Garam Hitam Ala Suku Koroway, Bukan Penyedap Rasa Biasa !

Boas Hamahi, saat memperlihatkan garam hitam ala Suku Koroway yang siap di konsumsi, dimana bagi suku Koroway, garam hitam bukan sekedar penyedap rasa tetapi juga sebagai obat untuk beberapa macam penyakit. (Foto : Amri/ Lingkar Papua)

 

Rasanya tidak jauh beda dengan garam konsumsi produksi pabrikan, warnanya hitam karena bahan bakunya adalah tanaman menjalar yang telah melalui proses pembakaran, bagi orang Koroway, garam hitam bukan sekedar penyedap rasa, tapi juga berkhasiat untuk berbagai macam penyakit

Oleh : Walhamri Wahid

Tangan Boas Hamahi terlihat mengaduk – aduk sisa – sisa pembakaran ‘dhan nan’ atau tali garam hutan yang sudah hangus terbakar pada selembar daun dengan dua bilah bambu, sesekali ia menuangkan beberapa tetes air ke dalam ‘adonan’ garam yang tengah di buatnya, sehingga sisa – sisa pembakaran dari batang maupun daun ‘dhan nan’ tersebut menjadi halus dan menggumpal layaknya garam halus yang bisa di jual di toko – toko, tapi garam ala Koroway ini warnanya hitam seperti arang.

“rasanya asin, tapi seperti sudah ada campuran vetsinnya, jadi seperti penyedap rasa memang, bukan rasa garam murni saja, benar – benar bumbu penyedap rasa, tidak terasa sisa – sisa pembakarannya, benar – benar seperti garam”, kata beberapa wartawan yang bergantian mencicipi garam hitam ala suku Koroway dalam event Festival Sagu di Kampung Kwadiware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Rabu, (21 Juni 2017) lalu.

Baca Juga:  Invisible Hand (Pro Justicia) : Upaya Menjatuhkan Gubernur Papua

Garam hitam ala suku Koroway adalah salah satu khazanah budaya dan kearifan local masyarakat suku Koroway yang di tampilkan di dalam Festival Sagu Kwadiware beberapa waktu lalu, dimana tradisi dan keterampilan mengolah sejenis tanaman menjalar yang dalam bahasa asli suku Koroway disebut ‘dhan nan’ menjadi garam hitam adalah tradisi yang di wariskan turun temurun dari zaman dahulu hingga di zaman modern kini masih terus di praktekkan oleh suku Koroway.

‘Dhan nan’ atau tali garam hutan, bahan baku yang digunakan untuk membuat garam hitam ala Suku Koroway, sehari – hari tanaman ini juga difungsikan sebagai tali pengikat saat membuat rumah pohon. (Foto Amri / Lingkar Papua)

“kami menyebutnya tali garam hutan atau dalam bahasa daerah kami ‘dhan nan’, kami tidak mengetahui apa nama dan jenis tanaman ini, tapi fungsinya sehari – hari biasa kami gunakan sebagai tali untuk mengikat saat membangun rumah pohon, ataupun untuk keperluan lainnya, dia tumbuh sebagai tanaman benalu yang merambat dan menumpang di pohon – pohon besar, seperti rotan, tapi bukan rotan”, kata Boas Himahi, perwakilan suku Koroway.

Baca Juga:  Akhirnya DPRP Provinsi Papua Peduli Juga Dengan Wabah Campak dan Gizi Buruk di Asmat

Sekilas bila melihat tanaman ‘dhan nan’ yang dimaksud, daunnya seperti daun bambu, yang panjang melebar di tengah namun lancip di kedua sisinya, sedangkan batangnya yang seukuran kelingking jari orangdewasa, konturnya lembut tetapi lentur bak tali berwarna hijau tua.

Proses pembuatan garam hitam sendiri dimulai dengan memilih bahan baku tanaman ‘dhan nan’, setelah itu di bakar di atas sebuah wadah bersih apakah diatas daun, kulit kayu, atau wadah lainnya, sampai hangus baik batang maupun daunnya, namun harus di pastikan sisa – sisa pembakaran tersebut tidak boleh tercampur dengana media pembakarnya sendiri.

Setelah hangus, lalu sisa – sisa pembakaran ‘dhan nan’ di pisahkan dalam sebuah wadah bisa berupa daun atau wadah lainnya yang bersih untuk kemudian di aduk – aduk menggunakan dua bilah kayu pipih ataupun bamboo sehingga halus.

“proses mengaduk ini harus sambil menghancurkan atau meremas – remas sisa – sisa pembakaran yang masih menggumpal dengan bilah bambu sehingga jadi halus, setelah halus, kemudian hasil adukan itu di bungkus dalam beberapa lapisan daun dan selanjutnya kembali di bakar di atas bara perapian, tapi apinya tidak boleh besar, cukup bara api saja, sampai dirasa sudah cukup masak, barulah garam hitam ini siap dikonsumsi”, kata Boas Hamahi sambil mendemonstrasikan proses pengolahannya kepada sejumlah wartawan yang sibuk mengabadikan gambar baik foto maupun video.

Baca Juga:  Lima Hari Lagi Kopdar Mimika, PSI Di Daerah Sudah Boleh ‘Main Terbuka’ di Pilkada 2018

Mulai dari proses pembakaran ‘dhan nan’ sampai siap di konsumsi tidak butuh waktu lama, sekitar 30 menit saja, tetapi hal itu tergantung banyak sedikitnya garam yang ingin di produksi.

“dulu orang tua kami biasa konsumsi langsung dengan papeda bungkus, tapi kadang kala juga di campur dengan air sebagai bumbu penyedap untuk di tuangkan ke ikan bakar, bisa juga langsung dijadikan semacam sambal, jadi sagu bakar di colo ke garam hitam dan langsung di makan”, kata Boas menjelaskan bahwa tradisi membuat dan mengkonsumsi garam hitam tersebut hingga kini masih di praktekkan orang tua mereka yang masih hidup di pedalaman.

Bagi suku Koroway garam hitam bukan sekedar penyedap rasa, dengan mengkonsumsi secara teratur, mereka meyakini garam hitam juga memiliki fungsi kekebalan tubuh, melindungi mereka dari berbagai macam virus penyebab penyakit seperti batuk, pilek, badan capek – capek, maupun beberapa penyakit lainnya.

“kalau orang tua kami rasa badan lain – lain, mereka pasti konsumsi garam hitam ini, kalau untuk obat biasa di campur dengan air minum, kalau cape – cape konsumsi garam hitam ini maka badan kembali fit lagi”, katanya mengakui hingga kini memang belum ada penelitian ilmiah terkait kandungan, maupun khasiat dari garam hitam ala suku Koroway tersebut. (***)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*