Urgensi Revolusi Mental Generasi Muda Zaman Now Demi Menjaga Bangsa Indonesia Yang Pluralisme

 

Oleh : Korneles Materay

Fakta tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang plural, rumah bagi semua kalangan, tempat berpijak 250 juta lebih penduduk, 1.300 suku bangsa, 6 agama dan berpuluh aliran kepercayaan, dan sekitar 2.500 jenis bahasa daerah berdasarkan data BPS tahun 2010 adalah keniscayaan yang tidak bisa dielakkan. Inilah kesepakatan founding fathers and mothers bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945.

Namun, mengapa belakangan ini kita seperti tersayat pisau tajam isu-isu yang meragukan komitmen awali ini? Ada kabar yang menafikkan konsensus kebangsaan ini. Sama sekali bukan untuk membuka luka lama atau mengungkit persoalan di dalam masyarakat.

Tak perlu mundur jauh untuk melihat ada kerapuhan dalam praktik menjaga asa perbedaan dalam satu bingkai kenusantaraan ini. Masih sangat segar dalam ingatan kita isu sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) di pilkada DKI kemarin atau mungkin di daerah lain. Ada Saracen yang melancarkan serangan ujaran kebencian dan hoax yang masif. Eggi Sudjana yang keseleo lidahnya mengatakan hanya agamanya yang sesuai Pancasila atau Gubernur Anies Baswedan yang salah konteks mengeluarkan kata “pribumi.”

Di era serba digital di mana internet dan media sosial semakin mewabah dan informasi online dapat diproduksi dengan sangat mudah dan cepat ke pemirsanya maka kekacauan, kegaduhan semakin membesar dan membludak di samping kecemasan dan keprihatinan berbagai elemen masyarakat. Internet dan media sosial bak primadona dalam mencapai apapun termasuk mengoyakan pluralisme dan melakukan kejahatan atau pelanggaran lainnya.

Jadi, tidak mengherankan bila isu-isu seperti yang diutarakan di atas akan diperalat untuk kepentingan dan dengan modus apapun yang berujung pada perpecahan dalam masyarakat. Pertanyaan penting yang kiranya perlu dijawab ialah seberapa besarkah peran generasi muda terutama dalam konteks kekinian dan bagaimana cara menjaga tali kesatuan dalam keberagaman Indonesia?

Muda Revolusi Mental Bangsa

Generasi muda dalam tulisan ini didefinisikan sebagai generasi yang bergantung pada internet dan peran media sosial sebagaimana dikemukakan dalam teori generasi Karl Manheim. Karl Manheim dalam esai berjudul The Problem of Generation (1923) membagi manusia ke dalam beberapa generasi. Inti teori generasi tersebut mengatakan manusia di dunia ini mempunyai karakter yang berbeda dan saling mempengaruhi satu dengan lainnya karena melewati masa sosio-sejarah. Berkat teori itu, para sosiolog membagi manusia menjadi beberapa generasi.

Pertama, The Greatest Generation (lahir sebelum tahun 1928). Alasan mereka adalah generasi terbaik karena berhasil melewati dua masa berat yaitu Great Deprresion dan Perang Dunia II. Kedua, Silent Generation (1928-1945) yaitu generasi diam terjadi pada zaman dimana situasi menghendaki banyak pembatasan seperti angka kelahiran. Ketiga, Baby Boomers (1946-1964) zaman di mana terjadi lonjakan angka kelahiran. Keempat, Gen-X (1965-1980), kelima, Gen-Y atau akrab disapa Millenial (1981-2000), keenam, Gen-Z (2001-2010) dan ketujuh Gen-Alpha (2010-sekarang).

Dari konfigurasi pembagian generasi di atas, generasi muda pada tulisan ini merujuk pada Gen-Y, Gen-Z, dan Gen-Alpha. Ketiga generasi ini ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kebutuhan utama adalah internet. Generasi ini menyukai komputer, smartphone, videogames, media sosial dan aplikasi-aplikasi berbasis internet lainnya.

Tom Brokow yang dikutip Tirto (2016) menyebutkan ada 5 (lima) karakteristik generasi millenial yaitu, (1) melek teknologi; (2) bergantung pada mesin pencari, (3) learning by doing, (4) tertarik pada Multimedia, dan (5) membuat konten internet.

Sekali lagi, generasi muda dalam konteks ini adalah generasi yang bergantung pada peran internet dan media sosial. Lihat saja survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Oktober 2016 lalu, pengguna internet di Indonesia dari kalangan anak muda sebesar 80 persen atau sekitar 25 juta orang. Dari survei diketahui perilaku jenis konten yang diaksesnya 97 persen adalah media sosial.

Dalam perkembangan di masyarakat istilah kekinian yang dipakai misalnya generasi zaman now. Generasi zaman now sama menurut penulis mencakup ketiga generasi di atas. Digitalisasi menciptakan masyarakat zaman now yang punya karakteristik atau kepribadian yang khas, sehingga persoalan yang dihadapi berbeda dari zaman atau generasi sebelumnya yakni yang bersentuhan atau berlangsung di dunia digital. Tak peduli itu sesuatu yang konvensional atau modern sepanjang dapat dikonversikan ke digital sah dan diterima.

Sebagaimana telah disinggung di atas maraknya berbagai kasus sentimen SARA, ujaran kebencian, hoax, ditambahkan kejahatan konvensional maupun modern antara lain, pemalsuan, penipuan, pornografi, terorisme, human trafficking, perselingkuhan, atau jenis kejahatan cyber crime lain menjadi perbincangan yang tidak selesai saat ini.

Yang menggundahkan ialah peran generasi muda atau generasi zaman now yang sangat besar yang turut membuat konten (memproduksi) dan menyebarluaskannya. Untuk membuktikan hal semacam ini, mengikuti jejak generasi ini cukup mencarinya di mbak Google maka beragam informasi terkait dapat dengan mudah diperoleh. Tidak seperti pelaku yang lempar batu sembunyi tangan, Google akan menampilkan yang sebenarnya paling tidak riwayat memproduksi atau menyebarkan isu tersebut.

Kekhawatiran terhadap situasi di atas belakangan perlahan menuju ke arah yang mencengangkan yaitu mulai munculnya politik identitas. Singkatnya, politik identitas adalah sistem politik yang menandai bangkitnya kelompok politik identitas yang menentukan pandangan politik berdasarkan pada identitas yang sama dengannya baik berdasarkan suku, ras, agama, golongan dan lain sebagainya.

Sebenarnya hal ini lumrah terjadi dalam sistem politik di negara manapun. Akan tetapi, sebagian besar yang terjadi justru terjadinya pelanggaran hukum karena adanya diskriminasi rasial dan sebagainya. Dalam konteks ke-Indonesia-an perbuatan ini bertentangan dengan Pancasila sebagai ideologi negara, dan UUD 1945 sebagai hukum dasar negara yang tertinggi, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara yang final serta Bhineka Tunggal Ikka sebagai semboyan pengerat yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Urgensi kehadiran generasi zaman now tidak lain adalah untuk merajut asa keberagaman itu. Presiden pertama kita, Ir. Soekarno atau yang akrab di sapa Bung Karno pernah berkata, “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Ungkapan ini tentu bukan sebuah isapan jempol atau pemanis bibir semata. Mengingat urgensi peran kaum muda yang utamanya dalam pergerakan menuju negara Indonesia yang merdeka sangat penting seperti Budi Utomo (1908), Indische Partij (1912) dan Sumpah Pemuda (1928). Pemuda menempati pucuk pengambilan keputusan dan gerakan massa yang menentukan arah bangsa kala itu.

Peran yang sama harapannya dapat dimainkan generasi sekarang. Paling tidak melalui bermedia sosial yang bermartabat. Karena kita bertanggungjawab secara moral dan sosial untuk menjaga keutuhan dan persatuan, keharmonisan dan keberagaman bangsa ini. Kalau bukan kita siapa lagi? Sejauh konteks penulisan ini penulis melihat bahwa revolusi mental masih sangat relevan untuk diterapkan bahkan harus digalakan atau dibumikan agar dapat dibatinkan dan dilaksanakan siapapun.

Konsep revolusi mental pertama kali muncul dalam visi dan misi Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika bertarung di Pilpres 2014 lalu. Dalam Nawacita sebagai grand design arah kebijakan pemerintahan ini begitu terang berderang memaparkan merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa sebagai masalah utama sampai saat ini. Untuk itu cara untuk membawa kembali bangsa ini ke ruh awal negara bangsa (nation state) Indonesia ialah melalui pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti.

Seharusnya revolusi mental ini tidak hanya dialami dalam dunia pendidikan formal misalnya. Tetapi keseharian masyarakat terutama generasi muda atau generasi zaman now sendiri berevolusi. Berarti dunia digital (internet dan/atau media sosial) juga berevolusi dengan mengedepankan nilai-nilai yang baik. Tidak menyebarkan atau melakukan serangkaian kejahatan dan tipu daya. Yang diutamakan adalah kecerdasan dalam menggunakan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan keberagaman dan perdamaian.

Keberagaman dan perdamaian tercermin dari perlakuan kita menghargai dan memberi ruang bagi orang lain yang secara identitas apapun mementaskan setiap ekspresinya yang bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan. Bila dipahami dengan baik maka posting, like, repost, retweet atau komentar yang dapat mengkampanyekan kejahatan maupun memperkeruh keadaan bisa diminimalisir. Sampailah pada titik dimana penulis meyakini kasus Pilkada DKI, Saracen, Eggi Sudjana atau Anies tidak perlulah dijadikan polemik di dalam masyarakat karena mereka pun tidak akan melakukan itu hanya bila ada revolusi mental. ***

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*