Dituding Jadi Timses Salah Satu Kandidat, Ini Bantahan Kadinkes Papua

Bakal Calon Gubernur, John Wempi Wetipo (JWW) terlihat akur berangkulan dengan drg. Aloysius Giay, M.Kes di RSUD Dok II Jayapura, Jumat (12/1/2018) kemarin. (Foto : ist)

 

LINGKARPAPUA.COM,JAYAPURA— Bakal Calon Gubernur Papua, John Wempi Wetipo (JWW) mempertanyakan alasan digunakannya RSUD Dok II Jayapura sebagai tempat dilangsungkannya tahapan pemeriksaan kesehatan Bakal Calon Gubernur – Wakil Gubernur Papua Periode 2018 – 2023, karena JWW meragukan independensi dan netralitas Pjs. Direktur RSUD Dok II yang juga sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Papua, drg. Aloysius Giay, M.Kes.

Bahkan JWW terang – terangan menuding bahwa Kadinkes Papua tersebut adalah Tim Sukses (Timses) bakal pasangan calon Lukas Enembe – Klemen Tinal yang saat ini menjabat sebagai Gubernur – Wakil Gubernur Papua, yang merupakan atasan langsung Kadinkes Papua.

“saya menilai ada kejanggalan tes kesehatan dilaksanakan di RSUD Jayapura, sebab, itu rumah sakit pemerintah dan dalam kendali Provinsi Papua, belum lagi (Plt) Direktur RSUD Jayapura saat ini merupakan Kadinkes Papua, yang juga Tim Sukses dari petahana Lukas Enembe-Klemen Tinal, jadi tidak independen”, kata JWW usai menjalani sesi tes urine di kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Papua di Aryoko, Jayapura, Kamis (11/1/2018) kemarin.

Dimana tudingan JWW tersebut rupanya di dasarkan pada sebuah video berdurasi 1 menit 7 detik yang beredar di social media berisi orasi drg. Aloysius Giay yang memuji – muji dan menyampaikan kekagumannya terhadap sosok dan figure ‘atasannya’ itu sebagai salah satu tokoh Papua yang tidak bisa di kalahkan dan tidak ada tandingannya.

Baca Juga:  Hujan Seharian, Banjir Melanda Dua Distrik di Kabupaten Teluk Bintuni

“Kenapa KPU tidak mengambil RS Marthen Indey, RS Bhayangkara, RS Angkatan Laut atau Dian Harapan, juga kenapa yang memeriksa tim Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kok yang mempublikasi nantinya KPU, kenapa bukan IDI”, kata JWW lagi menduga bahwa tes kesehatan yang dilakukan hanya menjadi formalitas saja.

“harusnya tes kesehatan dilakukan secara ketat, di rumah sakit yang independen, saya ingin Pilkada di Papua, kita memberikan pembelajaran politik yang sehat dan yang benar untuk rakyat, jangan membuat rekayasa, kalau rekayasa pasti tak akan bertahan lama”, kata JWW lagi berharap tim dokter dari IDI benar – benar bekerja secara professional, dan jujur serta transparan mengumumkan hasil pemeriksaannya secara langsung kepada public, karena semua dokter sudah punya sumpah janji sehingga tidak boleh berbohong.

Menurutnya, bila KPU yang mengumumkan hasilnya tentunya beban moril para dokter juga tidak ada, namun demikian JWW berharap KPU benar – benar transparan dan independen untuk umumkan hasil pemeriksaan kesehatan, apa adanya, tidak boleh menuutpi bila ada kandidat yang di nilai memiliki riwayat penyakit atau tidak sehat.

Terkait tudingan tersebut, Kadinkes Provinsi Papua, drg. Aloysius Giay, M.Kes kepada sejumlah wartawan, Jumat (12/1/2018) dengan tegas membantah hal tersebut.

Baca Juga:  Bila Lolos Verifikasi Faktual, Ada 14 Bakal Calon Independent Berpeluang Berlaga di 6 Kabupaten di Papua Pada Pilkada 2018

“Itu acara suku adat Mee, jadi bukan kampanye, saya sebagai perwakilan Kepala Suku Besar Mee saat berlangsungnya acara adat di Sentani beberapa waktu lalu, jadi, saat itu kami antar makanan, sayur dan sebagainya kepada masyarakat, jadi tidak ada hubungannnya dengan institusi (ASN) atau sebagainya, itu acara adat sebelum deklarasi atau sebagainya”, tegas drg. Aloysius Giay, di sela – sela memantau tahapan pemeriksaan kesehatan bakal calon di RSUD Dok II Jayapura, Jumat (12/1/2018) kemarin.

Menurut Aloysius Giay, video yang beredar itu merupakan kegiatan adat di Kabupaten Jayapura sebelum adanya deklarasi Lukas Enembe, dimana kegiatan tersebut murni acara adat dan tidak ada sangkut pautnya dengan Pilkada mauapun kampanye kandidat.

Menyangkut materi orasinya yang terekam dalam video berdurasi 1 menit 7 detik, yang menyebutkan bahwa ‘tidak ada satu orang maupun mahluk hidup di tanah ini yang dapat melawan Lukas Enembe’, menurut Aloysius Giay tidak ada hubungan dengan statusnya sebagai ASN ataupun Kadinkes Provinsi Papua apalagi sebagai tim kampanye salah satu kandidat.

“itu ungkapan kekaguman saya terhadap sosok Lukas Enembe, dan saya berbicara dalam acara adat dan kapasitas saya sebagai Penasehat suku MeePago, dan saya tidak ada mengeluarkan pernyataan untuk memilih, atau tidak memilih salah satu kandidat”, kata Aloysius Giay lagi.

Baca Juga:  Mengulik ‘Kuda Jepang’ Tunggangan Pak Presiden di Puncak Habema

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua itu menegaskan bahwa dirinya secara institusional maupun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) tetap netral dalam penyelenggaraan Pilgub Papua 2018

“Dua pasangan calon Gubernur, Lukas Enembe dan John Wempi Wetipo merupakan saudara saya dan mereka merupakan putra terbaik Papua yang akan maju untuk membangun Papua yang lebih baik lagi kedepannya, jadi saudara saya semua, saya netral”, kata Kadinkes Papua.

Terkait penggunaan fasilitas RSUD Dok II yang dikhawatirkan tidak independensi karena dirinya sebagai penanggung jawab, sehingga bisa saja tidak mempublikasikan kondisi kesehatan para bakal calon yang sebenarnya juga dibantah oleh Aloysius Giay.

“RSUD Dok II hanya memfasilitasi tempat dan peralatan, sedangkan yang melakukan pemeriksaan kesehatan itu adalah Ikatan Dokter Indonesia (IDI), jadi tidak mungkin saya mempengaruhi hasil pemeriksaan, karena mereka semua dokter ahli senior yang punya kode etik, jadi tidak usah ragukan netralkitas saya”, kata Aloysius Giay lagi.

Terkait video durasi 1 menit 7 detik yang beredar dan juga diterima lingkarpapua.com, terekam drg. Aloysius Giay bersama salah satu pejabat teras Pemerintah Provinsi Papua lainnya yang juga berasal dari Mee Pago, dimana dalam video tersebut drg. Aloysius Giay, selaku Penasehat suku Mee di Kabupaten Jayapura menyampaikan orasi yang mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Lukas Enembe.

Hingga kini belum di ketahui siapa yang merekam kegiatan tersebut dan mengeditnya lalu menyebar luaskannya ke beberapa orang bahkan di social media sehingga menjadi viral. (***)

Reporter         : Titie
Editor             : Walhamri Wahid

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*