BBM Satu Harga di Ilaga Tidak Setiap Hari Ada, Dijatah 3 Liter Untuk 20 Ribu

Kondisi APMS di Ilaga, ibukota Kabupaten Puncak, Papua. (Foto : Amri/ Lingkar Papua)

 

LINGKAR PAPUA.COM, ILAGA – Kebijakan BBM Satu Harga yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi untuk 145 wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) di seluruh Indonesia sedikit banyak mulai dirasakan oleh warga masyarakat yang tinggal di Ilaga, ibukota Kabupaten Puncak, Provinsi Papua.

Sayangnya, pasokan BBM subsidi baik solar ataupun premium tersebut masih menjadi barang langka di Distrik Ilaga, karena biasanya setelah datang, hanya hitungan jam saja APMS melayani masyarakat, setelah itu tutup beberapa hari, karena pasokan ke Ilaga paling cepat seminggu sekali, bila ada kendala cuaca atau hal lainnya, dua minggu kemudian baru ada pasokan lagi.

“disini kita beli di APMS yang subsidi itu Rp. 20.000 untuk 3 liter, sengaja di bulatkan karena repot nyari uang kecil untuk kembalian, tapi itupun biasanya kami di jatah hanya boleh beli 3 liter saja, kalau setiap hari 3 liter tidak masalah, ini seminggu 3 liter, kan tidak mungkin, sehari saja kami butuh paling sedikit 5 liter”, kata beberapa tukang ojek di Ilaga kepada Lingkar Papua belum lama ini.

Baca Juga:  Ini Pernyataan Azis Samual Terkait Dukungan Golkar ke Waterpauw di Pilgub 2018

Sehingga terpaksa warga kembali mengkonsumsi BBM dengan harga mahal yang banyak di jual eceran di beberapa kios – kios yang ada di Ilaga.

“kalau di pengecer harganya Rp 50.000 / liter, mau bagaimana lagi, kadang kita juga malas antrinya di APMS, waktu kita terbuang percuma, mending beli yang eceran saja mas, biasanya sih tidak pernah kosong”, celetuk seorang pegawai honorer di lingkungan Pemda.

Anehnya, dari pantauan Lingkar Papua, beberapa pengecer justru menjual premium yang sudah jelas dan pasti BBM subsidi, tapi dengan harga mahal, yakni Rp. 50.000 / liter, padahal sesuai kebijakan Pertamina, bahwasanya premium sebagai BBM bersubsidi sudah tidak boleh di jual bebas lagi di tingkat pengecer, lain halnya bila Pertalite yang memang sudah tidak di subsidi sehingga boleh di jual bebas oleh pengecer.

Baca Juga:  Kadis PKP2 Akui Sebagian Besar Paket Pekerjaan Dikerjakan Pengusaha Non Papua

Bisa jadi, premium yang di pasok dari Timika tersebut di beli oleh pedagang pada beberapa SPBU yang ada di Kota Timika dengan harga subsidi dan di angkut dengan pesawat, dan di jual dengan harga mahal di Ilaga, Kabupaten Puncak.

“pesawat BBM ini datangnya tidak tentu pak, kadang seminggu sekali, pernah juga dua minggu baru muncul, katanya sih alasan cuaca, atau pilot sakit, sebenarnya tidak terlalu membantu sih, karena kadang kala banyak warga tidak kebagian, kalau dulu pembelian gunakan kupon, tapi sekarang sudah tidak, makanya warga lebih cenderung tetap membeli di pengecer, kalau APMS bukanya setiap hari boleh, itu baru terasa dampaknya buat kami di Ilaga sini”, kata seorang warga masyarakat lainnya di Ilaga.

Saat Lingkar Papua menyambangi satu – satunya APMS yang ada di Ilaga, sedang dalam kondisi tertutup karena belum ada pasokan, namun anehnya premium yang nota bene adalah BBM bersubsidi marak beredar di tingkat pengecer, justru kita tidak akan menemukan adanya Pertalite yang di jual ecer di kios – kios.

Baca Juga:  Ada ‘Saksi Ganda’ di PSU Pilkada Kabupaten Jayapura 2017

“kalau bisa ada pengawasan juga tiap BBM subsidi itu masuk, apa benar di jual ke warga semua, ataukah di jual ke pengecer, karena faktanya sekali datang hitungan jam biasa sudah habis, atau mungkin jatah untuk Ilaga memang sedikit kah, jadi kalau bisa ditambah lah”, kata Ikram seorang tukang ojek yang biasa mangkal di area seputar Kantor Bupati Puncak dan mengaku tidak pernah membeli di APMS, tapi membeli di pengecer saja.

Untuk distribusi BBM subsidi ke Ilaga, Pertamina menggunakan pesawat Air Tractor AT- 802 yang di operasikan oleh Pelita Air dengan kapasitas angkut sekitar 4.000 liter atau 4 ton, anak perusahaan Pertamina, saat pesawat tiba, BBM langsung di pompa ke drum – drum yang terjejer rapi di atas truk untuk selanjutnya di bawa ke APMS. (amr/r1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*