Presiden Pake’ Songkok Recca, Wapres Blangkonan

Presiden RI Joko Widodo mengenakan sonkok recca, peci khas Bugis Bone, sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla terlihat menggunakan blangkon, dalam acara Sidang Tahunan MPR RI hari ini, Rabu, (16/8/2017). (Foto : Amri, repro TV Parlemen DPR RI)

 

LINGKAR PAPUA.COM, JAYAPURA – Ada pemandangan berbeda yang disajikan orang nomor satu dan nomor dua di Republik ini dalam acara Sidang Umum Tahunan di MPR RI yang berlangsung hari ini, Rabu, (16/8/2017) di Gedung DPR / MPR RI Jakarta yang disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun TV Nasional itu

Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya dalam kegiatan kenegaraan dimana Kepala Negara dan Wakil Kepala Negara biasa menggunakan pakaian formil, tetapi tahun ini Presiden RI Joko Widodo terlihat membacakan Pidato Kenegaraannya menggunakan songkok recca to bone (peci khas Bone), sedangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla terlihat mengenakan blangkon, topi bulat khas Jawa.

Busana yang dikenakan oleh dua petinggi negara RI tersebut jelas kontras dengan busana yang digunakan oleh anggota DPR/MPR RI maupun tamu undangan lainnya yang menggunakan busana nasional jas dan peci hitam.

Baca Juga:  4 Bulan Insentif Tra’ Dibayar, Sudah 4 Hari Dokter se- Kabupaten Sarmi Mogok Kerja

Demikian juga istri Presiden dan Wakil Presiden, dimana ibu Iriana Widodo menggunakan busana Bali sedangkan ibu Mufida Kalla menggunakan busana khas Jawa.

Songkok recca atau songkok pamiring ulaweng adalah songkok wajib yang biasa digunakan oleh kaum bangsawan dan keturunan Raja di masa dulu.

Sebutan songkok pamiring merujuk pada ujung atau sisi bagian bawah songkok yang berhias warna keemasan. Jika berhias benang emas, sebutannya songkok pamiring, tetapi bila menggunakan emas sungguhan, disebut songkok pamiring ulaweng (songkok berpinggir emas).

Sedangkan sebutan songkok recca’ lebih menunjuk pada proses pengolahan bahan baku yang digunakan untuk membuat songkok tersebut.

Bahan baku yang digunakan untuk songkok ini terbuat dari pelepah daun lontar yang ditumbuk, yang dalam istilah Bugis direcca atau ure’cha.

Pelepah daun lontar dipukul (direcca-recca) hingga tersisa hanya seratnya. Serat yang awalnya berwarna putih ini dalam dua atau tiga jam warnanya akan berubah menjadi kecoklatan.

Serat ini kemudian direndam dilumpur untuk mendapatkan serat warna hitam. Serat yang dihasilkan ada yang halus dan kasar. Serat-serat inilah yang digunakan untuk membuat songkok recca’.

Jika menggunakan serat yang halus, songkok recca’ yang dihasilkan adalah yang halus, demikian sebaliknya.

Baca Juga:  Boy Dawir : Pemkot Jangan Lempar Bola Untuk Biayai Jembatan Holtekamp

Serat-serat tersebut dianyam menggunakan acuan/dudukan yang disebut assareng. Assareng ini terbuat dari kayu nangka yang dibentuk menyerupai songkok. Ukurannya tergantung songkok yang akan dibuat. Di Kabupaten Bone, songkok recca’ banyak diproduksi di Desa Paccing Kecamatan Awangpone.

Sebutan Songkok to Bone merupakan nama yang banyak diucapkan orang-orang luar Bone. Mungkin terkait dengan sejarah pembuat atau pun pemakai songkok itu, yaitu orang-orang Bone.

Menurut sejarah, songkok ini digunakan orang-orang Bone ketika terjadi peperangan dengan Tator tahun 1683. Penggunaan songkok ini sebagai tanda yang membedakan mereka dengan pasukan Tator. Jadi boleh dibilang songkok Bone merupakan salah satu simbol pasukan perang Bone.

Pemakaian songkok Bone juga memiliki aturan. Hal ini berkaitan dengan strata sosial di masa-masa kerajaan Bone.

Hanya raja, pembesar dan keluarga bangsawan yang boleh menggunakan songkok berbalut emas. Penggunaan emas pun memiliki aturan yaitu tidak boleh melebihi kadar emas songkok yang digunakan oleh raja.

Baca Juga:  Liestadi Salahkan Kartu Merah, Robert Rene Sumringah

Seiring perkembangan jaman, aturan-aturan di atas tidak berlaku lagi. Hampir semua lapisan masyarakat bisa menggunakannya, bahkan dijadikan souvenir untuk tamu dari luar. Songkok pamiring yang berhias emas bukan lagi hanya milik para raja atau kaum bangsawan. Namun bagi mereka yang mengerti filosofinya, mereka tidak akan sembarangan memakainya.

Songkok ini bisa digunakan dalam acara-acara formal maupun non formal. Dalam setiap acara-acara adat maupun seremoni yang diadakan di Sulawesi Selatan, songkok yang dipadukan dengan jas tutup ini dapat dijumpai karena menjadi kebangaan para pejabat maupun pemangku adat.

Songkok ini pun bisa digunakan sehari-hari maupun penutup kepala ketika sholat. Tak heran jika songkok ini menjadi salah satu souvenir favorit ketika berkunjung ke Makassar. Tak jarang songkok ini dijumpai sedang digunakan di daerah lain, bukan hanya di Sulawesi Selatan.

Hingga berita ini dimuat belum ada keterangan resmi dari Istana Kepresidenan ikhwal sonkok recca yang dikenakan oleh Presiden Jokowi, apakah benang emasnya terbuat dari benang emas murni ataukah hanya imitasi, juga apakah dibeli di toko – toko souvenir yang banyak terdapat di Jalan Somba Opu Kota Makassar, ataukah dipesan khusus untuk acara kenegaraan Sidang Tahunan MPR RI hari ini. (amr/r1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*