Yeki Kogoya, Pendaki Papua Penebar Kasih di Puncak Gunung Slamet

Yeki Kogoya, mahasiswa asal Kabupaten Nduga, Papua, yang tergabung dalam Mahasiswa Pencinta Alama Univ. Widya Mataram (Mapawima) terlihat menggendong pendaki yang kecelakaan menuruni lereng Gunung Slamet, selama kurang lebih 9 jam, dari pagi sampai malam dengan tertatih – tatih, karena kakinya dalam keadaan sakit akibat terkena panah perang suku di Kabupaten Nduga beberapa waktu lalu. (Foto : Instagram sabangprayogi)

 

Kasih itu luas, kasih itu tidak memandang ras, warna kulit, kasih itu alami bahkan tidak pernah menanyakan siapa namamu, seperti kasih yang ditunjukkan Yeki Kogoya, seorang pendaki gunung asal Papua yang rela mengabaikan keselamatan dirinya sendiri demi menolong seorang pendaki muda yang mengalami kecelakaan di Gunung Slamet dengan cara menggendong korban menuruni rute terjal nan curam selama 9 jam dari pagi hingga malam, padahal kakinya sendiri saat itu sebenarnya dalam keadaan luka. Anehnya Yeki Kogoya tidak mengetahui nama korban yang ditolongnya itu.

Oleh : Walhari Wahid

Namanya Yeki Kogoya, mahasiswa semester VII Jurusan Sosiologi Universitas Widya Mataram Yogjakarta itu mendadak menjadi viral di social media karena tindakannya yang di nilai ‘heroik’, berani bahkan cenderung mengabaikan keselamatan dirinya sendiri untuk menolong seorang ‘bocah pendaki’ yang mengalami kecelakaan saat mendaki Gunung Slamet, gunung tertinggi di Provinsi Jawa Tengah yang akrab di sebut sebagai atapnya Jawa Tengah itu.

Aksi yang menurut Yeki Kogoya adalah sesuatu hal yang biasa saja dan menurutnya itu adalah tanggung jawabnya dan merupakan panggilan hati bagi seorang pecinta alam yang benar – benar memahami hakikat dari kasih dan cinta kepada sesama, sebagai buah dari pembelajarannya selama ini menyatu dengan alam, kasih yang tak berbatas dan kasih yang tak mengharap balas.

“ahh, saya tolong saja toh, kasihan, saya juga tra sangka kalau tindakan saya itu nantinya akan menjadi perhatian dan omongan orang, ada orang celaka, dan saya bisa tolong, karena kita di Papua sudah biasa toh, baku tolong, kalau orang celaka, saya bikin itu hal biasa saja mo’ Kaka”, kata Yeki Kogoya yang memiliki nama rimba di kalangan pendaki Lambu saat diwawancarai Lingkar Papua melalui telepon selulernya dengan logat asli ‘orang gunung” yang masih kental dan polos.

Yeki Kogoya mengaku sudah bergabung dengan kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Widya Mataram (MAPAWIMA) Yogjakarta sejak tahun 2012, dimana saat ini bukan hanya dirinya saja yang ikut dalam MAPAWIMMA ada seorang adik tingkatnya juga tergabung dan sebelumnya juga ada dua pendaki Papua lainnya yang lebih senior dan sudah kembali ke Papua adalah anggota MAPAWIMA juga.

“waktu itu saya dengan dua orang teman nama Niko dan Ito (Keylo), dari Flores dan Sumba yang ingin naik ke Gunung Slamet, karena mereka belum pernah, jadi kami berangkat Kamis (29/6/2017) pagi, dengan beberapa rombongan pendaki lainnya, jadi waktu itu kami sudah sampai di puncak Gunung Slamet, dan hendak pulang paginya, Jumat (30/6/2017), karena masih pagi jadi kami masih menikmati pemandangan alam di puncak Gunung Slamet di Pos IX”, kata Leki Kogoya.

Namun tiba – tiba dari arah bawah pendakian dari Pos VIII datang beberapa pendaki yang meminta tolong kepada beberapa orang pendaki yang ada di puncak gunung (Pos IX), termasuk Yeki dan dua orang temannya itu.

“jadi mereka berteriak minta tolong katanya ada pendaki yang celaka dan jatuh, makanya kami tiga inisiatif lari turun ke lokasi di maksud, jalurnya memang agak terjal, licin, dan tepi kanan kiri ada jurang, karena masih pagi jadi embun juga, dingin sekali, jadi kami langsung menuju ke lokasi kejadian, rupanya banyak pendaki lain tapi mungkin mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong korban”, katanya lagi.

Menurut Yeki, setiap pendaki rata – rata sudah memiliki beban di punggung masing – masing berupa ransel yang berisi perlengkapan dan perbekalan, dimana untuk pendaki pemula dengan beban itu saja sudah membuat kewalahan dan kesulitan bergerak di ketinggian gunung yang mencapai 3.428 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan medan yang terjal pula.

Baca Juga:  Tepati Janji Kampanye, Watae – Markum Bantu Rp 1 Milyar Untuk Pembangunan Masjid Al-Amin Swakarsa

Sesampainya di lokasi, saat yang lain masih menonton dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong, Yeki Kogoya nekat turun ke lokasi jatuhnya korban yang berada di tepian jurang, kondisinya sangat memprihatinkan, wajahnya penuh luka baret, karena rupanya ia terjatuh saat menuruni lereng gunung sehingga mukanya membentur ruas jalan yang terdiri dari bongkahan batu – batu cadas.

“saat saya angkat sudah lemas, mukanya luka – luka, setelah diskusi dengan dua orang teman, karena posisi kita agak sulit, pas di lereng, tidak ada waktu untuk kasih pertolongan pertama atau buat tandu, akhirnya saya putuskan menggendong dia ke bawah, ke Pos VII, yang lebih dekat dari pada bawa naik ke Pos IX di atas”, kata Yeki Kogoya.

Rute pendakian menuju ke puncak Gunung Slamet lewat jalur Bambangan, dimana Leki Kogoya menggendong korban dari Pos VII hingga ke Pos I. (sumber : infpendaki.com)

Setelah di Pos VII, Keylo berinisiatif memberikan pertolongan ala kadarnya untuk membersihkan luka – luka baret di wajah dan tubuh korban, sedangkan dua orang teman korban yang sama – sama mendaki berinisiatif turun duluan untuk meminta bantuan Tim SAR.

“jadi dia pu’ teman ada dua orang kaka, mereka turun minta bantuan ke Tim SAR, korban kita istirahatkan dulu di Pos VII, saya dengan Niko naik kembali ke puncak gunung karena kami punya barang dan perlengkapan semuanya masih di atas, jadi Ito yang jaga korban di Pos VII sambil tunggu bantuan datang dan kasih pengobatan seperlunya dengan minyak gosok saja”, kata Yeki Kogoya.

Namun saat ia dan Niko kembali dari puncak gunung dengan tas ransel berisi perbekalan dan perlengkapan mereka, rupanya tidak ada tanda – tanda adanya Tim SAR yang datang menjemput, saat itu para pendaki lainnya berseliweran baik yang baru mau naik maupun yang hendak turun, karena hari sudah tengah hari, tidak terlalu memperdulikan korban.

“kita lihat korban punya kondisi makin kritis, dia tra’ bisa bicara lagi, suara su’ habis, akhirnya kita sepakat bawa turun dia, mau bikin tandu tra’ mungkin karena tra’ ada pohon juga kalau kita pake tandu lebih susah bergerak sambil memikul tandu, akhirnya saya putuskan untuk menggendong dia, sedangkan ransel di bawah teman dua, jadi Keylo jalan di depan, tugasnya rem – rem saya dengan korban yang saya gendong, sedangkan Niko di bagian belakang, tugasnya tarik – tarik kami dari belakang, karena jalan menurun itu terjal dan licin, salah – salah terpeleset, jadi dong dua jadi rem depan dan rem belakang saya”, katanya sambil tertawa mengenang kejadian itu.

“sebenarnya saya punya kaki juga nih, ada luka sakit juga Kaka’, bekas dapat panah waktu perang suku di Nduga itu, jadi belum sembuh benar”, kata Yeki Kogoya mengaku saat menggendong menuruni lereng gunung itu juga dengan terpincang – pincang.

Sepanjang perjalanan itulah mereka bersua dengan beberapa rombongan baik yang naik maupun yang bersama – sama turun, dan ada beberapa pendaki rupanya yang mengabadikan moment – moment itu saat berpapasan dengan ketiganya, saat dirinya menggendong dan dua orang temannya bertindak sebagai rem.

“kami tiga tra’ ada yang bawa kamera, hape juga tra pake kamera, jadi tra sempat mengabadikan, kita juga tra’ pikir mau foto – foto, ada repot pikir selamatkan orang pu’ anak mo”, kata Yeki tertawa ketika ditanya apakah ada foto – foto dokumentasi mereka bertiga.

Jam 10.00 WIB mereka bertolak dari Pos VII atau yang biasa disebut Pos Samyang Kendil, dengan berjalan tertatih – tatih, Yeki menggendong korban menuruni lereng gunung berharap bisa sampai di Basecamp sebelum gelap.

Baca Juga:  Bagi - Bagi Saham Freeport, Mimika dan Kabupaten Terdampak Dapat 7 %, Pemprov Papua 3 %

“lewat Pos VI (Pos Samyang Jampang) kami tidak istirahat, lanjut terus sampai di Pos V (Pos Samyang Rangkah) baru kami istirahat, saat itu sudah jam 13.00 WIB setelah beristirahat sedikit baru kami lanjutkan jalan terus non stop sampai di Pos I (Pondok Gembirung) sekitar jam 19.00 WIT, jadi kami jalan itu terabas gelap malam tra’ singgah – singgah di pos – pos berikutnya”, kata Yeki Kogoya.

Pos – pos pendakian bukanlah seperti sebuah pondok atau rumah lengkap dengan fasilitasnya, yang dikatakan pos – pos adalah beberapa lokasi yang memiliki tanah datar dan bisa dijadikan tempat beristirahat atau membuat tenda bagi yang tidak sanggup meneruskan perjalanan, mulai dari Pos V sampai Pos IX tidak ada perumahan warga ataupun pedagang, memasuki Pos IV dan III para pedagang asongan ada tapi hanya saat siang hari saja, nanti memasuki Pos II, I barulah ada beberapa warung – warung kecil yang juga biasa buka pada siang hari saja.

“kita sampai di Pos I itu sudah ada sinyal, itu masih jauh ke Base Camp, jadi kami hubungi Tim SAR yang ada di Basecamp, jarak antara Basecamp dengan Pos I itu sekitar 3 – 4 jam perjalanan lagi, kita sempat baku angkat (baku marah-Red) dengan Tim SAR di base Camp Bambangan, karena menurut mereka korban tidak terdaftar sebagai pendaki yang melalui Pos Bambangan, jadi Tim SAR Basecamp Bambangan merasa bukan jadi tanggung jawab mereka, jadi mereka tidak bisa naik jemput, padahal kondisi korban kian lemas, kita juga sudah capek semua”, kata Yeki Kogoya.

Menurutnya ketiga temannya dan beberapa rombongan pendaki lainnya yang menyertai mereka sempat adu mulut dengan Tim SAR di Basecamp Bambangan, kebetulan di dalam rombongan yang menyertai Yeki Kogoya ada seorang wartawan dari Jakarta yang sempat mengancam Tim SAR di Basecamp barulah mereka mau naik ke Pos I menjemput korban.

“kami baku marah lama juga, kami bilang ini persoalan nyawa manusia, bukan binatang, tapi mereka tetap ngotot karena korban tidak terdaftar dalam pendaki yang melalui rute Bambangan, jadi bukan tanggung jawab mereka, jadi om wartawan itu bicara lewat telepon ancam akan muat mereka di berita dan laporkan mereka kalau tidak mau tolong, barulah Tim SAR tiba beberapa jam kemudian”, kata Yeki Kogoya.

Untuk mencapai puncak Gunung Slamet memang sedikitnya ada 5 rute atau jalur yang biasa di lalui oleh pendaki, yakni pendakian via jalur Bambangan yang paling dekat dan terfavorit, ada juga via jalur Baturaden, jalur Kali Wadas, jalur Guci, dan via jalur Dipajaya Pemalang.

Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah yang berada di 5 wilayah kabupaten, sehingga bisa di jangkau dari lima kabupaten yakni Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Tegal dan kabupaten Pemalang.

“jadi korban itu naik ke puncak gunung lewat jalur Pemalang, bukan lwat jalur Bambangan, jadi dorang punya teman dua orang itu rupanya turun kembali meminta bantuan lewat jalur Pemalang, sampai korban kita serahkan ke Tim SAR di Pos I Jalur Bambangan, kita tidak dengar kabar dia pu’ teman dua yang katanya turun duluan cari bantuan itu, setelah kita serahkan korban ke Tim SAR, kami tiga juga langsung pulang, dan biasa – biasa saja” , kata Yeki Kogoya mengakhiri kisahnya.

Menurutnya setelah tiba di Pos I barulah ia menyadari bahwa korban sebenarnya masih anak – anak, baru lulus SD Kelas VI dan baru mau masuk SMP, jadi mereka dengan beberapa temannya juga klub pecinta alam dan modal nekat mendaki Gunung Slamet lewat jalur Pemalang.

“aduhh, saya lupa tanya juga dia pu nama Kaka’, kami tra tahu, setelah diambil alih Tim SAR kami juga lepas tanggung jawab toh, karena sepanjang perjalanan dia juga menahan sakit, dan lemas tidak bisa bicara, tapi masih anak – anak rupanya, dia pu badan saja yang besar, ada harus agak cengeng”, katanya sambil tertawa di ujung telepon.

Baca Juga:  Bermodal 75% Kursi di DPRP, Koalisi Papua Bangkit II Deklarasikan LUKMEN Jilid Dua Besok di GOR Cenderawasih

Menurut Niko, mahasiswa semester 8 akhir Jurusan Fisipol Universitas Widya Mataram yang selama proses evakuasi korban bertindak sebagai ‘rem belakang’, ia mengenal sosok Leki yang punya nama pendaki Lambu adalah sosok yang gemar menolong orang, ceria, dan selalu bisa mengemong kepada junior – junior yang baru bergabung di MAPAWIMA.

“saya semester 8 akhir, tapi gabung di MAPAWIMA duluan Yeki Kogoya, dari tahun 2012, saya baru gabung tahun 2013, kemarin itu pendakian saya yang pertama ke Gunung Slamet, kalau Yeki dia sudah senior, sudah beberapa kali sampai di puncak”, kata Niko melalui telepon menambahkan bahwa Yeki memang orang yang ringan tangan menolong sesama.

Sebagai pendaki pemula ia mengaku banyak belajar juga dari Yeki Kogoya soal trik dan tips dalam mendaki, karena untuk jadi pendaki itu harus butuh ketenangan dan tidak bisa sembrono, menurutnya bila saat peristiwa itu Yeki Kogoya tidak berinisiatif menggendong korban, tidak tahu apa yang terjadi dengan nasib korban, mungkin harus bermalam di Pos VII sampai datang Tim SAR.

“dia punya kondisi lemas dan pasrah, kita khawatir dia tidak selamat, makanya kita nekat gendong turun, rupanya masih anak – anak, semestinya ada pembatasan umur bagi para pendaki, anak baru tamat SD lalui medan berat begitu rawan tanpa pendampingan, kalau tidak di tolon kemarin mungkin tidak tahu apa yang terjadi”, kata Niko

Hal senada disampaikan Ito dalam proses evakuasi kemarin berfungsi sebagai tim medis dan juga rem depan Yeki Kogoya, pemuda asal Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki nama asli Kresensius Apprianto Seidu tapi lebih akrab di panggil Keylo nama rimbanya mengatakan bahwa keputusan Yeki Kogoya untuk mengambil tanggung jawab menggendong korban adalah langkah berani.

“pak, kita pendaki itu punya beban ransel saja sudah berat, jadi kalau bukan pendaki sejati yang punya hati, pasti pikir – pikir mau tolong orang lagi, untuk jaga diri sendiri saja belum tentu kami kondisi fit terus, makanya kemarin itu dari sekian banyak orang yang ada di TKP, hanya Yeki Kogoya yang berinisiatif langsung menolong”, kata Keylo yang juga mengaku baru pertama kali mendaki Gunung Slamet, tapi bukan anggota MAPAWIMA, tapi Mapala Tunas Patria, APMD Jogjakarta, beda kampus dengan Yeki Kogoya dan Niko.

Ia berharap agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi, hendaknya di setiap Basecamp perlu dilakukan pengecekan identitas dan umur para pendaki, agar jangan ada anak – anak di bawah umur yang nekat mendaki, apalagi tanpa pengetahuan tentang mendaki yang cukup.

“bagusnya ada Tim SAR di tiap Posko pendakian, jadi kalau ada musibah bisa tertangani cepat, juga harus ada pembatasan para pendaki, kalau masih anak – anak, dan minim pengetahuan tentang medan dan teknik mendaki, jangan di lepas tanpa pendampimgan pendaki senior”, kata Keylo.

Dari insiden kemanusiaan yang kini jadi viral tersebut, dari tindakan Yeki Kogoya, pemuda asal Kabupaten Nduga Provinsi Papua yang menolong tanpa pamrih, ibarat penghilang dahaga di tengah – tengah miskinnya teladan akan semangat berbagi kasih dan kemanusiaan di negeri ini, karena melalui tindakan yang tulus dan ikhlas, bisa menginspirasi ribuan bahkan jutaan orang, dan membuka mata manusia – manusia lainnya, bahwa orang Papua yang selama ini selalu di pandang sebelah mata lebih manusiawi dan telah memberikan contoh dan teladan bagaimana dan apa itu kasih yang sebenarnya.

Meski ketiganya kini menjadi viral dan pembicaraan publik, tapi ketiga petulang itu tidak terlalu ambil peduli, saat proses wawancara via telepon kemarin itu rupanya Yeki Kogoya, bersama Niko dan Keylo, tiga petualang dari timur Indonesia itu tengah menorehkan cerita petualangan baru mereka, menggunakan sepeda motor menempuh ratusan kilometer berjam – jam lewat jalur darat dari Jogjakarta ke Bandung, untuk mencari pengalaman dan berbagi cerita dan kasih mereka kepada sesama tentunya.

“maaf kaka, kami tiga ini ada perjalanan ke Bandung pake motor ini, nanti sudah sampai di Bandung baru lanjut telepon lagi e, ini masih di perjalanan”, kata Yeki Kogoya mengakhiri sesi wawancara kemarin. (***)

Berikan Komentar Anda

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*