JWW-HMS Membaca Headline Freeport & Koroway

Ilustrasi kontradiktif Papua, wabah diatas kekayaan alamnya. (Foto: Diolah, berbagai sumber)

Politik adalah persepsi, bagaimana persepsi media, sedikit banyak akan menjadi rujukan bagi persepsi public terhadap electoral seorang kandidat, semua kembali kepada masing – masing kandidat bagaimana memanfaatkan persepsi yang terbentuk menjadi sebuah ‘senjata’ dalam sebuah pertarungan politik yang sehat tentunya.

 

Oleh : Lamadi de Lamato*

Beberapa hari ini John Wempi Wetipo (JWW) – Habel Melkias Suwae (HMS) disuguhkan dua headline, satu tentang prestasi petahana di Freeport, satu lagi tentang kematian yang menimpa masyarakat pelosok di Asmat.

Koran terkemuka Jayapura, Cepos menjadikan berita sukses petahana sebagai berita utamanya, dihari yang sama Kompas sebagai koran terkemuka di NKRI memunculkan gambar keprihatinan yang terjadi di Korowai, Asmat Papua, 250 juta lebih populasi orang NKRI yang berada diseluruh kota besar yang membaca berita ini tentu akan trenyuh dengna kondisi kesehatan yang ada di negeri sangat kaya SDA ini.

Baca Juga:  Boy Rafli Amar, 16 Tahun Lalu Pergi Sebagai Kabagserse Umum, Hari Ini Kembali Sebagai Kapolda Papua

Apakah berita yang turun secara bersamaan ini settingan atau kebetulan? Bila settingan maka ini sangat berkaitan dengan pertarungan simbol politik Pilgub 2018 antara Jakarta yang identik dengan JWW-HMS dan Patahana.

Jakarta punya amunisi melalui opini ini utk memperkuat JWW-HMS yang nota bene kadernya. Mereka ini tidak usah di dikte karena rumus mereka untuk menang ada 1001 cara.

Headline tentang Freeport di Cepos juga tidak kalah heboh, seluruh pendukung petahana sangat gembira dengan prestasi 10 persen saham untuk Papua, sebuah prestasi karena dari tahun 1964, Freeport hanya sumbang “ampas” untuk Pemerintah Provinsi, dan di era petahanalah yang didukung pemuda adat, Pemerintah Provinsi dibawah petahana sukses membawa Freeport memberi manfaat bagi Papua.

Baca Juga:  Gara – Gara Internet Ngadat, UNBK Pada Dua SMA Ini Molor !

Betulkah saham 10 persen itu adalah berkah buat Papua? Pendukung petahana yang juga pengamat politik, Marianus Yaung justru melihat saham 10 persen untuk Papua adalah jebakan yang dapat menciptakan kekerasan baru di Tanah Papua.

Dalam statusnya, ia menggunakan kata “khawatir” dalam merespon headline Cepos tersebut, kosa kata khawatir sama dengan tidak percaya 100 persen bila saham 10 persen yang diperoleh petahana adalah berkah melainkan bencana.

Dari dua headline itu pertarungan “tipis tipis” terlihat mulai eksesif, simbol petahana yang sangat local electoral dalam berbagai statusnya sangat bangga sekali, sementara Kompas yang menginternasional menyorot sisi kemanusiaan di Papua dalam gambar yang pedih yang merenggut nyawa di Korowai.

Baca Juga:  Demokrat Terganjal Ketidakhadiran Lukas Enembe, Hanura Terhambat KTA Hengky Kayame

Suara kritis dimana peran petahana dalam kasus ini tidak muncul di publik. Kenapa tidak muncul ? Ini tahun politik dan isu sensitif Koroway bisa memantik distrust dan electoral untuk petahana.

Untuk alasan ini, JWW-HMS dan pendukungnya sebaiknya terus bekerja dan membaca bahwa politik itu adalah persepsi. Persepsi di media lokal dan nasional tentang apapun tentang petahana dan Papua sangat berkaitan dengan electoral di Pilgub. JWW-HMS jadilah pembaca opini yang baik bila anda ingin Jakarta mensupport anda dengan total !!! *(Penulis adalah Penulis buku dan pengamat masalah – masalah social politik di Papua)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*