Calon Tunggal Yang Tak Tertandingi

Calon tunggal tidak selamanya buruk, tetapi demi menyelamatkan demokrasi yang menganut system multipartai, semestinya kita surplus calon pemimpin, tapi pada prakteknya partai politik lebih memilih cari aman, alih – alih mempersiapkan kadernya untuk jadi pemimpin, partai politik lebih tergoda ikut arus utama mendukung figure yang kuat dalam popularitas, elektabilitas, dan isi tas (finansial) dan cenderung mengesampingkan moralitas, kapasitas, dan intelektualitas

 

Oleh    : Nasarudin Sili Luli

Jika dilihat dari pola, Pilkada yang dihelat dengan hanya satu kandidat saja umumnya diikuti oleh petahana. Kandidat ini umumnya memiliki modal popularitas dan elektabilitas yang amat tinggi. Petahana-petahana tersebut kerap kali unggul telak pada berbagai survei jelang Pilkada.

Baca Juga:  “TANAH ULAYAT KAMI HANYA DI HARGAI SERIBU RUPIAH PER HEKTAR”

Popularitas petahana yang demikian tinggi membuat posisinya sulit dijungkalkan. Di atas kertas, petahana-petahana tersebut akan menang mudah melawan kandidat manapun. Disinyalir inilah yang membuat kandidat lain enggan mendaftar dan bertarung melawan mereka.

Umumnya basis dukungan publik begitu kuat bagi petahana tersebut. Dukungan publik cenderung mengarah kepada satu nama saja. Akan bertambah sulit lagi jika petahana tersebut memiliki segudang prestasi atau jarang diterpa isu miring.

Parpol-parpol juga memperhitungkan kondisi tersebut. Ketimbang berjudi lalu babak belur dengan kandidat baru, mereka cenderung lebih senang mendukung calon yang lebih populer. Oleh karena itu, banyak parpol yang akhirnya bersekutu mendukung petahana yang menjadi calon tunggal atau tidak mendukung kandidat manapun.

Baca Juga:  DEMOKRASI “NOKEN” PERSPEKTIF LIVING LAW SYSTEM

Kondisi ini menjadi penanda bahwa mesin partai tidak berjalan dengan baik. Kaderisasi parpol tidak berhasil memunculkan nama-nama baru yang dapat menyaingi kandidat petahana. Dalam konteks ini, parpol gagal menghasilkan kandidat mumpuni dengan popularitas setara dengan petahana.

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*