saran saya kepada pelatih dan pengurus jangan cepat – cepat atau di paksakan tiap tahun harus ada yang dilantik, pastikan setiap habis latihan senam dan jurus, luangkan waktu 1 – 2 jam untuk pendalaman keesaan”, katanya lagi.

Pada kesempatan itu juga Wakil Gubernur menyampaikan bahwa dirinya sudah menyiapkan lahan di Koya, Distrik Muaratami untuk pembangunan Padepokan PSHT, sehingga nantinya akan menjadi tempat berkumpul atau berlatih bagi warga PSHT.

“lahannya sudah ada, jadi kalau ada yang ingin berbagi menyumbang untuk pembangunan Padepokannya sudah bisa di mulai”, kata Klemen Tinal.

Acara buka puasa bersama, Jumat (23/4/2017) kemarin selain di hadiri oleh sekitar 200-an warga PSHT yang ada di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, dan Sarmi juga di hadiri pengurus dan anggota Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid (BKPRM) Kota Jayapura dan juga sejumlah pengurus teras DPD Partai Golkar Provinsi Papua. (amr/R1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*