Ternyata Gara – Gara ‘Daun Bungkus’, Ada Casis Polri Dari Papua Gugur

ilustrasi berita

LINGKAR PAPUA.COM, JAYAPURA – Selain faktor kesehatan fisik, psikis dan mental calon siswa yang menyebabkan tiap tahun cukup banyak anak – anak asli Papua tidak lolos seleksi penerimaan Polri, padahal kuota yang disediakan bagi anak – anak asli Papua cukup signifikan, salah satu penyebab lainnya adalah gara – gara ‘bungkus’, sebuah teknik tradisional untuk memperbesar alat kelamin lelaki menggunakan dedaunan khas Papua, termasuk di dalamnya praktek ‘perbesar senjata’ menggunakan silicon lebih – lebih tidak diperbolehkan.

Untuk itu ke depan, diharapkan kepada semua anak – anak asli Papua yang ingin mengikuti seleksi sebagai anggota Polri / TNI harus memastikan diri tidak merubah ukuran “senjata’ mereka, karena bila itu terjadi, dipastikan akan gugur, dan aturan itu berlaku umum di seluruh Indonesia, karena itu termasuk syarat mutlak selain tidak boleh menindik telinga, karena setiap calon siswa (casis) yang lolos untuk mengikuti tahapan pendidikan dan latihan harus memiliki anggota tubuh yang proporsional dan natural.

Soal adanya calon siswa Polri dari Papua yang tidak lolos karena gara – gara sudah ‘bungkus’, ini juga terungkap dalam audiens antara Komisi I DPRP Provinsi Papua dengan Biro SDM Mabes Polri, Kamis (20/7/2017) lalu, untuk itu meski quota yang disediakan bagi anak – anak asli Papua mencapai 70%, dalam tiap tahunnya, namun karena factor kesehatan dan mental, sehingga cukup banyak casis dari Papua yang tidak lolos, dan salah satu penyebabnya adalah karena ‘bungkus’.

“hasil audiens kami dengan Biro SDM Mabes Polri factor utama casis dari Papua tidak lolos, karena kesehatan fisik, psikis dan mental, dan salah satunya karena casis yang bersangkutan sudah ‘bungkus”, kalau mau jadi anggota Polisi tidak boleh ‘bungkus’, jadi dari awal mendaftar hal tersebut harus di pastikan, dan perlu ada pembinaan di daerah masing – masing bagi casis yang punya cita – cita jadi polisi, memang tidak semua yang gugur karena ‘bungkus’, karena saat pemeriksaan anggota tubuh, dan didapatkan ada casis yang sudah ‘bungkus’ pasti akan gugur”, kata Elvis Tabuni, Ketua Komisi I DPRP Provinsi Papua.

Baca Juga:  JEJAK 12 RUMPUN ASMAT

Mabes Polri punya alasan tersendiri mengapa anggotanya tidak boleh ‘bungkus’, apalagi bila masih berstatus siswa, karena kondisi tersebut akan terkendala saat mengikuti latihan, selain itu praktek ‘bungkus’ tersebut dianggap sebagai pelanggaran dalam bidang kesehatan, sedangkan penilaian dari aspek mental psikologis, calon siswa yang ‘bungkus’ di nilai tidak memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan dirinya, makanya meskipun seorang calon siswa memiliki nilai tinggi di tes tertulis, fisik lainnya sehat, tetapi saat pemeriksaan fisik sudah ada yang tidak original lagi, dipastikan akan gugur, termasuk juga tidak boleh menindik telinga.

Sinyalemen adanya calon siswa dari Papua yang tidak lolos karena sudah ‘bungkus’ ini juga pernah di wacanakan oleh Kapolda Papua Irjen (Pol) Bekto Soeprapto di era 2010, saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Bupati\/Walikota dan Musyawarah Rencana Pembangunan Daerah (Musrenbang), se-Papua,  di Aula Sasana Krida Kantor Gubernur Dok II Jayapura.

Menurut Irjen (Pol) Bekto Soeprapto ketika itu, bahwasanya banyak impian calon siswa dari Papua kandas untuk menjadi anggota Polri karena telah memperbesar alat kelaminnya, khususnya menggunakan cara tradisional menggunakan daun khusus yang terkenal dari kawasan Biak itu.

Baca Juga:  Jadi Tersangka, Inikah Sanksi Yang Menanti Lukas Enembe ?

Dimana ketika itu, Bekto Soeprapto mengatakan, kasus kandasnya calon anggota Polri hanya gara – gara ‘bungkus’ ini banyak terjadi di Papua, karena bentuk afirmasi Polri terhadap calon siswa asli Papua, standar kesehatan sudah diturunkan sedikit, tapi untuk yang sudah ‘bungkus’ tidak ada toleransi, termasuk didalamnya calon siswa yang menderita HIV/AIDS, penyakit gula, penyakit kelamin, dan beberapa penyakit kronis lainnya, makanya ketika itu Bekto meminta kepada Kepala Daerah saat hendak memberikan rekomendasi harus memastikan bahwa calon siswa yang bersangkutan tidak ‘bungkus’.

Dari penelusuran Lingkar Papua, aturan bagi calon siswa tidak boleh ‘bungkus’ dan pasti gugur tersebut nampaknya baru berlaku ketat untuk penerimaan diatas tahun 2010-an, karena ada beberapa kasus penerimaan calon siswa Polri di bawah tahun itu, sekalipun sudah ‘bungkus’ masih bisa diterima dan lolos.

“waktu angkatan saya tahun 2005 itu banyak juga teman – teman yang ‘bungkus’ tapi lolos kok, hanya memang kalau saat mau ikut tes perwira di angkatan saya itu tidak akan bisa, memang bagi teman – teman yang sudah ‘bungkus’ agak repot untuk beradaptasi saat mengikuti latihan, karena kita pake sempak dan seragam yang ketat, juga ada beberapa kasus yang karena tidak sempurna proses ‘bungkus’nya menimbulkan infeksi, apalagi kalau pembesaran menggunakan silicon, itu lebih berbahaya, karena latihan fisik berat, jadi resikonya juga besar”, kata seorang anggota Polri yang enggan dikorankan namanya, Jumat (28/7/2017).

Menurutnya mungkin tahun – tahun keatas, karena ada beberapa kasus saat dalam masa pendidikan, calon siswa yang telah ‘bungkus’ mengalami beberapa masalah, sehingga hal tersebut diperketat dan di larang sama sekali.

Baca Juga:  Sudah ‘Banjiri’ Mimika Dengan Limbah Tailing, Freeport Harus Bayar Hutang Pajak 3,5 Triliun dan Perhatikan Nasib 7 Suku

Daun bungkus yang memiliki nama latin Pilemon Cor, Sp adalah sebuah daun yang banyak tumbuh liar di hutan Papua, yang akrab juga disebut daun gatal karena menimbulkan efek gatal saat digunakan, sedangkan untuk ‘praktek bungkus’ banyak sekali di kuasai oleh masyarakat dari kawasan Biak, sehingga seringkali tamu – tamu dari luar Papua yang penasaran nekat sampai ke Pulau Biak untuk dipermak ‘senjatanya’.

Hingga kini belum ada penelitian ilmiah yang menyebutkan khasiat daun bungkus dimaksud terhadap proses pembesaran alat kelamin pria, namun dari beberapa kasus, banyak yang mengaku berhasil, namun lebih banyak lagi yang mengaku mengalami infeksi karena salah dalam proses pembungkusannya.

Dari pengakuan beberapa lelaki yang mengaku berhasil dengan ‘praktek bungkus’nya, resiko infeksi atau luka dan bernanah terjadi karena selama dalam proses penanganan, alat kelamin pasien terkena air, atau karena terlalu lama ‘di bungkus’ hingga akhirnya melepuh, atau karena salah bungkus.

“begitu terasa panas, kalau kita sudah tidak tahan, harus langsung lepas perban dan daun bungkusnya, kalau terlalu lama bisa – bisa lecet, untuk hasil maksimal, tidak cukup sekali, harus beberapa kali, memang setelah di bungkus langsung kelihatan hasilnya, karena terjadi pembengkakan pada “senjata’ kita”, celetuk seorang pria sambil senyum – senyum simpul kepada Lingkar Papua, Jumat (28/7/2017) yang mengaku sukses dengan praktek bungkusnya, karena ditangani pakar bungkus dari Biak langsung.

Namun menurutnya banyak juga beberapa rekannya yang mencoba ‘permak senjatanya’ sendiri mengalami infeksi, dan butuh waktu lama untuk proses penyembuhannya. (amr/r1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*