Festival Sagu Kwadiware Cetuskan 21 Juni Sebagai Hari Sagu, Layak Jadi Destinasi Wisata Tahunan Papua

Charles Toto (kanan) dan David Saweri (kiri) saat memperlihatkan tumpukan sagu olahan para peserta Festival Sagu, dimana pengunjung di sajikan tahap pengolahan sagu mulai dari tokok sampai di olah jadi beberapa makanan siap santap. (Foto : Amri/ Lingkar Papua)

Sagu bagi orang Papua, bukan sekedar sumber pangan, mulai dari hutan sagu, akar, batang, daun sampai sagunya sendiri memiliki nilai filosofis, namun ditengah gencarnya kampanye pemerintah tentang ketahanan pangan, sagu kian tergerus dan di babat habis atas nama pembangunan, harus ada kesadaran pemerintah untuk ikut selamatkan hutan sagu.

Oleh : Walhamri Wahid

Sebuah jembatan kayu yang hanya bisa dilalui sepeda motor terlihat membentang menghubungi badan jalan dengan areal hutan sagu yang di sulap sebagai tempat parkir motor sementara, beberapa spanduk dan baliho menandakan bahwa kita sudah sampai di lokasi Festival Sagu di Kampung Kwadiware itu.

Sekitar 1 hektar hutan sagu terlihat habis di siangi dari gulma dan rumput liar, beberapa anakan sagu terlihat baru di tanam berjejer di sela – sela pohon sagu dewasa yang menanti waktu untuk di tokok.

Setelah melewati sebuah jembatan kecil, pengunjung dipaksa berjalan kaki di tengah kerindangan pepohonan dan kicauan burung alami menyusuri sisi sebuah kali kecil yang terlihat mengering.

Tidak ada suara gema sound system yang memekakkan telinga, atau panggung megah layaknya helatan event, atau jejeran stand – stand yang memamerkan hasil pembangunan Pemerintah yang sudah pasti mengklaim tentang keberhasilan, apalagi para pedagang asongan yang berebut cipratan rupiah dari para pengunjung.

Beberapa rumah tradisional asli Papua berbahan kayu bulat, beratap daun sagu dengan aktifitas masyarakat di dalamnya tengah mengolah sagu menyambut pandangan para pengunjung setelah berjalan kaki sekitar 10 menit ke tengah – tengah hutan sagu itu, kita seperti di bawa ke dalam atmosfer keseharian orang Papua beberapa tahun lampau saat modernisasi belum mengikis habis sendi – sendi kearifan local mereka.

Berbeda dengan beberapa festival budaya dan adat – istiadat lainnya yang sudah pernah di gelar di Tanah Papua, Festival Sagu yang baru pertama kali di gelar di Provinsi Papua, Rabu (21/6/2017) di Kampung Kwadiware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura menampilkan sesuatu yang berbeda, keaslian keseharian hidup masyarakat asli Papua yang menyatu dengan alam, sehingga para pengunjung benar – benar merasakan menjadi bagian dari sendratari kolosal kekayaan adat – istiadat dan budaya Papua.

Baca Juga:  Sisa Lima Bulan, Belum Ada Lelang Kegiatan di Keerom, DAK Kena Potong, Wabup Optimis Tidak Defisit
salah satu spanduk promosi Festival Sagu di Kampung Kwadiware, tempat dicetuskannya 21 Juni sebagai Hari Sagu. (Foto : Amri/ Lingkar Papua

Meski hanya digelar sehari, Festival Sagu yang digelar di tengah – tengah hutan sagu di Kampung Kwadiware bukan hanya memperkenalkan kekayaan organic orang asli Papua, namun juga memiliki misi dan pesan moral kepada pengunjung yang hadir bahwasanya hutan sagu, sagu itu sendiri, manusia maupun makhluk hidup yang bergantung kepadanya membutuhkan perhatian lebih, dan tidak dijadikan sekedar panganan pengganjal perut.

“sagu adalah pohon kehidupan bagi orang papua, pohon sagu memiliki nilai filosofis yang tinggi, karena dia mampu menyediakan kebutuhan pangan, sandang, dan papan, karena sagu bisa di olah menjadi berbagai macam aneka makanan, pohon atau batang sagu bisa dibuat rumah atau tempat tinggal ataupun perlengkapan hidup lainnya, daun dan pelepah sagu juga menjadi salah satu pelengkap pakaian dan busana di dalam acara – acara adat, jadi orang Papua itu identik dengan pohon sagu”, kata Charles Toto salah satu Chief (Koki-Red) yang beberapa tahun terakhir focus mengkampanyekan beberapa menu olahan sagu dengan benderanya Papua Jungle Chef kepada Lingkar Papua di sela – sela kegiatan Festival Sagu di damping David Saweri, salah satu aktifis lingkungan dari Kabupaten Sarmi.

Para penggagas Festival Sagu berharap, dengan adanya event ini bisa menggerakkan pemerintah daerah untuk membuat regulasi terkait perlindungan dan penyelamatan hutan sagu, atau kawasan sagu untuk kesejahteraan masyarakat, mengingat belakangan ini kian banyak hutan sagu yang di sulap menjadi kawasan perumahan oleh pengembang, termasuk juga pembangunan sarana public lainnya.

“aksi penyelamatan hutan sagu sudah mendesak, dengan kian habisnya hutan sagu, bukan hanya masyarakat kehilangan salah satu sumber pangan yang sudah disediakan Tuhan secara alami, tetapi juga terjadi pergeseran dan degradasi budaya, pola makan, pola hidup, karena masyarakat lebih memilih makanan instan dari pada sagu, kita berharap event – event seperti ini di gelar di tiap kabupaten di Papua, di pegunungan mungkin di gelar Festival Hipere misalnya, karena hutan bagi orang Papua adalah supermarket yang menyediakan semua kebutuhan orang Papua tanpa materi (jual beli)”, jelas Charles Toto mengutarakan mimpinya, suatu saat kelak sagu dan aneka olahannya masuk di Istana Presiden sebagai menu tetap Presiden dan tamu negara.

Baca Juga:  Lenis Kogoya : Papua Sudah Merdeka !

Menurut David Saweri, aktifis lingkungan dari Kabupaten Sarmi, bahwa keberadaan hutan sagu bagian dari menjaga keseimbangan alam dan ekosistem, karena akar serabut pohon sagu adalah penampung dan pengendali air alami, jadi tidaklah mengherankan bila daerah – daerah yang sudah tidak menyisakan kawasan hutan sagu, lebih mudah di landa banjir dan masalah – masalah lingkungan lainnya.

Hal senada disampaikan Marcel Suebu, aktifis lingkungan dari Club Pecinta Alam (CPA) Hiroshi Kabupaten Jayapura itu menegaskan bahwa Festival Sagu ini digelar berangkat dari keprihatinan beberapa aktifis, ada aktifis lingkungan, eco wisata, kuliner asli Papua yang melihat bahwa ada efek samping dari sebuah proses pembangunan yang cenderung mengabaikan kearifan local bukan hanya akan merusak lingkungan, namun juga berpotensi merubah tatanan local orang asli Papua.

“lewat Festival Sagu ini kita ingin menyuarakan bahwa ini identitas asli kita orang Papua, kita harus peduli dan menghargai sagu, makanya kita cetuskan hari ini 21 Juni 2017 sebagai Hari Sagu, bukan hanya di Papua tentunya, kita berharap berlaku secara nasional dan bisa ditetapkan oleh pemerintah, sehingga ke depan ada kesadaran publik bukan hanya memanen sagu, tapi juga ada kesadaran untuk membudi dayakan dan melestarikan hutan – hutan sagu yang kian rata di babat atas nama pembangunan”, kata Marchel Suebu.

“kita berharap event ini akan digelar tiap tahun dengan partisipan yang lebih banyak sehingga bertambah lagi destibasi wisata tahunan di Papua selain dari beberapa event yang sudah ada, karena bicara Papua, bagi turis manca negara adalah bagaimana mereka bisa melihat Papua apa adanya, natural, inilah salah satu misi Festival Sagu ini, tentunya bisa menjadi destinasi wisata unggulan ke depannya”, kata Andre Liem salah satu penggagas Festival Sagu dari Papua Tour Guide Community (Patgom)

Festival Sagu Kwadiware, mski hanya di gelar sehari, tetapi memberikan gambaran yang riil kepada para pengunjung yang penasaran dan ingin tahu bagaimana keseharian hidup orang asli Papua yang mampu bersahabat dengan alam. (Foto : Amri/Lingkar Papua)

Festival Sagu yang digelar 21 Juni 2017 lalu di Kampung Kwadiware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura digagas oleh beberapa aktifis diantaranya Andre Liem, Charles Toto, Marcel Suebu, David Saweri dan dukungan tokoh adat, Ondoafi dan masyarakat pemilik hutan sagu di Kampung Kwadiware dengan dukungan sponsor dari salah satu perusahaan sagu di Papua Barat itu melibatkan beberapa suku terasing di Papua yang hingga kini masih terjaga kemurnian budaya dan adat istiadatnya.

Baca Juga:  Hujan Seharian, Banjir Melanda Dua Distrik di Kabupaten Teluk Bintuni

Materi yang disajikan adalah sesuatu yang sudah pasti jarang kita dapatkan di beberapa Festival budaya lainnya yang pernah ada di Papua, sehingga dipastikan setiap pengunjung yang datang pastilah para fotografer yang merindukan bisa mengabadikan keseharian orang asli Papua apa adanya, natural.

“beberapa spot yang kita sajikan di Festival Sagu ini diantaranya adalah hutan sagu itu sendiri yang jadi lokasi kita, makanan tradisional berbahan sagu, bukan yang sudah jadi dan siap di santap, tetapi proses pembuatannya sejak awal mulai dari kegiatan tokok sagunya, ada juga proses barapen ulat sagu, rumah pohon suku Koroway yang juga menampilkan sejumlah makanan tradisional olahan suku Koroway, dan juga ada aksi penanaman pohon sagu di areal lokasi Festival ini”, kata Charles Toto menambahkan bahwa lokasi festival adalah Dusun Sagu yang dikelola oleh Komunitas Yebha Keraa (Dusun Sagu) pimpinan Lod Tungkoye.

Terkait mengapa tanggal 21 Juni dicetuskan sebagai Hari Sagu, menurut Charles Toto, selain bertepatan dengan pelaksanaan Festival Sagu yang akan digelar setiap tahunnya, di bulan Juni juga bertepatan dengan beberapa hari – hari besar terkait lingkungan, yakni Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada 5 Juni.

Sebagai sebuah konsep, Festival Sagu adalah event menarik dan berpeluang besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata unggulan bagi Provinsi Papua, tinggal perspektif dari Pemerintah saja untuk melihat ini sebagai sebuah terobosan public sehingga harus di dukung dan tidak di nilai sebagai sebuah event kontra produktif atau event tandingan terhadap beberapa event yang yang di inisiator oleh Pemerintah selama ini. (***)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*