Anies Baswedan, Bukan Jokowi di Pilpres 2019 ?

Anies Baswedan dan Joko Widodo. (Foto : dok.pepnews.com)

Survey lembaga kredibel sudah keluar dalam memprediksi Pilpres 2019. Jokowi masih yang tertinggi tapi ia tidak bebas celah untuk ditelikung dan tumbang dari nama – nama baru seperti Anies Baswedan, AHY, Ridwan Kamil serta nama petarung senior Prabowo Subianto.

Oleh    : Lamadi de Lamato*

Lembaga survey politik sudah merilis tokoh- tokoh dengan potensi sebagai pesaing besar untuk menjadi penantang “tangguh” calon petahana RI, Jokowi. Dalam berbagai hasil survey, CSIS, Indo Barometer, Denny JA dll, Presiden Jokowi masih yang tertinggi diantara sekian nama tokoh baru yang di survey termasuk penantang rematch, Prabowo Subianto.

Jokowi memiliki kelemahan dalam beberapa isu yang bisa di eksplorasi lawannya dalam menumbangkan petahana kolaps. Jokowi punya titik lemah di pemilih muslim yang mayoritas serta beberapa isu terkait pertumbuhan ekonomi yang lambat, membanjirnya TKW di dalam negeri serta yang terakhir tentang Papua dan gizi buruk di Asmat, Jokowi di identikan dengan rezim anti ulama dan islam.

Jokowi juga disebut pro China yang ditunjukan dengan investasinya serta membanjirnya tenaga kerjanya di NKRI serta perlambatan ekonomi yang berdampak pada minimnya lapangan kerja baru. Terobosan Jokowi seperti pemimpin yang merakyat, blusukan dan sejumlah prestasi lain dianggap nihil tidak berbekas. Hujan sehari menghilangkan panas setahun, begitulah menggambarkn apa yang dikerjakan Jokowi har ini.

Baca Juga:  Hari Ini Panglima TNI Menuju Asmat, Tiba Timika Rabu Malam Langsung Minta Laporan Dulu

Betulkah Jokowi akan tumbang di Pilpres 2019 ? Dan siapa tokoh alternatif yang mampu menyaingi elektabilitas Jokowi yang tinggi tersebut ?  Beberapa nama baru dengan indikator isu di atas identik dengan Anies Baswedan (Gubernur DKI), Agus Harimurty Yudhoyono (putra mantan Presiden Ke- 6, SBY) dan Ridwan Kamil (Walikota Bandung) serta nama lama Prabowo Subianto (Pendiri Gerindra).

Yang menarik nama Anies Baswedan berada di peringkat tertinggi lawan Jokowi di Pilpres 2019. Anies identik dengan massa islam saat ia “mempencundangi” Ahok kalah plus masuk bui. Anies pun setelah jadi Gubernu DKI ia sukses memperluas basis politik melalui persepsi sebagai tokoh yang pro rakyat kecil dan pribumi.

Kendati di kritik dan dicemooh, Anis adalah Gubernur pertama yang mengizinkan becak dan PKL memiliki “hak istimewa” di ruang – ruang ekslusif dan tabu buat kaum pinggiran di NKRI. Kawasan elit Jakarta seperti Sudirman bebas dipakai sebagai daerah operasi becak dan PKL menjadi contoh bahwa Anies identik dengan massa Islam dan kaum proletar di NKRI.

Anies Baswedan memang “dicaci maki” dalam Pilgub DKI karena ia mampu mendompleng isu agama dan unggul diluar prediksi para lembaga survey yang sejak awal sudah memenangkan Ahok sebagai calon dengan elektabilitas fantastis. Tapi sejarah berbicara lain karena Anies-Uno yang justru menang melalui serangkaian isu agama dengan tensi tinggi dan nyerempet – nyerempet bahaya.

Baca Juga:  KLB Asmat dan Setumpuk Persoalan Papua, Tanggung Jawab Siapa ?

Sebagai alumnus Doktor Amerika, Rektor Universitas Paramadina dan mantan aktifis mahasiswa, Anies Baswedan lebih komplit dan sarat pengalaman dalam membaca politik dan mendesainnya dalam berbagai literatur dan aksi yang cerdas.

Saat Anies disebut tokoh intoleran karena kasus kekalahan Ahok di DKI,  Anies tidak perlu membantahnya karena latar belakangnya tidak punya jejak intoleran.

Anies lulusan Amerika, sebuah negara dengan pemikiran yang inklusif sehingga tidak mungkin terjadi, Anies juga mantan Rektor Paramadina; sebuah Universitas Islam dengan visi menggabungkan islam dan pengetahuan modern. Dan pendiri Universitas ini adalah Nurcholis Madjid, seorang ilmuwan muslim berhaluan barat dan Eropa.

Dari latar belakang itu, elektabilitas Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI yang sudah identik dengan islam adalah modal Pilpres yang nyata dan membahayakan petahana Jokowi. Anies yang sudah identik dengan massa Islam di DKI dapat membesar seiring dengna antitesa Jokowi yang identik degan rezim anti ulama atau islam.

Anies juga sedang membesarkn isu pro pribumi dan PKL dalam menyaingi Jokowi yang identik dengan Presiden pro blusukan rakyat kecil.

Isu lain yang menjadi kartu truf menggeser Jokowi tumbang dapat di eksplorasi Anies melalui “reshufle” yang berbau pendzholiman. Anies di reshuflle Jokowi sebagai Menteri Pendidikan bisa menjadi isu politik bila di setting sebagai isu electoral dengan mengangkatnya sebagai pendzoliman rezim Jokowi terhadap Anies Baswedan, dengan peta itu, Anies Baswedan akan menjadi lawan berat petahana Jokowi di Pilpres 2019.

Baca Juga:  Tiga Korban Insiden 25 Mei Padang Bulan Masih Rawat Inap di RS Bhayangkara

Suvey lembaga – lembaga kredibel dalam Pemilu selalu keliru tapi akurasi kebenarannya lebih tinggi. Beberapa kali survey memang meleset tapi itu terjadi karena ada politik invisible hand seperti kekalahan Hillary Clinton di Amerika atas Trump karena invisible hand Rusia dalam Pilpres Amerika yang pro Trump. Begitupula kemenangan Anies atas Ahok di DKI karena Saracen yang menggoreng isu intoleransi, dll.

Survey lembaga kredibel sudah keluar dalam memprediksi Pilpres 2019. Jokowi masih yang tertinggi tapi ia tidak bebas celah untuk ditelikung dan tumbang dari nama – nama baru seperti Anies Baswedan, AHY, Ridwan Kamil serta nama petarung senior Prabowo Subianto.

Nama Anies satu- satunya yang berbakat dalam mengesplorasi isu politik Islam, pribumi plus proletar dan di dzholiimi sebagai campaign yang menarik sekaligus nyerempet – nyerempet  bahaya untuk mengalahkan petahana. *(Penulis adalah Direktur Buton Action Network, tinggal di Papua)

Berikan Komentar Anda

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*