Kajian Teologis Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia (HAM) bukanlah rumusan ideal manusia tentang dirinya sendiri, melainkan pemahaman tentang apa yang dikehendaki Allah mengenai manusia, siapa manusia itu ?, Apa makna eksistensinya ? dan Apa tujuan hidupnya ?

OLeh : Yoel Bello, SH*

Pembicaraan masalah HAM sudah menjadi perbincangan secara umum, dan bahkan sering kali kita jumpai dalam sehari-hari mengenai pembahasan HAM, di sini saya ingin membahas mengenai masalah HAM dari sudut pandang teologis.

Awalnya HAM itu ada dan sampai sekarang ini kita harus menjunjung tinggi bahkan menempatkan pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya yang ada dalam kehidupan manusia.

Karena itu dunia lebih memberikan perhatian serius bila mengenai permasalahan HAM, Dan bahkan negara harus menjamin dan memberikan perlindungan hukum mengenai masalah HAM.

Mengapa HAM ini begitu serius mendapat perhatian dunia dan negara-negara, di sinilah saya memulai pemikiran dan mengangkat tulisan ini dan mengkaji HAM dalam perspektif teologis darimana asal muasal HAM itu muncul? dan diberikan kepada siapa HAM itu?, sehingga kita wajib menjunjung tinggi, menjaga HAM yang di berikan itu.

Bahwa HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada diri manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, dimana hak tersebut merupakan anugerah yang wajib di hargai dan dilindungi oleh setiap orang untuk melindungi harkat dan martabat setiap manusia.

Dalam Perjanjian Lama di tuliskan bahwa pada awalnya manusia itu ada di dunia ini, di ciptakan Allah, Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita. Maka Allah menciptakan Manusia menurut gambarNya.

Manusia ada di dunia ini dari hasil pekerjaan Allah sendiri, karya kepada dunia ini sehingga kedaulatan Allah bersifat universal, Allah berdaulat atas manusia yang di ciptakan, dengan asumsi bahwa HAM bersumber dari Allah.

Melanggar HAM berarti melanggar ketentuan Allah. Tidak ada satu lembagapun atau satu orang pun termasuk negara berwenang membatalkan atau mengurangi hak-hak tersebut, kecuali Allah itu sendiri.

John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan sebagai hak yang kodrati. sedangkan teolog sekaligus filsuf, Jurgen Moltman mengatakan, kedaulatan Allah didalam diri manusia mencakup: dimensi individual : martabatnya sebagai manusia; dimensi sosial: hidup kebersamaan dengan manusia lain; dimensi futurologisnya: kesempatan untuk memiliki masa depan.

Citra Allah pada setiap manusia “Imago Dei” manusia secara unik memantulkan Allah di dalam kehidupannya. Manusia menampilkan Allah yang bermartabat, adil, benar, Allah yang bebas bertindak, memiliki kasih.

HAM bersumber pada klaim Allah terhadap manusia, Hak Asasi Manusia bukanlah rumusan ideal manusia tentang dirinya sendiri, melainkan pemahaman tentang apa yang dikehendaki Allah mengenai manusia – siapa manusia itu? apa makna eksistensinya? dan apa tujuan hidupnya?.

Perbedaan-perbedaan antar manusia yang bersifat kondisional dan eksternal tidak sedikit pun mengurangi atau menambah kesamaannya. Setiap orang dan semua orang diciptakan sama berharganya di hadapan Allah apa pun latar belakang sosial, warna kulit, tingkat budaya dan status  sosial-ekonominya.

Ini mengimplikasikan kewajiban setiap orang dan semua orang untuk mewujudkan kemanusiaannya yang penuh sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai citra Allah.

Tanggung jawabnya yang penuh sebagai diri sendiri, tanggung jawabnya yang penuh untuk menghargai dan menjalin hubungan kebersamaan yang timbal balik dengan sesama citra Allah, tanggung jawabnya yang penuh untuk memelihara dan mengelola alam ciptaan bagi kesejahteraan bersama seluruh alam ciptaan, tanggung jawabnya yang penuh untuk membangun masa depan yang terbaik bagi generasi-generasi yang akan datang.

Dan oleh karena itu juga kewajiban untuk melawan segala bentuk dehumanisasi, yaitu segala bentuk perlakuan yang tidak memperlihatkan manusia – baik sebagai individu maupun sebagai kelompok – sebagai citra Allah, yang menghalangi manusia untuk menghadirkan diri secara penuh dan otentik sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai citra Allah.

Bahwa hukum itu diciptakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum, maka negara dan kekuasaan itu ada untuk manusia, berkewajiban untuk menghargai dan melindungi harkat dan martabat manusia sebagai citra Allah.

Di sini hendak ditolak pandangan tradisional bahwa raja atau penguasa itu secara inheren memiliki “hak Ilahi” (divine right), yang berhak menuntut ketaatan mutlak dari rakyatnya.

Sebaliknyalah! Legitimasi terhadap kekuasaan terletak pada apakah kekuasaan itu dipakai untuk melayani kepentingan rakyat dan melindungi hak-hak rakyat – sebab rakyat inilah, baik sebagai individu maupun secara kolektif, yang mengemban citra Allah itu.

Ini tidak berarti bahwa teologi bersifat anti kekuasaan. Namun demikian, pemanfaatan kekuasaan haruslah mengacu kepada Sang Pemilik dan sumber segala kekuasaan.

Douglas Elwood, menjelaskan sebagai  berikut, “Kekuasaan yang dipakai Allah untuk menegakkan Hak Asasi Manusia di dalam sejarah mesti dipahami secara hakiki sebagai timbal-balik dan persuasif. Kedaulatan Allah di dalam sejarah adalah kuasa kasih yang penuh kesabaran, penuh kemurahan hati dan persuasif, (kuasa) yang memampukannya. Allah menjalankan kedaulatanNya atas kita secara persuasif lebih dari koersif, secara timbal-balik daripada secara sepihak, secara rekonsiliatif daripada melalui konfrontasi yang menimbulkan pertentangan, dengan kuasa cinta bukan cinta kuasa”.

Jadi, pemanfaatan kuasa yang ada pada manusia harus mencerminkan pemanfaatan kuasa oleh Allah sendiri, dan di sinilah kekuasaan yang ada pada manusia itu memperoleh legitimasinya. Salah satu hak yang paling asasi yang dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia, sesuai dengan hakikatnya sebagai citra Allah, adalah KEBEBASAN.

Tanpa kebebasan, manusia menjadi tidak lebih dari batu, hewan atau tanaman. Bukan pembatasan untuk pembatasan itu sendiri. Skenarionya adalah, apabila kebebasan itu tidak diatur dan dibatasi, maka kebebasan yang kuat akan menindas kebebasan yang lemah. Tanpa diatur dan dibatasi, maka kebebasan yang ada pada ketidak-persamaan manusia akan mengancam kesamaan (equality) manusia.

Bila demikian, maka implikasinya pun menjadi amat jelas. Kebebasan yang kuat itulah yang harus secara amat khusus diatur dan dibatasi untuk melindungi kebebasan mereka yang lemah.

Bukan sebaliknya. Walaupun pembatasan itu tentu saja juga harus diatur dan tidak boleh semena-mena, tetapi ini bukanlah pelanggaran Hak Asasi Manusia melainkan justru untuk menegakkan Hak Asasi Manusia.

Sebab, siapakah sebenarnya yang paling berkepentingan mengenai Hak Asasi Manusia ini, bila bukan mereka yang kecil, yang lemah, yang tak berdaya? Kepada merekalah, kata TUHAN, kita harus berpihak. Sebab sebagaimana yang pernah dikatakan, “Meskipun Dewi Keadilan itu digambarkan buta, kepada yang lemahlah ia berpihak”

Hak asasi Manusia adalah obyek yang harus dihormati, tapi manusia adalah sebagai subyek yang menghormati. Sebagai obyek ia memiliki hak dihromati dan sebagai subyek ia memiliki kewajiban asasi menghormati.

Jika demikian, maka Tuhan adalah sentral dalam konsep Hak Asasi Manusia. Untuk itu kita perlu belajar dari nalar Thomas Wall. Dalam bukunya “Thinking Critically About Philosophical Problem” ia membuat tiga klause kondisional yang merupakan konsekuensi-konsekuensi.

Pertama, jika kita percaya pada Tuhan maka hidup ini memiliki makna dan tujuan.

Kedua jika kita percaya pada Tuhan maka standar moralitas itu berasal dari Tuhan dan bukan kesepakatan manusia (human convention).

Ketiga, jika kita percaya pada Tuhan maka ilmu pengetahuan itu tidak hanya empiris tapi juga yang non-empiris. Jika kita ikuti konsekuensi yang pertama, maka Hak Asasi Manusia harus di kaitkan dengan tujuan hidup yaitu untuk menyembah Tuhan.

Tuhan tentu tidak mungkin hanya memberi hak kepada manusia, Ia pasti memberi perintah dan kewajiban. Disini manusia ternyata tidak hanya memerlukan hak, tapi juga kewajiban asasi.

Untuk konsekuensi kedua, standar baik buruk yang boleh dan tidak boleh dikerjakan oleh manusia adalah dari Tuhan. Jika pun manusia merasa bisa menemukan sendiri standar baik buruk itu, standar itu tidak boleh bertentangan dengan perintah Tuhan.

Jika konsekuensi ketiga harus diikuti, maka segala realitas empiris yang bersifat fisik harus dinilai secara metafisis. Jika demikian maka setiap benda itu harus dihitung sebagai ciptaan Tuhan dan berhak untuk menerima haknya.

Alam, hewan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya berhak untuk diperlakukan dengan seksama dan bijaksana. Umumnya Hak Asasi Manusia diartikan sebagai asas memperoleh empat hal yaitu hak berbicara dan hak menyatakan pendapat, hak memeluk agama dan beribadah dan hak kebebasan dari kemiskinan.

Kewajiban Asasi Manusia adalah menghormati orang yang menggunakan hak-hak tersebut. Jadi Hak Asasi Manusia mestinya tidak terpisahkan dari Kewajiban Asasi Manusia.

Kasus-kasus yang terjadi di dunia ini ternyata tidak mengikuti logika. Mereka seperti tidak mengerti bahwa kebebasan manusia dibatasi oleh kebebasan manusia lainnya. Mengapa ini bisa terjadi? Jawabnya mudah, yaitu karena Hak Asasi Manusia yang mereka gunakan itu sudah terlepas dari Tuhan. HAM tidak lagi untuk ibadah dan taat pada Tuhan, tapi hanya untuk kehormatan, kebebasan, dan ambisi manusia.

Hak Asasi sekuler ini akhirnya melupakan Kewajiban Asasinya. HAM yang tujuan awalnya untuk menyelamatkan manusia, akhirnya atas nama HAM membunuh jutaan manusia. Jan Materson (dari komisi HAM PBB), benar ketika menegaskan bahwa tanpa HAM manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia.

Semoga dengan tulisan ini kita dapat memahami bersama mengenai Prespektif HAM dari aspek Teologis mengetahui karya Allah yang sudah di kerjakan dalam dunia ini. (*Penulis adalah Advokat di LBH Papua Justice & Peace Kabupaten Keerom)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*