Adam = Asal dari Mapia ? (Sebuah Epilog)

ilustrasi

Yang diambil dengan pendapat, selayaknya dipertahankan dengan pendapat sambil tekun meningkatkan pendapatan, Irian Jaya diambil melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera),  namun selama Orde Baru dipertahankan dengan membungkam rakyat dengan aneka kekerasan untuk menebar rasa takut.

Oleh    : Abdul Munib*

Kami bertemu setelah sepuluh tahun sejak masa-masa kebersamaan mendirikan koran Harian Papuapos Nabire.  Dia sudah lama pesan untuk menghubunginya jika saya ke Nabire.

Di kantor redaksi yang sederhana di kawasan Kelurahan Morgo dia menyerahkan naskah Mapia. Saya lihat dan saya pegang, cukup tebal. Saya sudah 25 tahun di Papua menyemangati generasi baru Papua dengan tradisi menulis. Engel adalah salah satunya, saya selalu berseloroh bahwa yang diambil dengan pendapat, selayaknya dipertahankan dengan pendapat sambil tekun meningkatkan pendapatan rakyat.

Irian Jaya diambil melalui Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat),  namun selama Orde Baru dipertahankan dengan membungkam rakyat dengan aneka kekerasan untuk menebar rasa takut.

Melalui menulis seseorang dapat mengemukakan yang husuli (representative) dan yang huduri (presentatif) ke dalam narasi. Menguji mana hal yang i’tibari (metaphor) rekaan benak semata dan mana yang hakiki.

Apa yang ilmiah telah dibajak oleh definisi apa yang tereksperimentasi. Sementara Firdaus adalah hal yang  lebih banyak difahami sebagai yang immatetial (metafisika). Apakah sama Firdaus dimana Adam pernah tinggal dan surga tempat kembali orang baik ?

Adalah filsafat metafisika yang memiliki konsep bahwa segala wujud (eksistensi) harus memiliki turunan (tajalli) di alam materi, sehingga Firdaus pun selayaknya ada manifestasinya di alam materi.

Hanya saja letak kesulitannya adalah ketika segala ketinggian eksistensi termanifestasi ke dalam manusia bukan pada sebuah taman yang nota bene tidak berakal. Tapi sebuah pertanyaan selalu layak untuk diajukan : bagaimana jika Firdaus itu ternyata Mapia? Adalah mungkin Adam itu asal dari Mapia. Atau Adam orang dituakan dari Mapia ?

Adam adalah kepala suku pengganti yang akan memimpin atas makhkuk berakal : jin dan manusia pada saat itu. Etimologis kata kholifah, pemimpin berikutnya. Pemimpin penganti ini memiliki banyak kelemahan. Seperti bahan bakunya tanah liat. Tanah tabiatnya lebih padat, lambat dan memiliki potensi keadaan tergelapnya.

Tak ayal para malaikatpun mempertanyakan hal itu : Apakah Engkau akan menjadikan khalifah makhluk yang suka menumpahkan darah dan bikin kerusakan. Iblis diduga kepala suku lama, yang merana dan galau. Post power sindrom melanda dirinya, hingga ia mangkir dari perintah Tuhannya untuk sujud hormat kepada Adam. Dan ia menganggap tindakannya itu benar.

Baca Juga:  Ini Jawaban KPU RI Atas Tarik Ulur Kewenangan KPU Papua dan Pansus Pilgub

Tuhanpun akhirnya mengutuknya. Dan ia pun meminta surat rekomendasi untuk boleh menjadi pengganggu Anak Adam, lalu Tuhan pun memberinya.

Misteri lokasi Firdaus sama dengan misteri galangan kapal Nabi Nuh. Terdampar di Gunung Judi Ararat di Turki, Safinah atau perahu Nabi Nuh tidak diketahui dimana dia dibuat ? Sebagian meyakini galangan itu ada di Jawa karena kayu jati sebagai bahan kapal hanya terdapat di Jawa.

Ditemukannya Situs Gunung Padang,  Cianjur yang usianya berkisar 9 ribu sampai 12 ribu tahun sebelum Masehi, membuyarkan asumsi Adam yang ditaksir 6 ribu tahun sebelum Masehi.

Iblis,  menurut Al Quran dalam surat Kahfi, adalah dari bangsa jin, Wahuwa minal jinni. Entitas yang berbahan baku bakaran api. Sedangkan Adam dari bahan baku tanah. Keapian dan ketanahan adalah dua mahiah (esensi) yang berbeda.

Namun keduanya, jin dan manusia memiliki kesamaan dari sudut taklifiyah yang diseru oleh syariat karena keduanya adalah makhluk berakal. Karena adanya akal lah,  agama Tuhan diturunkan, para Nabi diangkat dan dilantik.

Beda dengan Teori Evolusi Carles Darwinm dalam teorinya dia hendak menyambungkan antara kebinatangan dan keberakalan manusia. Teorinya semuskil pertanyaan apakah ada jeda waktu antara Tuhan sebagai sebab sempurna dengan semesta sebagai akibat ? Apakah ada dinding batas terakhir bagi langit paling luar atau tidak ada ? Kalau ada,  ruang apa di balik dinding itu ? Kalau dijawab langit tak terbatas, berarti ada selain Tuhan yang tak terbatas?

Dalam Al Quran,  menanggapi pihak yang tidak percaya perawan Mariam melahirkan seorang bayi, Tuhan mengemukakan penjelasan keterciptaan Adam. Bahwa tamsil Isa sama dengan tamsil Adam,  keduanya tak diadakan melalui reproduksi yang pada umumnya manusia.

Kini manusia sudah sampai pada teknologi reproduksi kloning. Mereka lakukan itu pada kera dan kambing. Kepada manusia? Apakah manusia akan berhenti disini ? Apakah hal ini akan menjadi ujung dari tabiat rasa ingin tahu ? Jika nekad terjadi kloning atas manusia dan itu berhasil, apakah manusia yang dihasilkan dari sistem teknologi kloning itu menghasilkan manusia secerdas pembuatnya, atau lebih bodoh atau lebih pintar ?

Banyaknya pertanyaan yang tak bisa terjawab adalah ciri khas sangat luasnya samudera rahasia ilmu Ilahi dan pengetahuan kita hanya tetes kecil saja.

Kitab suci lah timbangan paling teratas bagi tangga naik pertanyaan dan jawabannya. Panca indera alat awal untuk menjawab entitas yang terindera. Pengetahuan alat kedua untuk menjawab pertanyaan yang muncul dari subjek-subjek terminologisnya.

Baca Juga:  Sarmi dan Mappi Ditolak, Tolikara PSU, Intan Jaya Rekapitulasi Penghitungan Suara Lanjutan

Dataran epistemologis ini adalah kamar-kamar ilmu dari kepingan puzzle subjek bahasan yang berserak. Filsafat adalah kumpulan konsep-konsep untuk meningkatkan kepahaman pada eksistensi (wujud), realitas tunggal. Konsep-konsep filosufis yang nanar atau silau menatap maha kuatnya pancaran wujud,  seperti dengan lilin kita hendak menjelaskan matahari. Lalu para sufi asketis mengambah jalan panjang mistisisme menggapai-gapai puncak gunung penyaksian sejati atas hakikat segala sesuatu sebagaimana apa adanya yang sesungguhnya,  mengalami kemelarutan : Keadaan yang sebenarnya, merontokan seluruh kesan yang dicapai alat-alat pengetahuan tersebut diatas.

Para sufi bicara gagap, tak mampu menjelaskan apa yang telah dicapainya. Kata-kata yang dimiliki oleh benak bahasanya terlalu terbatas untuk dapat mengikat keagungan makna yang telah dicapainya. Hanya terdampar di jejak-jejak narasi Fusus Alhikam dan Futuh Al Makiyah milik Muhyiddin Ibn Arabi. Dilanjutkan oleh naskah para sufi penyair seperti Rumi.

Ibarat sebutir telur yang terdiri cangkang paling luar dan rahasia kehidupan yang tersimpan di dalamnya,  kitab suci juga memiliki dimensi terluar dan dimensi terdalam yang tak tersentuh oleh manusia kebanyakan.

Titik start dimulai dari kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa mampu atas segala sesuatu tapi, tidak seluruh yang Dia kuasa kemudian Dia kehendaki. Segala keberadaan di dalam smesta ini adalah yang dikehendaki Dia semata.

Tak ada satupun keberadaan atas kehendak selainNya. Kehendak disini dimaksudkan untuk sistem hukum determinase atau keterpaksaan. Semua keberadaan tersisip di dalamnya hukum kauniyah ini. Bersamaan dengan adanya akal turunlah syariat. Agama Tuhan yang dibawa nabi-nabi mengiringi waktu demi waktu peradaban manusia. Kita hidup di era telah lengkap dan sempurnanya syariat.

Manusia pertama adalah seorang Nabi. Semua manusia, ditinjau dari titik ini, adalah keturunan Nabi. Hanya saja tak cukup modal keturunan saja. Syariat pertama pada manusia adalah Jangan Mendekati Sebatang Pohon. Syariat terakhir pada jin adalah Sujud Hormatlah pada Adam,  Sang Kepala Suku pengganti, dan syariat jin sejak itu ikut syariat manusia.

Iblis salah satu kepala suku jin, membangkang perintah dan seterusnya ia akan bersekutu dengan manusia yang melawan syariat. Syariat adalah yurisprudensi langit bagi umat manusia berlaku bagi semua yang berakal.

Di wilayah makhkuk berakal ada dahan kehendak bebas, sebuah kebebasan terkait menerima dan menolak syariat tapi tidak dari kehendak kauniyah tadi.

Baca Juga:  Hari Pers Nasional, ‘Presiden Yusri’ Dapat Sepeda dari Presiden Jokowi

Firdaus dimana Adam tinggal dan dilarang mendekati sebuah pohon, berada di perjalanan hierarki menurun. Sampai Adam diperintah turun ke Bumi, berada di dimensi dunia seperti kita sekarang ini.

Dari dimensi hierarki terendah alam dunia ini, oleh karena ilmu dan amal, seseorang memasuki perjalanan hierarki menaik melewati maqam-maqam istiqmal yang berproses menuju tangga penyempurnaan.

Inilah perjalanan proses aktualisasi, bertolak dari dunia sebagai realitas potensi. Walhasil pada saat Adam ditaklif untuk jangan mendekati sebuah pohon, umatnya hanya satu orang yakni Hawa yang adalah isterinya.

Dalam kata pohon atau sajaroh, yang ada dalam teks kitab suci baik Al Quran maupun Injil, para mufasirin banyak perbedaan tafsir. Apakah itu makna unum, makna khusus atau metafora.

Apakah untuk punya pengetahuan baik dan buruk manusia harus menerjang larangan Tuhan terlebih dahulu? Tentu maksudnya bukan begitu. Ada yang menafsirkan bahwa buah dari pohon itu adalah makna hakikinya keserakahan.

Ada yang menafsirkan bahwa kesalahan Adam bukan seperti kesalahan kita manusia awam yang melakukan maksiat. Melainkan Adam menginginkan suatu maqam yang bukan maqamnya. Terbersitnya keinginan seperti itu di diri seorang Nabi adalah sebuah ketergelinciran karena masih gelapnya kebodohan atas cahaya hakikat.

Setelah Adam membaca sebuah kalimat dan membacanya secara sempurna maka Tuhan menerima taubatnya.

Nabi adalah pangkat yang diberikan langit kepada manusia yang hirarki substansi jiwanya mencapai pada kelayakan tertentu yang tidak dicapai manusia awam. Syariat sejak Nabi Adam,  dan kenabian sejak Nabi Adam sekarang sudah tamat.

Tapi umat manusia belum tamat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tak meniscayakan mereka dapat mendeteksi Firdaus yang Engelbert potret memakai kamera mitologi yang dimiliki oleh sukunya di Mapia, Papua.

Engel menampilkan keidentikan yang ia temukan dalam terminologi mitologi sukunya dan sebuah cerita di Kitab Kejadian di Injil. Dalam Mapia, warna dan diskripsi sangat kuat sekali. sehingga sisi batiniyah Orang Mee Mapia ditampilkan dengan amat eksotis.

Mitologi biasanya terbangun dari tradisi tutur yang hendak menanamkan atau memperkenalkan suatu karakter dan dimensi mistis suatu kaum.

Dari semua catatan tadi,  kita dapat tarik kesimpukan bahwa memahami Papua yang beragam suku memiliki banyak jendela. Engel telah membukakan satu untuk kita lewat Mapia. Terimakasih. *(Penulis adalah Ketua PWI Papua, Pemimpin Redaksi lingkarpapua.com)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*