Terkuak Banyak Casis Polri Papua Gugur Karena Faktor Kesehatan dan Mental

Ketua Komisi 1 DPR Papua Elvis Tabuni (kiri) dan Tan Wie Long, Anggota Komisi 1 DPR Papua saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait hasil audiens DPR Papua dengan Biro SDM Mabes. Polri. (Foto: Titie/Lingkar Papua)

 

LINGKARPAPUA.COM, JAYAPURA –  Terkait dengan adanya keluhan soal banyaknya putra dan putri asli Papua yang mendaftar menjadi calon siswa (casis) Polri namun tidak lulus, DPR Papua telah melakukan audiens dengan Biro SDM Mabes Polri tanggal 20 Juli 2017. Dalam audiens tersebut, terkuak banyaknya casis asli Papua gugur karena faktor kesehatan dan mental.

Menurut Ketua Komisi 1 DPR Papua Elvis Tabuni, faktor kesehatan menjadi salah satu kriteria yang dibahas bersama pihaknya dan Mabes Polri.  “Sebagian besar casis Polri gugur di kesehatan, serta mental yang belum sepenuhnya siap,” kata Ketua Komisi 1 DPR Papua, Elvis Tabuni, kepada sejumlah pewarta diruang kerjanya, Selasa (25/7).

Elvis mencontohkan, salah satu casis yang telah lolos pada tes sebelumnya, namun akhirnya harus gugur setelah diketahui bermasalah dalam penglihatan. “ Ini juga kita harus kita garis bawahi, karena itu sudah menjadi SOP dalam penerimaan calon bintara, tamtama maupun perwira polisi,” jelasnya menggambarkan mekanisme penerimaan menjadi seorang polisi.

Selain kesiapan mental, Polri juga mengakui adanya kendala keuangan terhadap pelaksanaan penerimaan Casis Polri diluar kuota yang tersedia. Sebab, jika dalam pelaksananya penerimaan anggota Polri baru tentunya ada penambahan anggaran untuk penggajian.

“Nah untuk pengabdian hingga 40 tahun harus digaji belum lagi ditambah dengan pensiun, sehingga ini juga menjadi kendala lain,” jelasnya.

Untuk meminimalisir gugurnya casis asli Papua, DPR Papua akan mendorong kepada pihak eksekutif untuk mempersiapkan sebuah fasilitas untuk menjadi tempat pelatihan mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian menjadi Polri maupun TNI.

“Jadi ini semacam pra seleksi dari tingkat daerah khusus untuk putra asli daerah, dimana ada satu pelatihan yang melibatkan Polres didaerah tersebut, tujuannya agar casis ini lebih siap mental maupun kesehatan,” jelasnya.

Sementara itu Tan Wie Long, Anggota Komisi 1 DPR Papua menuturkan, pihaknya sangat berterima kasih kepada Mabes Polri yang bersedia melakukan audiens terkait masalah penerimaan anggota Polri di Papua. Melalui pertemuan tersebut, diakuinya, banyak masukan dan saran yang diterima DPR Papua untuk menjadi tolak ukur dalam pembinaan anak asli Papua.

“Banyak hal yang dibicarakan dan sangat bermanfaat. Penjabaran dalam audiens juga dilakukan secara terbuka. Karena semua prosedur penerimaan tes bagi calon siswa Polri diuraikan secara jelas,” ungkapnya.

Untuk penerimaan Polri tahun 2018, Tan berharap, adanya kerjasama dari Polri untuk lebih memprioritaskan anak asli Papua, dengan catatan adanya kesiapan mulai dari casis, orang tua dan juga pemerintah daerah setempat. “Yang pasti Papua tetap mendapat kekhususan, bukan soal persentasinya tapi untuk wilayah Otsus tetap menjadi prioritas, yang penting siap,” katanya

Sedangkan yang berkaitan dengan psikologi, fisik ataupun management adminsitrasi, sambung A Long semuanya diawali dari tingkat kabupaten masing-masing. “Komisi 1 berharap Gubernur Papua, memberikan himbauan adanya alokasi APBD untuk membiayai anak anak didik yang ingin masuk sebagai siswa calon Polri maupun TNI,” tandasnya sembari mengatakan untuk tahun penerimaan 2018 DPR akan melakukan fungsi pengawasan terhadap rekruitmen calon anggota Polisi. (tis/R2)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*