Beredar Video Penyiksaan Warga Papua Diduga oleh TPN – OPM, Ketua DPRP Nilai Itu Kriminal Bukan Perjuangan

Yunus Wonda, Ketua DPRP Provinsi Papua (Foto : Titie / Lingkar Papua)

LINGKAR PAPUA.COM, JAYAPURA – Beredarnya video berdurasi 1 menit 54 detik yang menyajikan video beberapa orang Papua yang memegang senjata api yang di duga adalah Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) tengah menyiksa warga Papua yang di duga kejadiannya di wilayah Kabupaten Mimika, disayangkan oleh Ketua DPRP Provinsi Papua, Yunus Wonda.

Video berdurasi sekitar 1 menit 54 detik dengan judul ‘OPM Menyiksa Warga Sipil’ yang di unggah oleh Glory Situmorang di Youtube sehari lalu itu menyajikan video sekelompok orang yang di duga adalah TPN – OPM tengah menyiksa seseorang dengan pukulan dan tendangan.

Namun berdasarkan analisa Lingkar Papua, originalitas video tersebut diragukan, mengingat sudah penuh dengan editan, dan efek dramatisasi melalui instrument music yang syahdu dan beberapa kalimat yang intinya ingin menyudutkan kelompok TPN – OPM sebagai tidak beradab dan tega serta tidak punya hati dan perasaan sehingga menyiksa saudaranya sendiri sesama orang Papua.

Baca Juga:  Tahun 2017, Pemprov Papua Gelontorkan 250 Miliar Untuk Benahi Infrastruktur Jalan dan Jembatan di Tolikara

“Kalau ada orang yang katakan perbuatan mereka seperti yang di video itu adalah perjuangan, maka saya katakan bahwa itu bukan perjuangan, tapi itu kriminal, kenapa rakyat menjadi korban, kenapa rakyat harus disiksa seperti begitu”, kata Yunus Wonda kepada wartawan di sela – sela acara pembukaan Lomba Futsal antar Jemaat GIDI di halaman Kantor Otonom, Kotaraja, Jumat (10/11/2017)

Menurutnya bila benar itu di lakukan oleh kelompok TPN – OPM yang tengah berulang di Kabupaten Mimika, yang sampai tega menyiksa warga sipil yang nota bene adalah orang asli Papua sendiri, menurutnya tindakan tersebut adalah perilaku Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), dan kriminal, bukan kelompok yang tengah berjuang mendapatkan hak politik sebagai bangsa yang merdeka.

Ia meminta, kepada kelompok tersebut, untuk berhenti melakukan aksi dan mengorbankan rakyat.

Baca Juga:  Dilaporkan Tim Hukum LUKMEN ke Bawaslu, Ini Tanggapan KPU Papua

“Perbuatan mereka sangat tidak bermoral, harus berhenti. Ingat jangan sampai rakyat menjadi korban lagi,” tegasnya.

Seharusnya, lanjut Yunus Wonda, Kelompok KKB memberi ruang bebas kepada rakyat Papua dan melindungi mereka.

“Ya, kalau mereka mengatasnamakan rakyat, harusnya mereka melindungi rakyat, bukan menyiksa rakyat”, kata Yunus Wonda lagi.

Menurutnya bila kelompok yang mengaku sebagai TPN – OPM tersebut memiliki persoalan dengan aparat TNI dan Polri, seharusnya kelompok tersebut, aparat TNI, dan Polri mencari tempat yang layak untuk melakukan gencatan senjata, jangan ditengah-tengah pemukiman masyarakat.

“Silahkan cari tempat yang bebas. Silahkan baku coba disitu. Tapi jangan di daerah-daerah yang jadi tempat bermukim rakyat,” lugasnya.

Politisi Partai Demokrat itu meminta aparat penegak hukum, melakukan cara-cara persuasif dalam melakukan pengejaran terhadap kelompok yang tengah berulah di Mimika saat ini, mengingat kelompok ini berbaur dan mengambil tameng di pemukiman masyarakat.

Baca Juga:  Diduga Lokasi Jatuhnya Pesawat Pilatus PK – RCX Milik AMA Sudah Ditemukan

“Kelompok ini meminta perlindungan atau lari kepada rakyat, sehingga membaur dengan rakyat, sehingga menjadi kesulitan bagi aparat kita untuk melakukan hal-hal terutama hal persuasif agar tidak terjadi gejolak yang tidak diinginkan semua orang,” tukasnya.

Yunus mengingatkan agar tak terjadi pelanggaran HAM pada saat dilakukan operasi pengejaran terhadap kelompok ini. Sebab, disana terdapat masyarakat sipil yang tidak tahu – menahu persoalan yang dilakukan KSB.

“Kami minta kepada seluruh TNI dan Polri tetap mengutamakan melindungi rakyat. Rakyat tidak boleh sampai menjadi korban. Hindari penyisiran, apalagi di kampung-kampung itu tidak boleh,” ujarnya.

DPRP menurut Yunus akan berkoordinasi dengan dengan pihak-pihak terkait, agar dilakukan pendekatan melalui gereja dan tokoh-tokoh yang ada di sana.

“Tidak bisa kita masuk dengan gaya kita, tentunya harus ada pihak-pihak yang bisa membantu kita, agar negoisiasi bisa dilakukan”, kata Yunus Wonda. (tie/r1)

Berikan Komentar Anda

1 Comment

  1. saya mengatakan pa junus wonda juga akal sehat suda di perbalikan oleh NKRI sbab bapa muda percaya media sosial yang di keluarkan indonesia.
    yang sebenarnya terjadi di lapangan lain dri pada berita di mensos.
    sehingga setidaknya bapa analis bahwa papua nyandra papua tdk masuk akal berarti berita tersebut OHAK

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*