Ini Penyebabnya, Kontraktor GEL Asli Papua Tunggui Pagar Kediaman Sekda Papua Semalaman

Puluhan kontraktor GEL asli Papua yang mendatangi kediaman Sekda Papua, Herry T.E.A, Dosinaen, Kamis (1/12/2017) kemarin, hari ini, Senin (4/12/2017) diagendakan pertemuan kembali antara kontraktor, Sekda Papua, dan Kadinas PU Papua terkait pembagian paket kegiatan bagi kontraktor GEL. (Foto : Titie/ Lingkar Papua)

 

LINGKARPAPUA.COM, JAYAPURA— Sejak setengah tahun yang lalu menanti janji akan mendapatkan paket – paket pekerjaan kecil maupun pekerjaan sub kontraktor dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi Papua, namun hingga di penghujung tahun 2017 paket yang dijanjikan tak kunjung datang, akhirnya puluhan kontraktor Golongan Ekonomi Lemah (GEL) mendatangi kediaman Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Papua, Herry T.E.A Dosinaen di Jayapura, Kamis (30/11/2017) kemarin.

Mereka menunggu kehadiran Sekda hingga malam hari di pintu gerbang rumah, lantaran ingin meminta kepastian Sekda akan realisasi janji Kepala Dinas PU Papua, Djuli Mambaya soal pekerjaan sub kontraktor.

“ini sudah masuk akhir tahun, maka kami harus bertemu Sekda dan meminta kebijakan dan jawaban,” kata Koordinator pengusaha GEL, Stenly Kaisiri kepada wartawan.

Menurutnya Kepala Dinas Pekerjaan Umum sudah menjanjikan akan memberikan pekerjaan dengan nilai Rp 100 juta per pengusaha sejak Mei lalu, namun hingga tutup November tidak ada realisasinya. Ia menilai Kadis PU sudah melakukan pembohongan, meski telah dilakukan dua kali pertemuan bersama Sekda dengan menghadirkan Kadinas PU.

“Kami tak mau lagi ketemu Kadinas PU atau Kabid lagi, ini harus diambil alih Sekda,” kata Stenly yang di amini oleh beberapa kontraktor lainnya

Koodinator aksi kontraktor GEL Papua kemarin, Frangki kepada Lingkar Papua per saluran telepon, Minggu (3/12/20017) menjelaskan aksi mereka menduduki kediaman Sekda kemarin terpaksa dilakukan karena beberapa hari sebelumnya Sekda sendiri yang berjanji akan menuntaskan apa yang jadi masalah mereka.

“sebelumnya kita sudah pertemuan di ruangan Sekda Provinsi yang dihadiri Kadis PU, Kepala Bina Marga, Cipta Karya serta pewakilan kontraktor GEL, ketika itu Sekda sudah mengarahkan kepada Kadinas PU untuk mencari solusi atas nasib kami, 388 kontraktor GEL ini, per 27 November lalu juga ada pertemuan kembali dengan Kadinas PU, memang waktu itu Kadinas PU meminta pengertian kami, bahwa tidak semua bisa di akomodir pada tahun ini, jadi kami di minta bersabar, dan belum beruntung, dan akan di upayakan tahun mendatang”, kata Franki.

Baca Juga:  Ini Trik Pertamina “Paksa” Rakyat Papua Pake’ BBM Non Subsidi

Namun para kontraktor GEL masih tetap berpegang pada komitmen dan janji Sekda bersama Kadinas PU sebelumnya yang berjanji akan mencarikan solusi untuk mereka apakah sebagai sub kontraktor, ataukah ada kegiatan kecil lainnya, intinya pemerintah berjanji akan mencarikan solusi agar pada tahun ini 388 kontraktor GEL tersebut bisa mendapatkan kegiatan walau kecil.

“Dengan persoalan ini, kami tidak boleh menjadi korban, sehingga kami kembali menyampaikan ini ke Pak Sekda pada Selasa (28/11/2017) kemarin, bahwa persoalan tersebut belum juga ada solusi, Pak Sekda kaget, kok urusannya di PU, Sehingga Selasa (28/11/2017) lalu, para kontraktor bersama Sekda Provinsi Papua mendatangi kantor PU untuk bertemu dengan Kadinas PU dan jajarannya guna mencari solusi”, jelas Frengky lagi.

Namun saat rombongan kontraktor GEL dan Sekda tiba di kantor Dinas PU, rupanya Sekda dan beberapa pejabat terkait tidak berada di tempat, padahal sudah di koordinasikan sebelumnya untuk melakukan pertemuan bersama.

“jadi siang itu (Selasa, 28/11/2017) Sekda  datang ke kantor PU, namun waktu Sekda datang pak Kadis ada keluar, nah saat itu karena Pak Kadis tidak ada, Sekda sempat marah-marah, ditambah lagi pak Momot (salah satu Kepala Seksi di Bina Marga-Red) juga sedang ada di luar kota, sehingga Sekda sampaikan kepada pengusaha, bahwa harus menunggu Pak Momot supaya semua PPTK dan Eselon IV harus ada sehingga saat pertemuan tidak ada yang menyalahkan satu dengan lainnya dan langsung di konfrontir semuanya agar bisa mendapat solusi”, kata Frengky menolak menjelaskan lebih detil terkait insiden rebut – rebut Sekda di kantor Dinas PU, Selasa (28/11/2017) lalu.

Dari penelusuran Lingkar Papua, rupanya insiden ‘lemparan asbak” Sekda Provinsi Papua Herry. T.E.A, Dosinaen terhadap salah satu konsultan di Dinas PU yang berujung pada laporan polisi di Polda Papua rupanya ada kaitannya dengan peristiwa batalnya pertemuan di Dinas PU yang diceritakan oleh Frengky tersebut.

“jadi Sekda keluar dan sampaikan kepada kami semua, untuk menunggu pak Momot balik ke Jayapura, pada Kamis pagi, makanya kemarin, Kamis (30/11/2017) setelah kami pastikan Kadinas PU dan Pak Momot ada di kantor, kami berinisiatif komunikasikan dengan Sekda, bahkan kami sudah koordinasi dengan Pak Momot untuk tidak keluar kantor agar masalah ini clear”, kata Frengky.

Baca Juga:  Ini Penjelasan Keluarga Pengancam Bupati Keerom Dengan Panah

Namun hingga tengah hari, para kontraktor menanti Sekda Papua belum datang juga ke kantor, sehingga mereka memutuskan untuk mendatangi ruang kerja Sekda berjalan kaki bersama – sama dengan Pak Momot.

“kami tunggu sampai sore hari sekitar pukul 16.00 WIT barulah Pak Sekda sms saya dan menjadwal ulang pertemuan ke hari Senin (4/12/2017), tidak bisa hari Kamis kemarin, karena lagi ada kesibukan yang tidak bisa di tinggal, dan hal itu saya sampaikan ke rekan – rekan lainnya”, katanya.

Namun setelah berkoordinasi dengan rekan – rekan kontraktor lainnya, karena merasa sudah seharian menanti dan khawatir pada Senin (4/12/2017) hari ini pejabat – pejabat yang di maksud keluar daerah, maka mereka bersepakat mendatangi kediaman Sekda pada hari itu juga, hingga malam hari mereka menanti Sekda di depan pintu gerbang kediaman.

“Selama menunggu dari sore di kediaman Sekda, tidak ada satu orang pun yang menemui kami, hingga sekitar pukul 22.00 WIT datang seseorang yang mengaku Sekprinya Sekda menyampaikan bahwa Sekda sudah berangkat ke Jakarta, karena ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan, jadi Sekpri bilang Pak Sekda sudah ke Jakarta dari jam 17.00 WIT, juga sekalian ada mau berobat, hal itu disampaikan ke kami sudah mau jam 22.00 WIT, makanya kami agak emosi, kenapa tidak di informasikan dari sore”, kata Frengky lagi.

Namun via pesan singkatnya kepada para kontraktor GEL, Sekda Papua, Herry T.E.A. Dosinaen menjamin bahwa pertemuan pada Senin (4/12/2017) hari ini pasti di agendakan, sehingga para kontraktor GEL bubar dari pagar kediaman Sekda.

“jadi pertemuan besok, Senin (4/12/2017) kalau nanti pertemuan ini terjadi berarti sudah ini sudah pertemuan ke tiga, dan kita berharap ada solusi dari Pemerintah Provinsi untuk kami kontraktor GEL asli Papua, kami hanya memegang omongan seorang pejabat yang di keluarkan sejak bulan Mei lalu, dan kami tidak mau menunggu hingga 2018, karena kami tahu ada solusinya dan bisa, kalau pejabat tidak bisa di pegang kata – katanya, apa lagi yang harus kita percaya dan pegang”, kata Frengky kepada Lingkar Papua melalui saluran telepon, Minggu (3/12/2017) malam.

Baca Juga:  Soal Dukungan PDI P dan Gerindra di Pilgub Papua 2018 Masih Misteri ?

Menurutnya dari janji kepada 388 kontraktor GEL, baru sekitar 15% – 20% saja yang di realisasikan, baru sekitar 52 kontraktor yang dapat dari Cipta Karya, karena paket lainnya itu bukan dari Cipta Karya.

Kadinas PU Provinsi Papua, Djuli Mambaya, ST saat di konfirmasi Lingkar Papua mengatakan untuk pekerjaan bagi kontraktor GEL, SKPD-nya sudah sudah memberikan sub kontraktor kepada sekitar 200 pengusaha, mereka diakomodir dengan kebijakan dan keberpihakan.

Menurutnya pekerjaan yang diberikan hanya 52 paket di Cipta Karya dan 120 paket di Bina Marga.

“memang kita akui itu juga belum dapat mengakomodir 388 pengusaha tadi, kalau belum terjangkau ya wajar sebab anggaran hanya Rp 16 Miliar di Bina Marga dan Rp 5 Miliar di Cipta Karya, sehingga saya minta teman-teman GEL harap bersabar, kita akan perhatikan di 2018 besok,” kata Djuli Mambaya via ponselnya, Jumat (1/12/2017).

Menurut Djuli Mambaya sudah menjadi komitmennya untuk terbuka dan transparan dalam segala urusan pembagian pekerjaan di Dinas PU, dan dia juga berkomitmen untuk memberikan perhatian khusus kepada pengusaha asli Papua, namun ia berharap teman – teman kontraktor juga memahami bahwasanya paket yang tersedia terbatas, sedangkan yang harus di akomodir cukup banyak.

” waktu sudah mepet dan tidak bisa diberikan pekerjaan lagi, karena untuk urusan begitu ada mekanisme, ada aturan, ada perencanaan, jadi dengan data yang ada, kita sudah agendakan untuk masuk di tahun 2018 mendatang, jadi minta tolong harus di pahami, kalau kami menjanjikan akan mencarikan solusi, itu artinya kami sudah punya komitmen untuk mendukung, tapi dana ini kan milik negara, ada mekanisme dan tahapan, jadi kita tidak bisa menggunakan kebijakan semau kita, kalau Pak Sekda, atau saya sendiri sudah mengatakan akan memberikan solusi dan cari jalan keluar, itu artinya kami sudah punya komitmen, hanya butuh waktu untuk mekanisme agar tidak melanggar aturan”, jelas Djuli Mambaya panjang lebar.

Ketika di hubungi Lingkar Papua Minggu, (3/12/2017) semalam, terkait agenda pertemuan dengan kontraktor GEL dan Sekda Provinsi Papua hari ini, Senin (4/12/2017) Kadinas PU kembali menegaskan komitmennya untuk mengakomodir para kontraktor GEL dimaksud pada Tahun Anggaran 2018, karena menurutnya saat ini sudah di penghujung tahun dan tidak memungkinkan.

”Kami tetap prioritaskan mereka tahun depan”, jawabnya singkat, Minggu (3/12/2017). (tie/r1)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*