Kamaniel Kiwak dan Kerinduan Rakyat Tentang Sosok Pemimpin Baru Mimika

Kamaniel Kiwak, S.Sos, saat bersama warga Timika, sosok yang dikenal merakyat, mudah bergaul, dan dekat dengan masyarakat, tanpa membedakan, rakyat berharap sikap dan gayanya tidak berubah bila kelak maju di Pilkada Mimika. (Foto : Amri/ Lingkar Papua)

 

LINGKAR PAPUA.COM, MIMIKA—Pilkada Kabupaten Mimika sudah di depan mata, beberapa figure dan tokoh mulai bermunculan dengan berbagai macam “jualan”, rakyat juga sudah mulai pasang mata dan telinga untuk menilai dari sekian nama yang muncul, yang mana yang lebih mendekati ekspektasi mereka, karena tiap pemimpin pasti punya plus minus sesuai dengan masing – masing pribadinya.

“yang jelas dia harus takut akan Tuhan, bukan sekedar di mulut dan retorika belaka, tapi tercermin dalam kehidupan sehari – hari, di rumah tangga, di lingkungan, maupun di masyarakat luas, kita cukup kenal figure – figure yang muncul keseharian mereka kok”, kata Piet Hein Korea, SE, salah satu warga Timika kepada Lingkar Papua belum lama ini ketika ditanyakan sosok pemimpin seperti apa yang ia harapkan untuk memimpin Mimika ke depan.

Menurutnya apa yang ia sampaikan, bukan hanya kerinduan pribadinya, dia meyakini hampir sebagian besar rakyat Mimika merindukan pemimpin yang benar – benar takut akan Tuhan, karena bila takut akan Tuhan itu tercermim dari pikiran, perkataan dan menjadi perbuatan, Piet Hein Korea meyakini pemimpin tersebut bisa menjaga amanah rakyat, tidak akan ingkar janji, dan bekerja benar – benar untuk melayani masyarakat, bukan mengutamakan kepentingan kelompok maupun pribadi.

Piet Hein Korea, SE, berharap pemimpin Mimika kelak, sosok yang Takut Akan Tuhan, bukan hanya di mulut, tapi satu kata antara pikiran, kata dan perbuatan, karena rakyat sudah cape di janji manis melulu. (Foto : Amri / Lingkar Papua)

“dari beberapa nama yang muncul saat ini, kalau pengamatan saya, Pak Kamaniel Kiwak salah satu yang mendekati kriteria tadi, karena saya cukup kenal beliau lebih dari 10 tahun baik secara pribadi, keluarga, maupun di tempat kerja, tapi bukan berarti calon lain juga tidak yah, ini yang saya kenal dan tahu pasti, karena Pak Kamaniel Kiwak saya kenal dekat secara keseharian, leadershipnya bagus, dia paham benar hakekat kepemimpinan, pemikirannya luas dan matang, moralnya juga cukup baik, orangnya sederhana, dekat dengan yang di pimpin, karena sudah ribuan ‘anak muridnya’ selama menjadi instruktur di Nemangkawi, dan saya kenal baik, mampu emotivasi ribuan karyawan, jiwa leaderhsipnya sudah jadi”, kata Piet Hein Korea ketika ditanyakan dari beberapa figure yang muncul saat ini adakah yang ia idolakan.

Menurutnya siapapun yang jadi pemimpin Mimika kelak, mesti berjiwa nasionalisme dan tidak membeda – bedakan, harus bisa mengayomi, dan mampu menjadi orang tua bagi semua komponen masyarakat yang majemuk di Mimika.

“ini yang selama ini kami lihat belum terlihat di Mimika, mindset pemimpin kita belum benar – benar berorientasi melayani rakyat, tetapi justru sebaliknya ingin di layani, di era sekarang paradigm kepemimpinan sudah harus di ubah, sudah ada cotnoh – contoh bagus di republik ini, ada Pak Ahok yang tegas dan berani, ada Pak Jokowi Presiden kita yang dekat dengan rakyat dan sederhana, saya yakin kita di Mimika juga rindukan tipe pemimpin seperti mereka dua itu”, kata Piet Hein Korea yang sudah lebih dari 14 tahun bermukim di Timika dan kerja di PT. Freeport Indonesia.

Hal senada disampaikan Jamaluddin, seorang sopir rental di Timika, menurutnya selama ini mereka benar – benar merindukan sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat, bukan hanya karena lagi musim kampanye baru dekat, tapi gaya dekat dengan rakyat itu adalah ciri khas dan menjadi identitasnya sejak lalu – lalu.

“selama ini biasa jelang Pemilu baru tiba – tiba banyak calon pemimpin, anggota dewan datang mendekat ke rakyat, sok kenal dan sok dekat, rakyat kita tidak bodoh lagi kok, sudah bisa membedakan mana yang benar – benar dari hati dank arena kepribadiannya, dan mana yang hanya sekedar make up, lipstick, pemanis, karena kami cukup lama dan cukup kenal semua nama – nama yang muncul saat ini, rakyat rindukan pemimpin baru yang bisa lebih membawa perubahan”, kata Jamaluddin (88 tahun) yang mengaku sudah bertahun – tahun tinggal di Timika itu.

Menurutnya selama ini pembangunan di Timika terkesan lebih pro kepada kontraktor dari pada menjawab apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, jadi lebih menonjol nuansa kepentingannya ketimbang menjawab kebutuhan masyarakat.

“kita berharap pola – pola ini harus di ubah dan di hilangkan, harus ada perubahan di Timika ini, kita ingin pemimpin itu merakyat, bukan hanya mau nyalon saja, tetapi sampai menjabat juga harus lebih banyak dengan rakyat, dengar keluhan rakyat, jangan terbang terus, tiba berangkat saja di Kota Timika, pola – pola begini kita harap harus di hilangkan ke depan kalau mau Timika ini maju”, kata Jamaluddin mengaku sudah memiliki idola dan berharap idolanya itu bisa mendapatkan kendaraan partai untuk mendaftar.

Ketika di kejar lebih lanjut, Jamaluddin akhirnya menyebut nama Kamaniel Kiwak sebagai salah satu tokoh yang ia idolakan bisa membawa perubahan untuk Mimika ke depan.

“Pak Kiwak bukan orang baru di kalangan kita, arus bawah, kami cukup kenal, sejak masih jadi orang biasa – biasa, sampai kerja di Freeport da nada kepercayaan, sampai hari ini kabarnya mau calon, tidak ada yang berubah, kita berharap kalau Pak Kiwak nanti jadi maju dan terpilih, tidak ada yang berubah, tetap merakyat dan sederhana seperti selama ini”, kata Jamaluddin lagi.

Menurutnya jiwa kepemimpinan Kamaniel Kiwak sudah tercermin dalam keseharian, orang yang tidak sungkan – sungkan membantu orang lain, melibatkan diri untuk menangani beberapa masalah yang menimpa masyarakat walaupun tidak kenal dekat.

“pemimpin Mimiika ke depan harus bisa masuk dan merangkul semua kalangan, jangan jaga jarak, bisa menyatu dengan rakyat dan mendamaikan semuanya, sehingga tidak ada lagi stempel Timika sebagai daerah perang suku, karena kami lihat selama ini pemerintah kurang lakukan pendekatan dengan masyarakat, makanya image negative itu terus melekat, kami yakin kalau pemimpin lebih dekat dengan rakyat, bersama rakyat, banyak dengar apa yang di inginkan rakyat, tidak akan ada gejolak apalagi sampai perang suku di era modern, semuanya bisa di komunikasikan, asal ada yang mau jadi penengah”, kata Jamaluddin, salah satu tokoh yang di tuakan di kalangan sopir – sopir di Timika itu. (amr/r1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*