Ini Dia Produk Olahan Perikanan, Oleh – Oleh Khas Merauke

Marisi Sibarani, Ketua Koperasi Awai Say, yang menampung produk olahan masyarakat berupa bakso, nugget, abon ikan. terasi, maupun snack dalam bentuk kiloan, kemudian di kemas dengan packaging menarik lalu di jual kembali sebagai oleh – oleh khas Merauke. (Foto : Amri/ Lingkar Papua)

 

LINGKAR PAPUA.COM, MERAUKE – Untuk memberikan nilai tambah terhadap produk perikanan yang melimpah di Kabupaten Merauke, dalam beberapa tahun terakhir ini Dinas Perikanan Merauke telah mengembangkan beberapa produk olahan turunan dari ikan yang berhasil di olah menjadi beberapa produk yang telah dikemas rapi sehingga ikan – ikan yang melimpah tidak hanya di jadikan sebagai ikan asin semata.

“salah satu program unggulan kami memang ingin mengembangkan deversifikasi produk olahan dari ikan, agar daging ikan yang sebagai produk sampingan, misalnya nelayan yang mencari gelembung ikan kakap, kadang dagingnya kan tidak digunakan, di buang, itu yang kita coba kembangkan, ikan tengiri juga begitu, kita coba kembangkan jadi beberapa produk seperti abon, nugget, bakso, ada juga udang yang jadi teras, dan beberapa makanan ringan (snack) yang disukai anak – anak”, kata F. Suhono Suryo, Kadinas Perikanan Kabupaten Merauke di ruang kerjanya belum lama ini.

Menurutnya Dinas Perikanan telah melakukan pembinaan terhadap beberapa kelompok usaha masyarakat, sebagai produsennya, sedangkan untuk pengemasan dan pemasaran ditangani oleh sebuah koperasi yang di dirikan kerja sama dengan IFAC, sebuah lembaga LSM pendamping yang bergerak di bidang pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan pelestarian alam secara bertanggung jawab.

“Koperasi Awai Say ini bentukan IFAC kerja sama dengan Dinas Perikanan Merauke, saya adalah staff di Dinas yang dipercayakan sebagai Ketua Koperasi ini melalui rapat anggota, ada 40 orang anggota koperasi”, kata Marisi Sibarani, Ketua Koperasi Awai Say di Rumah Niaga yang letaknya di samping kantor Dinas Perikanan Merauke di Belakang Lantamal Merauke.

Marisi Sibarani menuturkan bahwa selama ini koperasi bertindak sebagai penampung produk olahan dari masyarakat, selanjutnya tahap packaging atau pengemasan dan pemasaran di lakukan oleh Koperasi Awai Say.

“kita beli produk curah per kilo dari masyarakat, seperti bakso ikan, kita beli per kilo Rp 50 ribu, kita kemas 500 gram di jual lagi dengan harga 33.000, jadi kalau 1 Kg bisa jadi 2 bungkus seharga 33 ribu, jadi totalnya 66 ribu, untungnya memang tipis, karena biaya pengemasan tergolong mahal, tapi bagi kami yang penting bisa menolong masyarakat, walaupun koperasi untung sedikit”, kata Marisi Sibarani.

Beberapa produk olahan ikan yang sudah dihasilkan oleh Koperasi Awai Say dengan mitra kerja samanya kelompok masyarakat ada 5 kelompok diantaranya adalah bakso ikan, terasi udang, ada snack cheese stick dan amplang, dan nugget.

Salah satu kendala yang dihadapi oleh masyarakat adalah pemasaran, demikian juga dengan koperasi, dimana saat ini Koperasi Awai Say belum mampu memasarkan produk – produk olahan tersebut hingga keluar Merauke.

“kita masih baru, belum punya network, juga mungkin masih harus belajar banyak soal pemasarannya, selama ini memang tidak tiap bulan masyarakat jual ke kami, kalau stok di kami habis, baru kami pesan lagi”, kaat Marisi Sibarani, Ketua Koperasi Awai Say.

Dari segi standarisasi produk juga, dari kemasan yang digunakan, terlihat belum ada hasil pemeriksaan dari BPOM maupun Sertifikasi Halalnya, walaupun pengemasannya sudah menggunakan standarisasi packaging sesuai produk industry rumahan.

“untuk produksi di masyarakat memang kita ada SOP dan standarisasi pengolahannya, jadi kita jaga dan kontrol kualitasnya, kelompok binaan kami tidak bisa memproduksi semaunya, juga tidak kita perkenankan menjual produk yang sama kepada pihak lain, agar tidak terjadi persaingan harga yang tidak sehat”, kata Marisi lagi.

Untuk pemasaran Ketua Koperasi Awai Say mengakui selama ini masih menggunakan pemasaran via online di Facebook, dan konsinyasi di beberapa toko yang ada di Kota Merauke.

“karena yang kita produksi ini produk makanan, kita kadang kala terkendala dengan waktu expire, dan jaringan pemasaran belum bagus makanya kita tidak berani produksi dalam jumlah besar dan banyak”, kata Ketua Koperasi Awai Say lagi. (amr/r1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*